MINGGU, 27 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Di tengah semakin beragamnya makanan ringan atau camilan saat ini, ampyang yang merupakan jenis makanan khas sejak nenek moyang hingga saat ini masih dicari. Di zaman dahulu, ampyang yang terbuat dari gula merah atau gula jawa dan kacang tanah. Perpaduan rasa manis dari gula kelapa dan gurihnya kacang tanah menjadi sajian yang cukup mahal di pedesaan.
![]() |
| Ampyang |
Pasalnya, bahan yang digunakan berupa gula kelapa dan gula pasir serta kacang tanah, yang pada sekitar tahun 1960-an masih tergolong mewah. Hanya kalangan priyayi atau keturunan ningrat atau orang kaya yang bisa menikmati gula setiap hari.
Sekarang, makanan atau minuman manis sudah biasa. Namun, manisnya gula kacang atau ampyang tetap berbeda. Ada nuansa lain yang historis sosiologis yang timbul dari rasa manis dan gurihnya ampyang itu. Menikmati ampyang, terasa bagai memutar kenangan masa lalu. Itulah mengapa sampai kini, ampyang masih diminati. Demikianlah yang tersirat dari penuturan seorang pembuat ampyang, Rita Nurhayati, warga pedukuhan Secang, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, yang ditemui Minggu (27/3/2016).
Rita mengatakan, membuat ampyang baginya sudah menjadi semacam tradisi. Pasalnya, keahlian membuat ampyang itu diwarisinya dari sang nenek. Setiap hari, Rita membuat ampyang sebanyak 40-an Kilogram, yang dikemasnya dalam sebuah wadah dengan takaran 2 Ons setiap satu wadah yang terdiri dari 14-15 buah. Ampyang buatannya itu setiap seminggu sekali diambil pengecer dari Purworejo, Jawa Tengah.
Rita sudah menekuni pekerjaan membuat ampyang sejak tahun 1999, ketika ia masih berusia 19 tahun. Waktu itu, ampyang buatannya hanya dijual di pasar sekitar seperti di Pasar Sentolo dan Wates. Seiring dengan perkembangannya, ampyang buatan Rita kini juga dipasarkan di sejumlah pasar di wilayah kabupaten Sleman.
Rita menjelaskan, cara membuat ampyang itu cukup sederhana. Yaitu, gula merah atau gula kelapa direbus dengan air sampai mencair. Lalu, kacang tanah dimasukkan, ditambah sedikit gula pasir dan ditunggu sampai kacangnya matang. Sudah itu, gula kelapa dan kacang tanah dituang ke dalam tampah menggunakan sendok kecil sebagai takaran dan diletakkan di sebuah tampah atau tambir dan ditunggu hingga dingin. Setelah itu dikemas.
Ditambahkannya gula pasir itu bukan untuk menambah manis. Melainkan, agar gula kelapa bisa lebih cepat kering. Namun diigingatkan, jika penggunaan gula pasir terlalu banyak bisa membuat rasa ampyang kurang enak.
Dan, salah satu keunggulan lain dari ampyang,adalah daya tahannya yang mampu bertahan hingga 1 bulan lebih tanpa bahan pengawet.
“Ampyang bisa tahan satu bulan. Meski warnanya agak pudar, tapi rasanya tetap enak dan aman dikonsumsi”, ungkapnya.

Sementara itu, resep sederhana membuat ampyang menurut Rita, adalah 1 Kg Gula Kelapa, 1/4 Gula Pasir dan 1 Kg Kacang Tanah. Dengan takaran tersebut, akan menghasilkan ampyang sebanyak kurang lebih 2,5 Kg.