Petani Terong di Sleman Panen Raya

RABU, 20 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rustam / Sumber Foto : Koko Triarko
YOGYAKARTA — Di saat tanaman terong yang lain banyak yang mengalami gagal panen, tanaman terong milik Martono di pedukuhan Duri, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, justru melimpah hasil panennya.  Dengan pemeliharaan yang baik,  Martono memastikan tanaman terongnya akan bisa dipanen sebanyak 20 kali.
Petani panen terong di Sleman
Dengan luas lahan tanaman terong sekitar 3.500 meter  persegi,  untuk memanen
tanaman tersebut membutuhkan tambahan tenaga kerja. Seperti pada panen petikan kelima Rabu (20/4, tambahan tenaga kerja sebanyak  6 orang.
Dari hasil petikan kelima, Martono  mampu mendapatkan sebanyak 5,5 Kwintal terong ungu dan hijau. Sebelumnya, pada petik pertama, Martono hanya mendapatkan 1,5 Kwintal, lalu petik kedua sebanyak 2,6 Kwintal, petik ketiga 2,6 Kwintal, dan petik keempat 5,5 Kwintal.  Martono mengatakan, panen dilakukan selama tiga hari sekali yang dimulai sejak panen pertama setelah 60 hari terong ditanam.
Menurut Martono, menanam terong dilakukan karena lahan sawahnya terkendala minimnya sumber air. Sementara, menanam terong terbukti lebih menguntungkan daripada menanam padi. Pemeliharaannya pun tidak sulit, hanya membutuhkan ketelatenan dalam pemupukan dan penyemprotan hama.
Dijelaskan, pemupukan daun dan penyemprotan pencegahan hama dimulai sejak mulai ditanamnya bibit terong.  Untuk penyemprotan dilakukan rutin seminggu sekali untuk mencegah jamur, ulat, wereng dan kepik, yang bisa menimbulkan layu batang.  Ada pun pupuk yang digunakan adalah pupuk cair untuk daun, dan pupuk ponska  dan npk untuk tanah. 
Dengan perawatan yang teratur, terong bisa menghasilkan panen yang melimpah. Saat ini pun, kata Martono, harga jual terong pun sangat bagus, yaitu Rp. 4.000 perkilogram, dari yang biasanya Rp. 3.000.  Naiknya harga jual ini, menurut Martono, disebabkan banyaknya tanaman terong di lain daerah yang gagal panen akibat serangan hama dan minimnya sumber air. 
Lihat juga...