Tenun Tradisional Sleman Bertahan dari Dera Industri Konveksi

SABTU, 21 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu/ Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Di tengah kemajuan teknologi industri konveksi saat ini, pengrajin tenun tradisional perlahan menuju kepunahan. Namun, puluhan penenun tradisional di sebuah desa di Sleman, Yogyakarta, bertekad terus bertahan demi pekerjaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tuginem

Sedemikian modernnya produk konveksi saat ini, tak menyurutkan semangat para penenun tradisional yang menenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Dusun Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Kendati hanya tersisa sekitar 70 penenun tradisional, mereka tetap antusias mengerjakan kain tenun sederhana berupa stagen atau ikat pinggang bagi wanita Jawa. 
Salah satunya, Tuginem. Kendati diakui hasilnya tak begitu banyak, namun membuat stagen dengan alat tenun bukan mesin yang terbuat dari kayu, baginya adalah sebuah karya yang membuat hidupnya lebih berarti dan berharga.
Stagen motif dengan kombinasi warna
Tuginem yang ditemui di rumahnya, Sabtu (20/2/2016), mengatakan, setiap hari ia menenun benang untuk dijadikan stagen. Dibutuhkan waktu sekitar epmat jam, ketekunan dan kesabaran untuk bisa menghasilkan satu lembar stagen sepanjang kurang lebih 10 meter.

Sejak turun-temurun, Tuginem melakukan pekerjaan itu sebagai sambilan. Ia dan warga lainnya lebih sering membuat stagen polos warna hitam sepanjang 9,5 meter, yang dijualnya di pasar dengan harga Rp. 20.000. perlembar.

Namun, sejak tiga tahun terakhir ini, Tuginem dan sejumlah penenun lainnya mulai berkreasi dengan membuat stagen yang bermotif dengan kombinasi warna yang menarik. Menurut Tuginem, hal itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan daya tarik dan nilai jual stagen.

Stagen polos
Dikatakannya, membuat stagen dengan motif unik dan kombinasi warna itu lebih sulit. Pasalnya, dengan benang yang beragam warna itu mengharuskan ada penataan benang atau sekir pada alat tenun menjadi rumit. Sebanyak 350 helai benang dengan warna berbeda harus ditata menggunakan pola tertentu, agar bisa menghasilkan motif yang diinginkan. 
Tuginem mengatakan, dalam sehari ia mampu menghasilkan kain tenun sepanjang 15-20 meter dengan lebar 14,5 Centimeter. Namun, untuk stagen, ia menjualnya dalam ukuran panjang sekitar 9,5 meter. Untuk stagen yang bermotif dengan kombinasi warna, harganya jauh lebih mahal. Yaitu, Rp. 15.000 permeternya. Karena harganya yang mahal dan rumit pembuatannya, stagen motif hanya diproduksi berdasarkan pesanan. Tuginem dan puluhan penenun tradisional di Dusun Sejati, Desa, tak pernah berangan-angan untuk bisa lebih maju lagi usaha tenunnya.

Bagi mereka, semua yang dilakukan sudah maksimal. Selain itu, menenun bagi mereka adalah melestarikan tradisi nenek moyang.

Lihat juga...