RABU, 27 APRIL 2016
YOGYAKARTA — Terkait peristiwa penembakan misterius di Magelang, Jawa Tengah dan penyayatan di Kotagede, Yogyakarta, Psikolog Sosial dan Pengajar Ilmu Psikologi Hukum Forensik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Prof. Koentjoro, PhD., menyebut peristiwa itu sebagai teror. Pasalnya, peristiwa itu telah membahayakan dan membuat resah warga masyarakat.

Selain itu, melihat korban yang hampir seluruhnya perempuan, sudah jelas aksi tersebut bertujuan untuk menimbulkan keresahan. Dan, sebuah teror, kata Koentjoro, pasti berhubungan dengan agenda tertentu, baik politik maupun persaingan tertentu lainnya.
Koentjoro yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (27/4/2016) juga menegaskan, sebuah teror dilakukan pasti dengan tujuan tertentu. Seperti halnya aksi pendudukan 6 jam atau Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta oleh Tentara Nasional Indonesia bersama rakyat, sebenarnya merupakan bentuk teror kepada Belanda yang bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada dunia, bahwa Republik Indonesia masih ada.
Sementara itu, terkait korban penembakan di Magelang dan korban penyayatan di Yogyakarta yang hampir seluruhnya perempuan, Koentjoro menilai jika hal itu mungkin sengaja dilakukan agar dampak keresahan sosial yang ditimbulkan lebih tinggi. Namun demikian, ia pun juga mengakui jika korban perempuan mungkin saja dipilih, karena perempuan tidak secekatan laki-laki ketika mengalami hal serupa.
Lepas dari berbagai dugaan tujuan dari pelaku kejahatan itu, Koentjoro menjelaskan, jika aksi kekerasan tersebut juga terjadi karena saat ini empati orang semakin menipis. Hal ini karena disebabkan semakin berkurangnya interaksi sosial di masyarakat. Orang semakin sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Di ruang publik seperti di ruang tunggu, kata Koentjoro, orang sibuk dengan gadgetnya masing-masing, sehingga tidak ada interaksi sosial yang terjadi. Ke depan, katanya, kejahatan akan semakin sadis dan keji, karena empati yang terus menipis.
Koentjoro juga menyebut, aksi penembakan di Magelang dan penyayatan di Yogyakarta merupakan satu bentuk tindakan barbarian. Melihat jumlah korban yang lebih dari satu orang dan terjadi berantai, katanya, sangat tidak mungkin jika hal itu dilakukan karena iseng, stres atau sekedar kenakalan remaja.
Aksi barbarian, katanya, dilakukan untuk mendapatkan pujian. Ia mencontohkan, tindakan iseng memegang payudara atau pantat perempuan yang sedang melintas di jalan raya, justru dipuji dan membuat pelakunya bangga. Dalam psikologi, hal itu disebut dengan tindakan yang salah mendapat pembenaran. Maka, perilaku yang semula hanya iseng berkembang menjadi kenakalan dan seterusnya.
Koentjoro juga menilai, teror penyayatan yang terjadi di Yogyakarta lebih sadis dan keji dan pelakunya lebih berani dibanding dengan aksi penembakan di Magelang yang dilakukan di tengah kerumunan orang dan pada waktu sore atau malam hari yang remang.
“Melihat aksi kejahatan dengan korban acak namun hampir semuanya perempuan, saya semakin yakin jika ini adalah sebuah teror yang bertujuan untuk membuat keresahan”, pungkasnya. (Koko Triarko)