SABTU, 27 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Usaha dan kemauan untuk bekerja tanpa bergantung dengan orang lain dilakukan oleh pemuda di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. Potensi perkebunan karet dan kayu sengon dimanfaatkan oleh Yudhi Aryanto (29) membudidayakan jamur tiram.
![]() |
| Baglog jamur tiram |
Ia mengungkapkan, budidaya jamur tiram dimulai sejak tahun 2014 saat dirinya selesai kerja di perusahaan di Indramayu, Jawa Barat dan saat merantau ke Kalimantan, dia bersama sang adik membuat usaha jamur di Tarakan.
“Saya sudah banyak belajar budidaya jamur tiram saat berada di Kalimantan dengan kumbung yang mampu menampung ribuan baglog”ungkap Yudhi kepada Cendana News, Jumat (26/2/2016).
Pemuda lulusan jurusan tekhnik di salah universitas swasta di Solo tersebut selanjutnya mengembangkan usaha budidaya jamur tiram di tanah kelahirannya. Ia mengaku berniat melakukan usaha mandiri setelah melihat banyaknya perkebunan sengon dan karet yang limbah gergajinya dibuang tanpa dimanfaatkan.
Awalnya di Lampung Selatan membuat baglog sebanyak ratusan kemudian sampai dua tahun mencapai ribuan baglog yang dibudidayakan dalam beberapa kumbung di sekitar rumahnya dengan ukuran 5×7 meter dan ukuran 5×8 meter. Kumbung miliknya kini berada di dua tempat yang sebagian besar di rumah dan kumbung lain berada di tempat berbeda tak jauh dari tempat tinggalnya.
Berbekal nama Pendawa Jamur usaha jamur tiram miliknya mulai dikenal masyarakat baik pribadi, usaha kerajinan jamur krispi, serta para pedagang yang menjajakan sayur. Ia mengaku dalam sehari maksimal ia bisa menghasilkan 20kilogram per hari yang rata rata diambil oleh tukang sayur.
“Sebelumnya saya menawarkan produksi jamur tiram ke pasar pasar, namun lama kelamaan mulai dikenal masyarakat, bahkan diantaranya langsung mengambil di rumah kami baik untuk konsumsi maupun untuk usaha kecil jamur krispi,”ujarnya.
Disebutkan, harga jamur tiram saat ini perkilogram ke konsumen mencapai Rp.14rb hingga Rp.15ribu, sementara di tingkat tukang sayur harga mencapai Rp12ribu. Rata rata pembeli datang ke rumahnya untuk membeli jamur tiram yang kemudian dipasarkan dari rumah ke rumah.
Ia mengaku modal untuk usaha pembuatan kumbung menghabiskan uang sekitar Rp.2juta dan baglog sebesar Rp.1,5juta. Bermodalkan uang untuk proses awal produksi ia mengaku dalam sehari saat panen memperoleh hasil Rp.150ribu dan dalam sebulan memperoleh penghasilan bersih sebesar Rp.4juta.
“Uang yang saya peroleh dipergunakan untuk modal pengembangan budidaya jamur tiram selanjutnya dan sebagian ditabung terutama karena saya masih belum menikah,”ujarnya.
Memiliki usaha budidaya jamur tiram menurut Yudhi yang kini semakin dikenal masyarakat terus dikembangkan dengan cara menambah jumlah kumbung. Selain itu untuk memperkenalkan budidaya jamur tiram dilakukan dengan memperkenalkan melalui media sosial Blackberry Messenger (BBM) serta melalui jejaring sosial Facebook dengan nama “Pandawa Jamur”.
Ke depan Yudhi mengaku masih akan mengembangkan budidaya jamur tiram yang masih terbuka baik dari segi lahan maupun bahan baku. Saat ini ia bahkan mengaku untuk pembibitan dengan membeli bibit F1 masih dari wilayah Bandarlampung dan kemudian dikembangkan di rumahnya.