Situs Candi Ratu Boko, Situs Sejarah Dua Peradaban

MINGGU, 10 JANUARI 2016
Penulis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

CATATAN JURNALIS—Situs Keraton Ratu Boko atau Candi Boko di Yogyakarta, berada di atas bukit kapur desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Dari sekian candi yang ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Candi Boko menjadi satu-satunya candi yang secara historis disebut keraton. Situs candi yang pada awal ditemukannya dalam keadaan hancur tersebut, kini menjadi obyek wisata candi legendaris setelah Candi Borobudur dan Candi Prambanan.


Situs Keraton Ratu Boko di bukit Bokoharjo, Prambanan, Sleman, merupakan kawasan wisata budaya seluas 250 meter persegi. Terletak 3 kilometer di selatan Candi Prambanan yang sudah tersohor di dunia. Secara administratif, Candi Ratu Boko berada di dua pedukuhan, Sumberwatu dan Sambirejo. Keduanya masuk wilayah Kecamatan Prambanan, Sleman. Mengunjungi situs Candi Ratu Boko, sebuah kemegahaan bangunan kerajaan masa lampau akan terimajinasi dengan jelas. Begitu luas komplek candi itu, dan begitu banyak dan panjang bangunan pagar atau benteng dan gapura yang sungguh mewartakan tentang fakta masa lalu sebuah kerajaan besar.
Tetapi, Candi Boko pada mula pertama ditemukan dalam keadaan hancur. Wujud aslinya sudah tak lagi tampak. Maka, proses pemugarannya sampai menjadi bentuk candi yang terlihat megah seperti sekarang sangat lama. Bahkan, rekontruksi bentuk bangunan Candi Boko sampai sekarang ini pun juga belum paripurna. Masih ada banyak tumpukan batu-batu candi yang dikumpulkan dan sedang dalam pemetaan bentuk dan fungsi keberadaannya.

Jauh sebelum ditemukan oleh arkeolog, Situs Ratu Boko sudah dikenal oleh warga sekitar sebagai bekas candi. Di era sebelum tahun 1960-an, Situs Ratu Boko itu hanya berupa reruntuhan batuan candi. Sangat jauh dari penampilannya sekarang, yang sudah menjadi komplek percandian megah dan dilindungi. Waktu itu, komplek percandian Ratu Boko masih merupakan pemukiman penduduk, lengkap dengan lahan pertanian yang subur.

“Baru setelah mulai dipugar pada tahun 1980, pemukiman di sekitar Candi Boko mulai digusur. Penggalian dilakukan dan lahan menjadi kersang seperti sekarang. Pemugaran kedua disertai penggusuran dilakukan tahun 1990. Sekarang, hanya tinggal empat kepala keluarga yang masih bisa berumah di dalam komplek Candi Boko ini”, ujar Partini (45), warga setempat yang masih bisa berumah di dalam komplek percandian Boko.

Situs Candi Ratu Boko ditemukan pertamakali oleh arkeolog Belanda bernama Van Boeckholzt pada tahun 1790. Tetapi, penemuan reruntuhan candi purbakala itu tak serta-merta ditindak-lanjuti dengan pemugaran. Baru sesudah satu abad kemudian, dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch. Dari hasil penelitian itu terungkap, reruntuhan Candi Boko merupakan petilasan Keraton Ratu Boko. Sejak itulah, Situs Boko kemudian dikenal dengan sebutan Situs Keraton Ratu Boko.

Sebagai sebuah keraton, Komplek Candi Ratu Boko memiliki beberapa bagian yang disebut paseban dan pendopo keraton. Sementara itu sebagai bekas peninggalan vihara atau tempat ibadah umat Budha, Komplek Candi Ratu Boko juga memiliki peninggalan Candi Pembakaran Jenazah. 

Kendati ditemukan dalam keadaan hancur dan sulit direkontruksi, sejumlah prasasti dan petunjuk masih bisa ditemukan di komplek reruntuhan candi. Beberapa dari prasasti itu menjelaskan sisik-melik Keraton Ratu Boko, berikut raja dan semua tokoh penting yang ada pada masanya. Prasasti Abhayagiri Vihara berangka tahun 792 Masehi, merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Situs Ratu Boko. Karena itu, pada awalnya Candi Ratu Boko dikenal dengan nama Abhayagiri Vihara. Dalam prasasti itu, disebutkan ada seorang raja bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran. Prasasti itu juga menyebutkan suatu kawasan Vihara di atas bukit yang dinamai Abhyagiri Wihara.

Pada Prasasti Wanua Tengah III berangka tahun 908 Masehi, Rakai Panangkaran disebutkan sebagai Raja dari Dinasti Syailendra yang terbesar dan terlama berkuasa di zaman Mataram Hindhu Kuno. Prasasti itu juga menyebutkan Rakai Panangkaran mengundurkan diri karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan perhatian kepada masalah keagamaan. Rakai Panangkaran lalu mendirikan Abhayagiri Vihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, dan giri berarti gunung, sedangkan Vihara berarti tempat asrama Budha Bikhu. Maka, Abhayagiri Vihara berarti Asrama Biksu Budha di atas bukit penuh kedamaian. Namun ada yang mengartikan, Abhayagiri Vihara sebagai bangunan penolak bala.
Dalam prasasti itu (Wanua Tengah III-red) pula, posisi Rakai Panangkaran yang berkuasa sejak 746-784 Masehi digantikan oleh Rakai Panarabwan. Sementara itu dalam Prasasti Mantyasih berangka tahun 907 Masehi, raja yang menggantikannya adalah Rakai Panunggalan. Namun dari berbagai prasasti yang ditemukan kemudian dan beberapa petunjuk yang ada, keduanya diyakini satu orang yang memerintah dari tahun 784-803 Masehi.
Rakai Panangkaran menganut agama Budha. Demikian pula bangunan Situs Keraton Ratu Boko yang disebut Abhayagiri Wihara berlatar Budha dengan salah-satu ciri peninggalannya Arca Dyani Budha. Namun ditemukan pula unsur-unsur agama Hindu di Situs Ratu Boko itu. Semisal, Arca Durga, Ganesha dan Yoni. Diduga bangunan vihara itu diubah menjadi keraton lengkap dengan benteng pertahanan. Dalam prasasti yang lain memang ditemukan catatan adanya Raja Balaputra yang bertahta di Situs Ratu Boko itu sesudah zaman Rakai Panangkaran.
Sebagai bekas keraton, maka tidak heran jika Candi Ratu Boko tampak megah dan sungguh luas. Kendati seluruh bangunan belum tampak seluruhnya, namun sejumlah bangunan candi yang berhasil direkontruksi sudah menggambarkan kemegahan sebuah keraton besar. Dengan pintu masuk berbentuk gapura paduraksa berpintu tiga, Komplek Situs Keraton Ratu Boko sungguh mewartakan kebesaran zaman Mataram Kuno abad 8 Masehi.
Gapura utama berbentuk paduraksa berdiri kokoh. Gagah menampilkan aura kebesaran sebuah keraton besar. Gapura paduraksa itu ada dua. Gapura Utama yang pertama memiliki tiga pintu masuk. Di atas pintu masuknya terdapat tulisan ‘Panarabwan’ dan di dekatnya terdapat lempengan emas bertuliskan Om Te Ki Hum Jah Swaha. Diduga tulisan itu merupakan mantra peresmian gapura utama yang berdaya gaib tolak bala dan ditorehkan oleh Rakai Panarabwan.
Jauh sebelum ditemukan prasasti, warga sekitar menyebut kawasan Situs Keraton Ratu Boko itu sebagai Bukit Walaing. Namun ketika sudah ditemukan Prasasti Abhayagiri Vihara, kawasan itu lebih populer disebut Keraton Ratu Boko. Kata Boko itu berarti Bangau. Hal itulah yang membuat di kalangan warga sekitar berkembang keyakinan Boko adalah Prabu Boko yang berasal dari Pulau Bali. Dalam legendanya, Prabu Boko disebutkan memiliki seorang putri bernama Roro Jonggrang yang dalam kisahnya disebutkan menjadi penyebab didirikannya Candi Sewu oleh Bandung Bondowoso.
Sementara itu, dalam Prasasti Chivagra berangka tahun 856 Masehi dan Prasasti Pereng 863 Masehi, disebutkan beberapa nama antara lain Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala dan Kalasoibhawa dan Kumbhayoni. Rakai Pikatan adalah penganut Hindu yang berhasil menyatukan dua dinasti yang berkuasa di Jawa Tengah melalui perkawinan politik. Rakai Pikatan yang berasal dari Dinasti Sanjaya menikah dengan Pramudawardhani, putri Raja Samaratungga, sang raja pamungkas Dinasti Sanjaya yang mendirikan Candi Borobudur.
Semasa pemerintahan Rakai Pikatan itu terjadi peperangan besar. Rakai Pikatan menyerang Raja Balaputra, adik Pramudawardhani yang merupakan adik iparnya sendiri. Dalam peperangan itu, Balaputra terdesak dan mengungsi ke suatu tempat yang dalam Prasasti Chivagra disebut benteng dari ratusan batu yang disusun di Bukit Walaing, yang tidak lain adalah Keraton Ratu Boko. Raja Balaputra memilih tempat itu lantaran strategis sebagai pertahanan dan merupakan tempat yang didirikan oleh kerabatnya dari Dinasti Syailendra.
Di Situs Keraton Ratu Boko, Raja Balaputra bermaksud membangun lagi kekuatan tentaranya. Namun belum sempat memperkuat pertahanan, Rakai Pikatan sudah menyerang lagi. Raja Balaputra lalu melarikan diri ke Sumatera. Sejarah kemudian mencatat, Balaputra menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya. Sementara itu di Keraton Ratu Boko, Rakai Pikatan mendirikan tiga buah linggga sebagai pertanda kemenangannya. Itulah mula pertama agama Hindu mewarnai Komplek Candi Keraton Ratu Boko yang sebelumnya berlatar Budha.
Dalam Prasasti Mantyasih berangka tahun 907 Msehi, Rakai Pikatan kemudian disebutkan mengundurkan diri dan digantikan oleh putranya bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Sejumlah nama-nama penting seperti Kalasaja dan Kumbhayoni kemudian juga diperoleh dari Prasati Ratu Boko atau Chivagra yang berangka tahun 856 Masehi, dan Prasasti Pereng 863 Masehi. Berdasarkan petunjuk yang ada, nama Sri Kumbhayoni, Kalasoibhawa dan Rakai Walaing pu Kumbhayoni adalah satu orang. Menariknya, pada Prasasti Pereng berngka tahun 863 M, Kumbhayoni menyebut dirinya sebagai Buyut Ratu Mataram Kuno.
Dalam telaah para pakar yang bersumber dari sejumlah prasasti, Rakai Walaing pu Kumbhayoni diketahui merupakan nama lain dari Agastya, sosok begawan yang terangkat kedudukannya karena keunikan dan kelebihan yang dimilikinya. Agastya disebutkan lahir tidak dari rahim sebagaimana umumnya manusia. Alkisah dalam kitabnya Ramayana Valmiki Sarga, diceritakan seorang dewa bernama Mitra yang mencintai Bidadari Varuna. Namun takdir berkehendak lain. Dewa Mitra dijodohkan dengan Bidadari Urvasi. Lalu terjadilah perseteruan antara Dewi Varuna dan Dewi Urvasi.
Untuk memenuhi hasrat keduanya, kedua bidadari itu lalu menumpahkan air seninya ke dalam tempayan. Dan, dari air seni keduanya itulah Agastya terlahir di jagat mayada ini. Karena lahir dari tempayan, Agastya lalu disebut pula Kumbhaja, Kalasaja atau Kumbhayoni yang berarti tempayan atau jembangan. Perjalanan hidup Agastya lalu dikisahkan penuh petualangan yang kian memperkukuh dirinya sebagai seorang begawan sakti pilih tanding.
Syahdan, di zaman lampau Agastya dimintai tolong oleh para dewa yang ingin membasmi para danawa yang bersembunyi di dalam air. Agasyta lalu meminum semua air samudara dan akhirnya para dewa berhasil menumpas para danawa. Kisah Agastya meminum air samudera itu juga ditafsirkan sebagai upaya Agastya menyeberangi lautan demi menyebarkan agama Hindu ke Aisa Tenggara. Termasuk di Nusantara. Di Situs Keraton Ratu Boko, pada kenyataannya memang terdapat peninggalan purbakala berlatar Hindu seperti Yoni, Arca Durga dan Ganesha dengan lempengan emas bertuliskan mantra Om Rudra Namah Sawa. Mantra tersebut merupakan pujian terhadap Dewa Siwa dalam aspeknya sebagai dewa yang memiliki sifat menakutkan.
Lihat juga...