Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan di Gunung Merapi

SENIN, 9 MEI 2016

YOGYAKARTA — Upacara adat Labuhan Gunung Merapi kembali digelar, Senin (9/5/2016), pagi. Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu diadakan sebagai rangkaian peringatan ke-27 bertahtanya Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta.

 

Ratusan warga Yogyakarta dan sekitarnya antusias mengikuti jalannya Labuhan Alit Pengetan Jumenengan (Labuhan kecil peringatan bertahtanya) Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta. Prosesi labuhan mulai dilangsungkan tepat pukul 06.00 wib, dengan pengarakan sesaji labuhan. Dipimpin oleh juru kunci atau kuncen Gunung Merapi, Mas Lurah Suraksosihono yang akrab disapa Mas Asih, prosesi pengarakan sesaji diiring pula oleh puluhan abdi dalem lainnya dan bregodo atau prajurit pembawa payung kebesaran.

Dalam keterangannya, Mas Asih mengatakan, labuhan alit atau labuhan kecil merupakan tradisi leluhur Keraton Yogyakarta. Selain untuk melestarikan tradisi dan budaya leluhur, upacara adat labuhan juga diadakan sebagai simbol ungkap syukur atas berkah panjang umur dan kententeraman yang telah diberikan Tuhan kepada Sultan dan seluruh kawula warga Yogyakarta. 

“Dalam prosesi ini juga dipanjatkan doa agar semua diberi berkah kententraman dan panjang umur serta keselamatan”, ujar Mas Asih.

Sebelumnya, labuhan dalam rangka peringatan bertahtanya Sultan HB X juga diadakan di Pantai Parangkusumo pada Minggu, 8 Mei 2016. Dalam filosofinya, labuhan yang digelar di laut dan di gunung, merupakan simbol harapan akan diberinya keseimbangan alam. Gunung melambangkan bumi atau tanah dan laut melambangkan air yang merupakan sumber kehidupan. Dua hal itu harus dijaga keseimbangannya, agar senantiasa memberi keberkahan.

Sementara itu, seluruh rangkaian upacara labuhan di Gunung Merapi juga telah dimulai sehari sebelumnya, dengan penyerahan seperangkat sesaji dan perlengkapannya dari pihak Keraton Yogyakarta kepada juru kunci Gunung Merapi. Sesaji labuhan kemudian disimpan di kediaman juru kunci. Ada pun sesaji Labuhan Gunung Merapi terdiri dari  9 macam barang, yaitu Sinjang Kawung, Sinjang Kawung Kemplang, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga, Semekan Gadung Mlati, Semekan Gadung, Seswangen, Arta Tindih, dan Kampuh Paleng.

Lalu, keesokan harinya, Senin (9/5/2016), sejumlah sesaji itu diarak menuju puncak Gunung Merapi di Bangsal Sri Manganti. Setelah dilakukan prosesi doa yang dipimpin oleh Mas Asih dan pemuka agama setempat, lalu di Bangsal Sri Manganti tersebut dilakukan pembagian nasi berkah. Sementara prosesi pembagian nasi berkah itu berlangsung, seorang abdi dalem diutus naik menuju kawah Gunung Merapi untuk melabuh sejumlah sesaji. Sepulangnya dari melabuh itu, abdi dalem tersebut membawa pulang tiga macam benda. Salah-satunya, lirang atau belerang sebagai bukti labuhan telah dilakukan. Tiga benda tersebut kemudian disampaikan kepada Sultan dan disimpan di Keraton. (Koko)

Lihat juga...