JUMAT, 05 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Adista Pattisahusiwa
JAKARTA — Beberapa tokoh perwakilan dari grup aplikasi WhatsApp ‘Peduli Negara’ mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mempetanyakan tindak lanjut dari beberapa kasus besar yang dinilai sangat merugikan negara, salah satunya BLBI.
![]() |
| Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) M. Hatta Taliwang |
Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) M. Hatta Taliwang mengatakan, kedatangannya merupakan perwakilan dari grup sosial (WhatsApp) bersama 14 tokoh lainnya, diantaranya mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Syahganda Nainggolan, Joko Edi, Lily Wahid serta beberapa aktivis senior lainnya. Mereka mendesak KPK untuk mengusut kasus skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang merugikan negara hingga ratusan triliunan rupiah.
“Sudah berlarut-larut bahkan seolah dilupakan, kasus BLBI adalah bukti ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat,” ujar Hatta Taliwang di Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta selatan, Jumat (05/02/2016).
Hatta menyatakan, BLBI merupakan kasus yang super besar, hingga kini, kasus tersebut seperti sudah tidak terdengar lagi tindaklanjutnya. Mereka menilai pemerintahan dan para penegak hukumnya itu ‘Sama Saja’ tidak berdaya dihadapan para pemodal.
Disebutkan, dari total dana BLBI yang dikucurkan BI sebesar Rp 144,5 Triliun, terdapat potensi kerugian negara, sebesar Rp 138,4 triliun atau 95,7 persen.
Ia juga mengatakan, kedatangan mereka ke KPK bukan berarti tidak mempercayakan institusi anti rasuah tersebut bekerja. Namun, hanya ingin memastikan kasus korupsi berskala besar ditangani dengan serius dan diselesaikan agar tidak menjadi tanda tanya di mata publik.