Probosutejo Beri Penghargaan Peserta Jalan Sehat Tertua

SELASA, 1 MARET 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Antusiasme warga mengikuti jalan sehat memperingati SO 1 Maret 1949 dan 3 Tahun Berdirinya Monumen Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk Lor, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, sedemikian besar. Seorang nenek usia 86 tahun bahkan  rela mengikuti jalan sehat tersebut dengan jarak tempuh 5,5 kilometer.

Probosutejo beri penghargaan pada Waginem peserta tertua jalan sehat.


Adalah Waginem (86), warga Dusun Panggang, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, rela berlelah-lelah mengikuti jalan sehat. Waginem mengaku terpanggil untuk mengikuti jalan sehat itu, karena senang dengan Pak Harto. Di zaman Pak Harto, katanya, semua sandang pangan murah. Aman, Ayem tenterem. “Sangat jauh berbeda dengan sekarang, karena semua harga kebutuhan sangat mahal”, ungkapnya terbata-bata, namun penuh semangat.
Waginem sudah lama ditinggal sang suami dan satu anaknya, sehingga kini hanya tinggal bersama keponakannya, Uthik (48). Waginem masih sangat mengingat Pak Harto waktu masih muda dulu. Di zaman Pak Harto, katanya, semua hal diperbaiki. Jalan-jalan desa yang rusak dibuat bagus. “Dan, hidup terasa sangat mudah”, ujarnya.
Probosutejo dan ibu bersama lima veteran dan Waginem

Sebagai peserta jalan sehat yang tertua dari warga sipil, Probosutejo pun sangat menghargai dan berterimakasih atas partisipasinya. Bersama lima pejuang veteran yang juga sudah berusia sangat lanjut, Waginem diberi hadiah khusus dari Probosutejo. 
Dewan Penasehat Museum Soeharto, Djoko Utomo, mengatakan, sudah menjadi kebiasaan Bapak (Probosutejo -red) selalu memberi penghargaan sejumlah uang untuk beberapa peserta jalan sehat yang tertua. Bukan soal nilai hadiahnya, kata Djoko, namun kepedulian dan rasa hormat dan penghargaan keluarga besar Pak Harto terhadap rakyatnya yang masih mencintai dan mengenang Pak Harto sebagai salah satu pahlawan bangsa.
Selain Waginem, turut juga diberikan penghargaan atas partisipasinya lima pejuang veteran dari Bantul Yogyakarta. Mereka terdiri dari Tugiro (92), Harjosuwito (89), Karto Miharjo (89), Rejo Hartono (88), dan Giyono (76). Kelima pejuang veteran itu tergabung dalam Legiun Veteran Karya Darma, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
Tugiro, warga dusun Karanglo, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta,  sebagai pejuang veteran yang tertua mengatakan, sejak muda ia sudah menjadi pasukannya Pak Harto. Saat melancarkan SO 1 Maret 1949, Tugiro juga turut dalam serangan tersebut. Ada satu hal selalu diingat Tugiro, bahwa pada setiap peperangan, pasukan yang tidak menurut dengan komando Pak Harto dipastikan gugur. Tugiro mengisahkan, bahwa pada perang janur kuning itu ia belum memiliki senjata api. “Saya masih pakai keris waktu itu”, ungkapnya.
Selain dalam perang SO 1 Maret 1949, Tugiro juga terlibat dalam sejumlah peperangan lain di bawah komando Pak Harto, antara lain di Semarang dan Ungara, Jawa Tengah,  Kwangon, Banyubiru di Yogyakarta.

“Saya ini anak buah Pak Harto. Saya tahu betul Pak Harto itu. Begitu senangnya Pak Harto dengan petani. Setiap ketemu petani yang sedang mencangkul, Pak Harto selalu berhenti dan mengajaknya berjabat tangan. Itu juga dilakukan setelah menjadi presiden”, pungkasnya. 

Lihat juga...