Lima Hari Jelang Imlek, Patung Dewa di Klenteng Disucikan

RABU, 3 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Sepekan menjelang perayaan Imlek, semua patung dewa yang ada di Klenteng disucikan. Tak kecuali 100 patung dewa di Klenteng Fuk Ling Miao, di Gondomanan, Yogyakarta. Sejak pagi, Rabu (3/2/2016), ritual menyucikan patung dewa telah dilangsungkan.

Patung Dewa Bumi

Salah satu dari Klenteng yang ada di Yogyakarta, Fuk Ling Miao, hari ini menggelar ritual pembersihan patung-patung dewa. Tak kurang dari 100 patung dewa dibersihkan sejak pagi tadi. Ketua Klenteng Fuk Ling Miao, Ang Ping Siang alias Angling Wijaya, mengatakan, ritual pembersihan juga dilakukan pada seluruh bagian klenteng, altar atau rumah dewa dan sebagainya. Dalam sehari, diharapkan pembersihan patung-patung dewa bisa selesai. 
“Ritual bersih patung dewa ini didahului dengan membersihkan patung dewa tuan rumah klenteng, yaitu Dewa Bumi atau Hok Ting Cing Sien”, ujar Ang Ping.
Dalam pembersihan patung itu, kata Ang Ping, digunakan air kembang mawar, minyak wangi dan cendana agar harum. Dipakainya kayu cendana, menurut Ang Ping, juga sebagai pengawet alami patung. Sementara itu, untuk mengembalikan kembali patung-patung dewa pada tempatnya tidak boleh keliru arah. Dan, untuk memastikan arahnya, ada ritual yang disebut Pak Pwe. 
Ang Ping Siang
“Mencuci patung dewa harus punya niat bersih. Mantap dan tanpa pamrih”, cetus Ang Ping.
Klenteng Fuk Ling Miao juga dikenal dengan sebutan Klenteng Gondomanan. Menurut Ang Ping, klenteng tersebut berdiri sejak tahun1854 Masehi, dan merupakan warisan dari permaisuri Sultan HB II. Dalam momentum tahun baru Imlek tahun ini, Ang Ping berharap semoga bangsa Indonesia terhindar dari segala bencana. “Tahun baru Imlek nanti kita masuk tahun monyet api. Dalam kepercayaan kami, di tahun itu nanti kerja agak sulit. Kita harus sabar, jujur dan sumeleh atau pasrah”, pungkasnya.

Mencuci Patung Dewa Tak Sekedar Membersihkan Sebuah Patung

Membersihkan atau memandikan patung dewa di klenteng, dipercaya ada berkah tersendiri bagi yang membersihkan. Karena itu, banyak warga Tionghoa antusias turut bergotong-royong memandikan atau menyucikan patung dewa.

Di sela kesibukannya memandikan patung dewa di Klenteng Fuk Ling Miao, Gondomanan, Yogyakarta, Rabu (3/2/2016), Bing Mei (60), warga etnis Tionghoa yang tinggal di kampung Mangkuyudan, Yogyakarta menuturkan, setiap tahun ia selalu turut dalam ritual memandikan patung dewa. Menurutnya, ada berkah tersendiri dari aktivitasnya membersihkan patung dewa. Antara lain, rejeki tambah lancar dan tenteram. “Saya sudah 30 tahun lebih selalu ikut membersihkan patung dewa”, aku Bing Mei.

Menurutnya, membersihkan patung dewa tidak sekedar mencuci patung. Melainkan juga penyucian hati. Karena itu, Bing Mei mengaku sebelum membersihkan patung dewa ia menjalani puasa tidak makan apapun yang bernyawa, baik daging atau hanya sekedar ikan teri, selama tiga hari. “Puasa itu dilakukan karena ketika membersihkan patung dewa itu kita juga melakukan pembersihan jiwa”, ungkapnya.

Bing Mei, saat ditemui sedang memandikan patung Dewa Chi Kong. Dewa itu menurutnya dalam kisahnya sering diceritakan sebagai dewa yang suka bercanda. Sementara dari mitosnya, dewa itu mampu memberikan berkah kesembuhan dari beragam penyakit. Bing Mei mengatakan, awal pertama masuk kelenteng ia tidak melakukan sembahyang. Lalu, ketika tidur bermimpi bertemu dengan dewa. “Dalam mimpi itu saya ditanya mengapa masuk klenteng kok tidak sembahyang. Maka, sejak itu saya mulai rajin sembahyang di klenteng”, pungkas Bing Mei

Lihat juga...