Menu Ikan Wader, Kuliner Khas dari Sungai Progo Yogyakarta

MINGGU, 3 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

YOGYAKARTA — Semakin beragamnya warung atau wisata kuliner saat ini, begitu banyak memberi pilihan bagi para pecinta kuliner di tanah air. Namun, ada kalanya pecinta kuliner merasa bosan dengan berbagai jenis menu makanan yang disajikan di sebuah warung mewah. Maka, kuliner khas pedesaan menjadi jawaban dari kejenuhan pecinta kuliner. Salah satunya menu ikan wader.
Ikan Wader
Kuliner khas pedesaan, pertama-tama memikat perhatian dari suasana warungnya yang sederhana. Misalnya, berada di pinggir sawah, dengan bangunan yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun rumbia. Semilir angin yang berhembus, menjadi faktor lain yang semakin menegaskan suasana pedesaan yang sejuk. 
Sensasi itulah yang dihadirkan di warung sederhana milik Ny. Lusi, yang diberinya nama Tuk Sambal di Jalan Raya Godean Kilometer 17, Moyudan, Sleman. Kendati tak berada dipinggir sawah, namun daerah itu masih tergolong sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor.
Dari namanya, Tuk Sambal, warung tersebut memang menyajikan menu makan pedas. Tetapi, bukan karena pedasnya sambal cabe merah yang menjadi keunikan warung itu. Melainkan, menu utamanya, yaitu iwak atau ikan wader.  
Meski menu iwak wader itu hanya disajikan dengan lalapan biasa seperti kembang kemangi, mentimun dan kol, namun rasa gurih khasnya sangat mengundang selera. Iwak Wader adalah salah satu jenis ikan yang ada di sungai-sungai kecil. 
Rasanya sangat gurih, dan tak perlu banyak bumbu untuk mengolahnya menjadi gurih dan renyah. Ikan wader memang khas dari desa. Ikan itu konon sudah sejak zaman Majapahit telah menjadi menu yang juga sangat disukai oleh para ningrat. Keunikan lain dari jenis ikan tersebut, adalah kerenyahannya sehingga seringkali durinya pun tak bersisa.
Saat ini, memang sudah mulai banyak warung-warung kecil yang mencoba menawarkan menu ikan wader. Namun, kelebihan menu Ikan Wader di Warung Tuk Sambal yang jarang dimiliki oleh warung serupa lainnya adalah ikan wadernya yang berukuran sebesar dua jari tangan orang dewasa. Pasalnya, seringkali warung ikan wader hanya menyajikan ikan wader seukuran jari kelingking anak balita, sehingga kurang memuaskan bagi penikmatnya.  
Lusi yang ditemui di warungnya, Minggu (3/4/2016), mengakui memang tidak mudah untuk mendapatkan ikan wader ukuran besar. Ia sendiri selama ini hanya mengandalkan pencari ikan dari Sungai Progo, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari warungnya. Dan, karena berasal dari sungai besar itulah ikan wadernya juga berukuran besar. 
“Berbeda dengan ikan wader yang diperoleh dari sungai-sungai kecil”, ungkapnya. 
Lusi biasa membeli ikan wader itu seharga Rp. 25.000 perkilogramnya. Harga tersebut bisa lebih mahal lagi ketika tidak musimnya. Ikan Wader, akan mudah ditemui di saat pergantian musim dari hujan ke musim kemarau. Di luar itu, ikan wader tetap ada, namun sulit dicari.
Lusi yang mulai membuka warungnya sejak tengah siang hingga tengah malam, seringkali kewalahan memenuhi pelanggannya. 
“Setiap hari selalu ada orang yang kecewa karena kehabisan menu ikan wader ini, karena tidak sampai malam pun biasanya sudah habis. Ini juga karena minimnya ikan wader, yang memang sulit dibudidaya”, pungkasnya.
Lihat juga...