Bendungan Nangagete, Mitos dan Pemanfaatannya yang Belum Maksimal

SENIN, 22 FEBRUARI 2016
Penulis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

CATATAN JURNALIS—Saat liburan,bendungan Nangagete sering ramai dikunjungi masyarakat yang ingin melihat bendungan dan menikmati keindahan Kali Nangagete. Bendungan yang dibangun dengan maksud mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan air masyarakat terkesan kurang dimanfaatkan secara maksimal.Luas sawah semakin menyusut setiap tahun.Beberapa areal persawahan di desa Nebe dan desa Bangkoor di kecamatan Talibura dibiarkan terlantar dan tidak ditanami padi.

Menara pengawas dan tempat petugas membuka tutup pintu air di Bendungan Nangagete
Ketika Cendana News  mengunjungi bendungan dan areal sawah, sawah yang berada di Desa Nebe hanya beberapa hektar saja. Banyak petani yang tidak membuka sawah dan cenderung membuka kebun untuk menanam kelapa dan kakao. Tak ada kebun sayuran. Banyak juga warga yang berdiam di sisi saluran memanfaatkan air untuk mandi, memasak, mencuci dan memandikan ternak.
Bendungan Nangagete, menurut penuturan Maria Wiliborda, warga Desa Nebe yang ditemui Cendana News Minggu (21/2/2016) di Kampung Wairbou, mulai dibangun sekitar tahun 1985 dan selesai tahun 1986. Bendungan yang berada di Dusun Belawuk A, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka ini hanya berjarak ± 30 meter dari ruas Jalan Negara Trans Maumere – Larantuka.
Sejauh 52 kilometer ke arah timur Maumere, lokasi ini bisa dijangkau dengan angkutan umum (bus atau angkot) dengan waktu tempuh satu jam. Mengendarai sepeda motor memakan waktu ± 45 menit. Dari menara berketinggian ± 35 meter, pengunjung bisa menatap bendungan selebar ± 50 meter dengan kedalaman 15 meter. 
Tembok untuk membendung air dan mengalirkannya ke kali Nangaggete di sebelah barat
Tembok pembatas kiri–kanan bendungan setinggi 10 meter kekar menantang. Rasa takut menyeruak dikala kaki berpijak di ketinggian lantai menara sambil mata memandang ke hamparan kali dan dasar bendungan.
Air kali mengalir pelan di bagian depan bendungan dengan kemiringan sekitar 45 derajat tumpah memenuhi kali berbatu dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Ada dua pintu air di sisi kiri selebar 2,5 meter dan 1 meter. Pintu air 2,5 meter mengalirkan air ke saluran untuk mengairi sawah di desa Nebe.
“Tembok pembatas dan bangunan menara bendungan baru beberapa bulan ini dikerjakan kembali dan di cat lagi,”ujar Maria.
Ritual Adat 

Kendala awal membangun bendungan dirasakan oleh perusahaan yang mengerjakannya. Masyarakat Desa Nebe dari etnis Tana Ai percaya bahwa daerah sekitar Bendungan Nangagete merupakan tempat keramat dan dihuni Helang atau Kuntilanak. Ini yang menyebabkan masyarakat takut berkeliaran di sekitar bendungan saat malam hari.
Salah satu pintu saluran air yang dipakai mengairi sawah di sebelah barat bendungan
Kalau saat musim Ipun (ikan kecil) yang muncul di sepanjang kali Nangagete hingga di sekitar bendungan, sebut Bernandus Bago warga Kampung Wairbou, masyarakat dari desa sekitar banyak yang membuat tenda di sekitar bendungan dan menginap di pinggir kali. Namun masyarakat tidak berani membuat tenda di sekitar bendungan.
“Masyarakat takut sebab di air sebelah timur bendungan sering ada buaya merah. Daerah rawa-rawa tersebut juga diyakini sebagai tempat tinggal Helang atau Kuntilanak,”tutur Nadus.
Saat pertama mau dibangun beber Maria, seorang pekerja meninggal di lokasi pembangunan. Pekerjaan pun dirasakan sangat sulit dan para pekerja sering mendapat gangguan. Selain itu, di dekat lokasi pembangunan lanjut Maria, pekerja sering melihat munculnya buaya merah.
“Pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan karena menurut masyarakat sekitar, tempat tersebut merupakan tempat keramat dan ada penunggunya “kata Maria. 
Kali Nangagete di sebelah barat Bendungan Nangagete
Setelah berbicara dengan ketua adat bernama Nusa Bola, maka digelar ritual adat (memberi makan dan minta izin ) di lokasi yang akan dibangun bendungan dengan memotong tiga ekor babi dan satu ekor sapi. Selesai dibuat ritual adat, pembangunan dilanjutkan hingga selesai tahun  1987. Peresmiannya pun dilakukan melalui ritual adat dengan menyembelih seekor babi.
Pengunjung dihimbau berhati–hati bila ingin berwisata di Bendungan Nangagete. Pantaun Cendana News di lokasi, beberapa pagar pembatas dari besi plat sudah yang dahulu sudah bengkok dan ada yang terlepas kini sudah diganti baru. Tiang dan tembok pun sudah dicat dengan warna kuning biru. Jarak celah antar pembatas sekirat 30 sentimeter dan tinggi pagar satu meter bisa membuat pengunjung terjerambab jatuh ke air.
Areal persawahan di Desa Nebe yang dibiarkan terlantar
“Beberapa orang pengunjung dan warga sekitar pernah terjatuh ke pusaran air dan meninggal.Bulan Januari 2016 ada seorang anak yang jatuh dan meningal. Masyarakat disini percaya setiap tahun pasti ada tumbal atau orang yang meninggal  “sebut Maria. 
Tak ada larangan untuk berwisata di tempat ini, melihat bendungan dengan kedalaman sekitar 15 meter dan menatap persawahan dari atas menara. Tetapi pengunjung perlu    hati – hati dan waspada apalagi bagi  pengunjung yang membawa anak kecil.
Pengunjung pun sebaiknya tidak mandi di bendungan dan disarankan untuk mandi di kali Nangagete di sebelah barat bendungan. Bendungan yang dibangun di jaman Presiden Soeharto ini merupakan satu dari tiga bendungan berukuran sedang di Kabupaten Sikka yang dibangun hampir bersamaan.
Lihat juga...