Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Dalam kunjungannya di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada di dusun Tanjungtirto, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, Jumat (26/2/2016), Titiek Soeharto menyatakan prihatin, sampai saat ini Indonesia belum mampu swasembada daging. Meskipun selama ini kebutuhan daging sebanyak 70 Persen berasal dari lokal dan 30 Persennya merupakan import dari asing, namun, masih belum mencukupi.
Titik Soeharto kunjungi PIAT UGM
Titiek Soeharto meninjau PIAT UGM Yogyakarta, untuk melihat potensi teknologi agroculture yang bermanfaat untuk menunjang pembangunan berkelanjutan di bidang pertanian dan peternakan. Dalam kunjungannya itu, Titiek mengapresiasi penelitian yang sedang dilakukan oleh PIAT, terkait dengan pemberdayaan Rusa Totol sebagai sumber daging alternatif yang kaya manfaat. Pasalnya, selama ini negara direpotkan dengan masalah import daging sapi yang tak berkesudahan.
Sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan PIAT UGM, Dr.drh. Dhirgo Adji, MP., selama ini Indonesia masih tergantung import untuk memenuhi kebutuhan daging nasional. Karena itu, Titiek mendukung riset Rusa Totol yang sedang dilakukan oleh PIAT UGM sebagai upaya memenuhi sumber daging alternatif untuk kebutuhan daging di Indonesia.
Namun demikian, Dhirgo mengungkapkan, saat ini masih belum ada kesepahaman antar instansi terkait boleh tidaknya daging rusa itu dikonsumsi. Selama ini, kata Dhirgo, sebenarnya sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang pemanfaatan daging rusa. PP Nomor 7 Tahun 1999 menyebutkan, bahwa Rusa adalah satwa liar yang dilindungi. Namun dalam PP Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 11 disebutkan jika Rusa dapat dimanfaatkan pada turunan kedua.
“Artinya, rusa bisa dikonsumsi dengan catatan dari anakan rusa. Hal ini untuk melindungi populasi rusa liar,” kata Dhirgo.
Namun, lanjut Dhirgo, dua PP tersebut masih menjadi polemik dan belum ditemukan kesepahaman bersama antar instansi terkait boleh tidaknya daging rusa untuk konsumsi. Terhadap kendala regulasi itu, Titiek menyatakan jika memang riset Rusa Totol terbukti mampu menjawab kebutuhan daging dan lebih bermanfaat, pihaknya akan mengupayakan dibuatnya regulasi untuk lebih menegaskan dibolehkannya Rusa Totol sebagai sumber daging alternatif.
“Mungkin kendala regulasi itu bisa diatasi dengan Peraturan Menteri atau Permen”, ujar Titiek.
Titiek Soeharto bersama peneliti PIAT UGM
Dalam temu diskusi bersama Titiek Soeharto, Dhirgo menjelaskan berbagai kelebihan daging Rusa Totol. Antara lain rendah kolesterol dan rendah lemak, berat Rusa Totol di Indonesia yang bisa mencapai 100 Kg, tanduknya yang bisa dimanfaatkan sebagai obat dan harganya mahal sekitar Rp. 1,5 Juta perkilogramnya, sementara tanduknya itu masih bisa tumbuh lagi dan kulitnya yang bisa dijadikan karpet yang berharga mahal.
Namun demikian, Rusa Totol saat ini juga masih terhitung mahal untuk investasi. Juga kemampuan melahirkan anakan yang hanya satu ekor saja sekali melahirkan dengan masa bunting selama 7 bulan. Untuk itu, Dhirgo mengatakan, jika pihaknya masih terus mengupayakan berbagai langkah untuk mengatasi berbagai kendala tersebut.
Foto Bersama
Sementara itu, hadir dalam acara kunjungan kerja Titiek Soeharto di PIAT UGM, Kepala Bidang Pertanian dan Tanaman Pangan PIAT UGM, Dr. Ir. Siwi Indarti, MP, Kepala Bidang Sumber Daya Alam PIAT UGM, Susilo Hadi, S.Si.,M.Si.,Ph.D., Wakil Rektor Bidang Pendidikan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyakarat (WRP2M), Prof. Dr. Ir. Suratman, M.Sc., Dekan Fakultas Pertanian Dr. Jamhari, SP.,MP., Dosen Fakultas Pertanian UGM, Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, MP., M.Sc., Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Prof.Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., dan sejumlah tim peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.