Imlek Tahun Ini Tak Menggembirakan Bagi Pengrajin Kue Keranjang

KAMIS, 4 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto : Koko Triarko

YOGYAKARTA — Hal lain yang identik dengan Imlek adalah kue keranjang. Kue khas Imlek yang terbuat dari adonan tepung ketan itu ibarat ketupat yang harus ada di setiap hari lebaran. Namun, ternyata tradisi makan kue keranjang di hari Imlek sekarang ini sedikit memudar, sehingga berdampak kepada menurunnya omset para pengrajin kue keranjang di Yogyakarta. 

Kue keranjang siap dikemas

Meski masih ada pesanan dalam jumlah besar menjelang perayaan Imlek tahun ini, para pengrajin kue keranjang di Yogyakarta mengaku omsetnya menurun jika dibanding tahun lalu. Salah satu pengrajin kue keranjang di kampung Tukangan, Danurejan, Yogyakarta, Sulistyowati (70), ditemui Kamis (4/2/2016) mengatakan, penurunan omset itu bahkan mencapai 50 Persen. Ia menuding, memudarnya tradisi makan kue keranjang di hari Imlek di kalangan etnis Tionghoa menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu juga kondisi perekonomian saat ini yang kurang menguntungkan, sehingga masyarakat lebih berhemat dan selektif membelanjakan uang.

Dengan kondisi tersebut, alhasil Sulis mengaku hanya bisa memperoleh pesanan paling banyak 150 kilogram kue keranjang sehari. Jumlah tersebut menurun dari jumlah pesanan tahun lalu yang bisa mencapai 300-an kilogram lebih kue keranjang. Jika dihitung nominalnya, kini Sulis hanya bisa mendapatkan omset sebanyak Rp. 3 Juta sehari.

Sedangkan tahun lalu bisa mencapai Rp 5 Juta. Dengan penurunan omset itu, Sulis pun mengaku penghasilannya yang diperoleh tak sebanding dengan modal, waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Ini mengingat tidak mudah mengerjakan pembuata kue keranjang itu.

Sulis menjelaskan, dalam satu kali pembuatan kue keranjang itu dibu­tuhkan waktu satu minggu. Adonan mentah kue keranjang yang terbuat dari ketan putih dan gula diolah selama 2-6 jam. Lalu, dimasak dengan suhu panas selama 6 jam. Karena membutuhkan suhu panas yang cukup tinggi, cara memasaknya harus dengan kayu bakar. Setelah masak, adonan kemudian didinginkan dan didiamkan selama satu minggu.

Sulis memarkan kue keranjang seharga Rp. 33.000 untuk ukuran sedang. Dengan persaingan saat ini dan menurunnya jumlah pembeli, Sulis tak bernai menaikkan harga. Terpaksa ia harus menerima keadaan. Meski berkurang, namun tetap ada keuntungannya.

“Dulu, banyak perusahaan memesan kue keranjang untuk dibagikan kepada para karyawannya sebagai simbol berkah dan pengharapan rejeki yang melimpah. Tapi, tradisi bagi-bagi kue keranjang itu sudah sangat jarang dilakukan. Kue keranjang saat ini seolah hanya dijadikan pelengkap tradisi saja”, pungkasnya. 

Lihat juga...