SELASA, 2 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA—Sebelum dipulangkan ke tempat asalnya, sebanyak 245 eks Gafatar asal Kabupaten Sleman dibina selama 3 hari di penampungan sementara Gedung Youth Center, Mlati, Sleman. Namun, selama dalam pembinaan itu para eks Gafatar sulit diajak berkomunikasi. Alhasil, Gubernur DIY, Sultan HB X meminta program pembinaan dan deradikalisasi terhadap eks Gafatar diperpanjang.
![]() |
| Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X |
Kendati 97 eks Gafatar asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta telah dipulangkan ke rumahnya masing-masing, namun bukan berarti mereka sudah terbebas dari pengaruh doktrin tertentu yang selama ini dianggap sebagai penyebab dari tindakan eksodusnya mereka ke Kalimantan Barat. Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X ditemui di Kepatihan, Selasa (2/2/2016) mengatakan, dari sekitar 300-an eks Gafatar yang dibina selama tiga hari di Gedung Youth Center, menunjukkan jika mereka para eks Gafatar sulit diberikan pemahaman yang benar. Mereka, kata Sultan, enggan menerima materi keagamaan dan wawasan kebangsaan sebagai materi deradikalisasi.
Selain itu, lanjut Sultan, waktu pembinaan yang hanya tiga hari itu jelas tidak mencukupi untuk merubah ideologi seseorang yang selama ini telah terpengaruh oleh paham radikal. “Dibutuhkan waktu yang lama dan pendekatan personal untuk bisa mendoktrin para eks Gafatar itu”, tegasnya.
Sultan mengakui, Pemda DIY cukup kesulitan memberikan siraman rohani kepada para eks Gafatar karena kuatnya doktrin organisasi mereka. Namun demikian, Sultan menegaskan jika pihaknya tentu saja tidak akan menyerah dan terus mengupayakan untuk mengembalikan pemahaman agama dan rohani eks Gafatar.
“Kita juga sedang menyiapkan materi dan konsep kurikulum untuk membenahi ideologi eks Gafatar”, ungkapnya.
Sementara itu, dari pendampingan dan pemantauan selama tiga hari di Gedung Youth Center, hampir semua eks Gafatar menolak mengikuti pembekalan materi kebangsaan dan rohani sebagai upaya deradikalisasi. Mereka para eks Gafatar sangat tertutup dengan petugas. Bahkan, mereka juga menolak menemui keluarganya sendiri yang datang untuk menjenguknya.