SELASA, 12 APRIL 2016
Jurnalis : Rustam / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Rustam
KENDARI — Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah terbelakang di Kawasan Timur Indonesia (KT), ternyata sejak tahun 2000 mendadak jadi perhatian perhatian para investor level nasional dan internasional.
| Penambang tradisional |
Provinsi Sultra menjadi pusat perhatian nasional dan internasional, bermula munculnya tambang emas yang dikelola rakyat di Kabupaten Bombana pada tahun 1998 hingga tahun 2000. Masyarakat dari berbagai penjuru daerah, mulai dari Manado, Jawa, Makassar, Ambon hingga Papua, datang ke Bombana untuk mendulang emas. Mereka datang dengan membawa peralatan mendulang yang sangat sederhana.
Dengan peralatan tradisional, mulai wajan dan karpet, mereka mendulang emas bersama penduduk asli Kabupaten Bombana. Hasilnya sangat menakjubkan. Dalam sehari bisa memperoleh emas 10 hingga 25 gram. Itu hasil kerjasama kelompok. Produksi hasil tambang bisa lebih 25 gram per hari, asalkan mau bekerja lebih ulet, khususnya dalam menggali tanah yang akan didulang.
| Kerusakan lingkungan dampak penambangan emas di Bombana |
Kabupaten Bombana yang selama ini sepi, mendadak ramai. Hutan belantara Kabupaten Bombana mendadak seperti kota. Aneka jualan dalam hutan dapat dijumpai, bahkan tempat bernyanyi karaoke dapat ditemui di tengah hutan.
Tapi pasca aparat kepolisian bersama Pemerintah Kabupaten Bombana menertibkan tambang emas rakyat pada akhir tahun 1999, perlahan-lahan para pendulang emas menarik diri dari Kabupaten Bombana. Mereka kembali ke kampung asalnya. Maka sejak itu pula, tambang emas Bombana mulai meredup.
Pemerintah Kabupaten Bombana hanya memberi izin menambang emas kepada perusahaan yang berbadan hukum. Kemudian perusahaan tersebut harus mengikuti ketentuan dan prosedur perizinan penambangan. Dampak ketatnya izin tambang, masyarakatpun tersingkir.
Meski tambang emas Kabupaten Bombana sudah redup, tapi muncul jenis tambang lain yang tak kalah menariknya jadi perhatian para pengusaha. Yaitu tambang nikel, aspal, krom dan marmer. Potensi tersebut tersebar di Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka, Kolaka Utara, dan Buton.
| Kampung tambang di Bombana |
Berdasarkan data yang dirilis Burhanuddin, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sultra pada bulan September tahun 2015, cadangan nikel di Sultra sekitar 97.401.593.626 ton, dengan luas potensi pertambangan nikel sekitar 313.788 hektar.
Potensi tambang emas sendiri yang belum maksimal diolah, diperkirakan depositnya 1.125.000 ton yang tersebar di areal seluas 205.400 hektar. Kemudian aspal yang masih tersimpan di Pulau Buton mencapai 3.835.653.120 ton di atas areal 162.160 hektar.
Bila potensi tersebut diasumsikan harga nikel US$ 25 per ton atau Rp 325.000 per ton, aspal curah Rp 480.000 per ton dan emas Rp 500.000 per gram, maka diperkirakan nilainya mencapai Rp 178.067 Triliun.