Delapan Negara Bertemu di BPTP Yogyakarta Bahas Teknologi Pertanian

SELASA, 23 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Guna mencapai swasembada beras yang ditargetkan pemerintah dalam rangka menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asia, berbagai upaya dilakukan oleh Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menentukan teknologi pertanian yang tepat. Untuk itu, pemerintah bekerjasama dengan Pusat Penelitian Padi Internasional atau International Rice Research Institute (IRRI), melalui program Closing rice yield gaps in Asia with reduce environmental footprint (CORIGAP). 

Suasana pertemuan Corigap

Dan, dalam rangka menentukan dan menetapkan teknologi pertanian yang tepat, puluhan peneliti dari berbagai negara di Asia dengan IRRI mengadakan pertemuan selama dua hari di BPTP Yogyakarta, sejak hari ini, Selasa (23/2/2016).
Kepala BPTP Yogyakarta, Dr. Sudarmaji, menjelaskan,  CORIGAP dikoordinatori oleh IRRI yang berpusat di Pilipina dan Indonesia menjadi salah satu anggota, karena membutuhkan teknologi pertanian. Adapun pertemuan selama dua hari di BPTP Yogyakarta melibatkan para peneliti dari 8 negara di Asia bertujuan untuk mengevaluasi hasil riset selama ini untuk bisa diimplementasikan. Indonesia, kata Sudarmaji, dipilih sebagai tempat pertemuan karena sudah berkontribusi di Sumatera Selatan dan di dua lokasi di Yogyakarta dalam memberikan hasil penerapan teknologi pertanian. Dan, penerapan teknologi itu akan disebarluaskan kepada petani dengan dipandu dalam program pendampingan.

 DR. Sudarmaji, Kepala BPTP Yogyakarta

“Corigap ini berupaya untuk mendekatkan senjang hasil antara hasil panen yang dicapai melalaui riset dengan hasil yang dicapai para petani dengan teknologi yang ramah lingkungan serta efisien di bidang pertanian berkelanjutan”, katanya.

Lebih jauh dijelaskan Sudarmaji, CORIGAP dilakukan karena masih ada senjang hasil antara hasil riset dengan hasil padi yang dicapai petani sebesar 1-2 Ton. Sedangkan penerapan teknologi itu dilakukan dengan konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi, meliputi penanaman varietas unggul baru yaitu Inpari 23, pengelolaan air yang efisien dengan pipa kontrol pengairan, teknologi tanam benih langsung dan semua dilakukan dengan menggunakan mesin.

Di Yogyakarta, penerapan teknologi diterapkan bersama Kelompok Tani Sedyo Maju di dusun Jogotirto, Berbah, Sleman, dan Kelompok Tani Manunggal Patran Madurejo, Prambanan, Sleman. Sedangkan di Sumatera Selatan, program itu dilakukan di Kabupaten Banyuasin.


Kepala BPTP Sumatera Selatan yang hadir dalam pertemuan CORIGAP di hari pertama, DR. Harmanto menjelaskan, program tersebut terbukti sangat membantu. 

 DR. Harmanto, Kepala BPTP Sumsel

Dengan teknologi itu, pertanian padi di Sumatera Selatan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun, kini bisa dilakukan dua kali. Pada tahun 2012, kata Harmanto, di Desa Telang dan Delta Saleh, Sumatera Selatan, hanya bisa menghasilkan 3,9 Ton padi per hektar sawah di musim hujan. Namun dengan penerapan teknologi yang tepat, pada tahun 2014 sebanyak 300 hektar tanaman padi mampu ditanam di musim kemarau dan di musim penghujan mampu menghasilkan lebih dari 6 Ton padi per hektarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Kementerian Pertanian, DR. Ali Jamil, menjelaskan, masih adanya gaps atau senjang hasil antara hasil riset dengan yang dihasilkan oleh petani, terjadi karena genetik dan lokasi. Karena itu, riset akan dilakukan untuk mendekatkan senjang hasil tersebut.

Adapun upaya yang dilakukan antara lain dengan merekomendasikan penggunaan pupuk yang sesuai dengan lokasi, pengelolaan air secara efisien karena padi tidak selalu butuh air, dan pendampingan bagi para petani. Hasil dari semua upaya itu, katanya, Indonesia tidak hanya bisa swasembada beras. Namun, juga mampu mengeksport beras kualitas premium.

Lihat juga...