Jurnalis : Samad V. Sallatalohy / Editor: Gani Khair / Sumber Foto : Samad V. Sallatalohy
AMBON—Pemandai besi warga asal Teor Kecamatan Wakate Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku terus meniti usaha yang diwariskan nenek moyang mereka. Industri lokal yang ditekuni warga Teor dengan cara manual ini sudah menjadi mata pencaharian mereka setiap hari guna menghidupi keluarga.
![]() |
| Karya megah warga Teor |
Pembuatan pisau, parang samurai dan perkakas lain bahan bakunya dari besi tua yang berasal dari mobil, besi putih baja, ada juga bar mesin sensor rata-rata bahan bekas. Mereka membeli bahan bakunya dari perkotaan, misalnya di Ambon, Tual, Bula, Kabupaten Maluku Tengah bahkan hingga ke Papua.
Anton Kolatlena salah satu pandai besi asal Teor yang sempat diwawancarai Cendana News Minggu (7/2/2016) mengatakan, pekerjaan menumbuk besi menjadi perkakas ini dilakukan berkelompok terdiri dari 4 sampai 10 orang bahkan lebih.
“Kami buat pisau, Parang dan Samurai. Ada juga perkakas lain. Memang sudah menjadi pekerjaan keseharian kami. Ini pekerjaan sejak nenek moyang kami,” ungkapnya.

Anton menyebutkan dalam sehari bisa membuat ratusan bilah pisau. “Ini produk utama masyarakat Teor dan sudah menjadi mata pencaharian utama kami. Sehari kami bisa buat ratusan pisau. Kalau Parang (golok) bisa 40 sampai 50 buah. Kalau Samurai agak lebih lama prosesnya,” jelasnya.
Meski tidak difasilitasi dengan peralatan canggih seperti pabrik. Tapi pisau, parang dan samurai buatan pandai besi Teor ini tidak kalah kualitasnya dengan buatan pabrik. Untuk pemasaran sendiri, menurut Anton, dijual dari rumah ke rumah, Desa ke Desa dan Kecamatan dan Bula.
“Ada juga yang sudah pesan. Biasanya ada pengusaha sebagai pembeli dalam jumlah banyak untuk di jual kembali,” bebernya.
“Masih banyak yang lainnya, seperti Parang Teor bentuk parang Pattimura, Samurai, sangkur, pedang, parang untuk kerja, pertukangan, sabit, linggis, cangkul, Jangkar kapal dan lain-lain tinggal pesan,” paparnya.
Untuk Pisau dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Kalau Samurai harganya Rp750.000 sampai Rp 2 juta.
“Harga variasi tergantung ukuran. kalau parang kerja Rp50.000 sampai Rp150.000 per buah. Kalau parang yang ujungnya tajam harganya Rp250.000 sampai Rp1 juta,” ulasnya.
Hasil usaha ini, lanjut Anton, selain untuk kebutuhan keluarga keseharian sebagian uang hasil penjualan dimanfaatkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
“Uang hasil penjualan pisau, parang samurai ini ya kani pakai untuk makan keseharian juga untuk keperluan sekolah anak-anak kami,” terangnya.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur,Fransisco Alimudin Kolatlena yang sempat diwawancarai Cendana News Minggu (7/2/2016) terkait pengembangan usaha para pandai besi Teor mengatakan, dirinya sudah berkali-kali kepada pemda melalui dinas koperasi perindustrian dan perdagangan.
“Tapi sejauh ini belum juga dibantu. Usaha ini sudah digeluti warga sejak nenek moyang. Pemda sangat tau tapi selama ini belum ada uluran tangan pemda,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah harus membantu peralatan pendukung untuk memudahkan kerja para pemandai besi Teor tersebut.
“Saya sudah seringkali menyampaikan unu. Karena jika mereka dibantu maka akan meningkatkan hasil produksi juga akan berdampak langsung dan cepat terhadap pendapatan, penghasilan warga, para penempa besi,” pungkasnya.