SABTU, 23 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
LAMPUNG-Tahu dan tempe merupakan makanan tradisional khas Indonesia dengan bahan baku pembuatan dari kedelai. Proses pembuatan tempe dan tahu saat ini banyak dikerjakan oleh pengrajin rumah tangga dengan skala kecil dengan sistem penjualan keliling dari warung ke warung.

Beberapa usaha pembuatan tempe sebagian menjadi usaha keluarga yang dilakukan turun temurun oleh sebuah keluarga. Berbeda dengan usaha pembuatan tempe di beberapa tempat,usaha pembuatan tempe tempat tiga pemuda ini bekerja di Dusun Banyumas Kecamatan Penengahan. Ini merupakan usaha yang ditekuni empat bersaudara ini dan selama empat tahun belakangan.
Ketiga pemuda yang bekerja sebagai pengrajin tempe dan tahu tersebut, yakni Husni (21), Yono (18) dan Dimas (20). Ketiganya mengaku berasal dari daerah Pekalongan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan pemuda lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang selanjutnya merantau bersama sang kakak.
Husni,yang merupakan anak ketiga mengaku sang kakak, Asror (26) yang pernah memiliki pengalaman membuat tempe dan tahu akhirnya memutuskan merantau ke Lampung untuk menekuni pembuatan tempe.
“Kakak sudah pernah kerja membuat tempe sejak putus sekolah lulus SMP di Pekalongan. Setelah beberapa tahun kemudian, memutuskan buka usaha pembuatan tempe dan tahu secara mandiri,” ujar Husni saat berbincang dengan media Cendananews.com sambil menyelesaikan membungkus kedelai yang akan dibuat menjadi tempe, Jumat (21/4/2016)
Keterbatasan biaya yang dimiliki oleh orangtua yang hanya bekerja sebagai buruh tani, membuat empat bersaudara ini, rata rata hanya mengenyam pendidikan SMP. Keahlian membuat tempe dan tahu pun diperoleh sambil bekerja bersama sang kakak. Meski merantau dan melakukan pembuatan tempe jauh dari tanah kelahiran, namun Husni mengaku bisa lebih mandiri untuk berwiraswasta dengan harapan bisa memiliki usaha sejenis kelak di kemudian hari.
Ia mulai bekerja membuat tahu dan tempe sejak pukul 07:00 WIB mulai dari proses penyiapan bahan hingga proses membungkus tempe yang akan didiamkan dalam wadah khusus selama dua hari. Seusai membungkus tempe proses pengolahan tahu dilanjutkan dan dikerjakan secara bersama-sama oleh ketiga saudara ini. Sementara sang kakak selaku pemilik usaha melakukan pengiriman tempe dan tahu yang telah jadi ke sejumlah warung.
Bahan pembuatan tempe dan tahu,menurut Husni membutuhkan sebanyak 50 kilogram kedelai. Sebanyak 30 kilogram untuk pembuatan tempe dan 20 kilogram untuk pembuatan tahu. Kedelai pilihan bahkan didatangkan dari pasar Kalianda dan merupakan kedelai impor dari Amerika yang memiliki karakteristik biji kedelai lebih besar.
“Jenis kedelai impor memang lebih bagus karena setelah direndam dan mengembang kualitas tempenya bagus saat dibungkus dengan plastic. Sementara untuk kedelai lokal memang jarang kita gunakan,,” terang Husni.

Pembuatan tempe oleh pengrajin tempe lain dilakukan menggunakan daun pisang atau daun waru, namun pembuatan tempe yang dilakukan oleh Husni dan beberapa saudaranya tersebut menggunakan plastik ukuran setengah kilogram. Bahan kedelai sebanyak 30 kilogram mampu menghasilkan tempe sebanyak 210 bungkus dengan harga perbungkus di warung Rp 2 ribu. Sementara untuk pembuatan tahu sebanyak 20 kilogram bisa dihasilkan tahu sebanyak 200 buah tergantung besar kecil cetakan.
“Kakak saya selaku bos di sini bertugas mencari pelanggan dan keliling menjual tempe dan tahu ke sejumlah warung dan ke rumah warga sejak pukul lima pagi setiap hari,” ungkap Husni.
Husni mengaku meski merupakan usaha keluarga dan dikerjakan oleh empat orang yang masih saudara kandung, profesionalisme dalam pemberian upah untuk pengrajin tempe dan tahu tetap dijalankan. Sebulan proses pembuatan tempe dan tahu masing masing pekerja bahkan memperoleh upah sebesar Rp1 juta bersih.
“Makan dan keperluan lain sudah disediakan oleh kakak tapi gaji bersih tetap diberikan dan kami gunakan untuk menabung dan untuk keperluan pribadi,” ungkap Husni.
Sang kakak, Asror,mengaku meski diantara saudaranya termasuk dirinya belum ada yang menikah, tapi selaku kakak tertua melatih adik-adiknya untuk mandiri dengan melibatkannya dalam usaha pembuatan tempe dan tahu. Jiwa mandiri ditanamkan, sebab mereka tinggal di perantauan dan hanya mampu bersekolah hingga jenjang SMP.
“Meski hanya tamat SMP malahan kalau saya justru putus sekolah sejak kelas enam SD. N amun saya mengajari adik-adik saya agar mandiri dan tidak meminta dari orang lain,” ungkapnya.
Asror menegaskan di tahun keempat ia meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi pengrajin tempe, ia telah banyak menabung untuk bisa membeli tanah atau rumah. Selama ini ia mengungkapkan produksi tempe dan tahu dikerjakan di rumah kontrakan. Hasil tabungan pembuatan tempe dan tahu diharapkannya bisa digunakan untuk membeli lahan tanah dan rumah, sebelum dirinya memutuskan untuk berkeluarga.(Henk Widi)