RABU, 27 APRIL 2016
YOGYAKARTA — Tim Khusus Ungkap Kasus yang dibentuk guna memburu pelaku teror kekerasan di sejumlah kawasan di Kotagede, Yogyakarta, telah menyasar pada sosok yang dicurigai sebagai tersangka pelaku.

Namun demikian, kecurigaan tersebut masih harus dipertajam untuk memastikan kebenarannya. Petugas bekerja selama 24 jam dalam menyelidiki kasus yang telah membuat resah warga masyarakat di Yogyakarta tersebut.
Kepala Kepolisian Sektor Kotagede, Komisaris Polisi HM Suparman, Rabu (27/4/2016), mengatakan, terkait proses penyelidikan kasus penyayatan yang disebutnya sebagai kasus pembacokan dengan cara disayat, petugas telah berhasil mengumpulkan dan menyingkronkan data-data yang diperoleh berdasar keterangan dari sejumlah saksi dan saksi korban.
Selain itu, petugas juga telah mengamati sejumlah CCTV yang terpasang di kawasan jalan yang diduga menjadi rute pergerakan tersangka pelaku.
“Dari proses itu kita sudah mengarah ke orang yang dicurigai. Juga kendaraan yang digunakan oleh tersangka sudah ada titik terang. Namun, hal itu masih perlu dipertajam lagi”, ungkapnya.
Menurut Suparman, pihaknya juga masih harus menunggu hasil Laboratorium Forensik di Semarang yang memeriksa hasil rekaman CCTV, untuk memastikan gambaran pelaku. Misalnya, plat nomor kendaraan terduga pelaku yang terekam oleh CCTV, belum terbaca jelas sehingga harus dikaji lebih lanjut.
Sejumlah CCTV, menurut Suparman, dikumpulkan dari sepanjang jalan yang diduga dilalui tersangka pelaku saat melakukan aksinya.
Antara lain, di sekitaran jalan Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jalan Tegalgendu, Jalan Pasar Kotagede hingga Lapangan Karang Kotagede yang merupakan kawasan lokasi terjadinya penyayatan yang menimpa seorang siswi Kelas VI Sekolah Dasar Negeri Randusari Kotagede.
Pada prinsipnya, kata Suparman, tim yang dibentuk dan didukung oleh Kepolisian Resort Kota Yogyakarta yang disebut Tim Khusus Ungkap Kasus telah bekerja selama 24 jam sejak peristiwa penyayatan itu terjadi.
Sementara itu, hasil telaah sementara menunjukkan tersangka pelaku teridentifikasi sebagai seorang laki-laki yang mengenakan jaket dan membawa tas di depan, dan mengendarai sepeda motor. Ada pun senjata yang digunakan tersangka pelaku tidak tampak di rekaman CCTV.
“Namun demikian, melihat bekas luka korban, diperkirakan tersangka pelaku melakukan pembacokan dengan cara disayat”. katanya.
Suparman juga menegaskan, peristiwa pembacokan dengan cara disayat itu bukan merupakan teror. Kendati tersangka pelaku memilih korbannya secara acak dan tak ada barang berharga milik korban yang hilang, tegasnya, namun bisa saja hal itu dilakukan oleh orang stress atau frustasi.
“Soal tafsir dan dugaan-dugaan itu, kita minta agar warga tidak berasumsi, karena proses penyelidikan masih berlangsung”, pungkasnya. (Koko Triarko)