RABU, 3 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Pemkab Wakatobi
KENDARI—Bandar udara Matahora yang terletak di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat penghargaan The Best Airport Award 2015 dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI. Tentu prestasi ini sangat membanggakan baik bagi pemerintah setempat maupun masyarakat Wakatobi.

“Ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi masyarakat Wakatobi. Ini merupakan pencapaian terbaik pemerintah Kabupaten Wakatobi,” kata Hugua Bupati Wakatobi, Rabu (3/2).
Untuk membangun sebuah bandara baru, menurut Hugua, bukan pekerjaan mudah. Membutuhkan waktu yang cukup panjang. Apalagi saat pembangunan tahap awal, Pemerintah Kabupaten Wakatobi mengandalkan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Mulai tahap pembebasan lahan hingga pembangunan landasan pesawat.
Bandara Matahora mulai dirintis pembangunannya pada tahun 2007. Proses pembebasan lahan bandara saja sudah membutuhkan waktu lama. Kemudian pada saat akan dibangun landasan, ternyata tekstur tanahnya perlu penanganan khusus.
Sebab tekstur tanahnya berkapur sehingga perlu digali terlebih dahulu, lalu ditimbun dengan material batu yang didatangkan dari Pulau Kalimantan.
Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi yang saat itu dijabat Abdul Manan pada periode pertama pasangan Hugua dan Ediarto Rusmin tahun 2006 hingga 2011, harus bekerja keras untuk mengawasi pembangunan Bandara Matahora.
Izin untuk membangun bandara dari Kemenhub RI juga tergolong rumit prosedurnya. Karena itu, Hado Hasina ketika itu masih menjabat Wakil Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sultra, harus beberapa kali ke Jakarta untuk meyakinkan pemerintah pusat.
Faktor yang membuat Kemenhub mengizinkan pembangunan bandara adalah untuk menunjang sektor pariwisata yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Maka sangat diperlukan bandara demi melayani transportasi turis. Faktor lain yang tak kalah pentingnya, kesiapan Pemerintah Kabupaten Wakatobi mengalokasikan dana APBD pembangunan bandara.
Hasilnya pemerintah Wakatobi berhasil membangun Bandara Matahora dengan panjang landasan 1.600 meter dengan lebar 30 meter. Untuk pertama kali pesawat yang mendarat adalah Susi Air dengan kapasitas penumpang hanya 12 orang.
Pesawat perintis berukuran kecil milik Puji Astuti yang sekarang menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan RI ini, kemudian dikontrak oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi dengan sistem subsidi silang. Rute penerbangan Bandar udara Haluoleo Kendari tujuan Bandar Udara Matahora. Waktu tempuh hanya sekitar 40 menit lamanya.
Subsidi silang dimaksud yakni sheat yang tidak terisi pada saat terbang, maka yang menanggungi biayanya adalah Pemerintah Wakatobi. Bila sheat pesawat penuh, maka Pemerintah Wakatobi tidak membayar.
Ternyata sistem subsidi silang ini tergolong efektif. Masyarakat umum dan pejabat pemerintah kemudian beralih transportasi. Dimana sebelumnya masyarakat Wakatobi terbiasa menggunakan tranportasi kapal laut, kini sebagian sudah beralih ke transportasi pesawat terbang.
Karena Bandara Matahora masih pendek, lalu kemudian panjang landasan diperpanjang menjadi 2.100 meter. Dengan panjang tersebut, sekarang pesawat jenis Foker sudah bisa mendarat dengan baik.
Dengan beroperasinya Bandar Udara Matahora, Kabupaten Wakatobi sudah mempunyai 2 bandara. Bandara yang pertama kali beroperasi adalah Bandar Udara Maranggo yang terletak di Pulau Tomia. Hanya saja status bandara ini masih dikelola oleh pihak asing yakni operator Lorenz.