Perubahan Cuaca Akibatkan Tangkapan Ikan Nelayan di Lampung Berkurang

SELASA, 26 JANUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG—Musim angin barat yang melanda kawasan pantai selatan Lampung  saat ini memaksa para nelayan berhenti melaut. Untuk menghindari kerugian terlalu besar selama berhenti melaut, para nelayanpun memutuskan untuk menimbun hasil tangkapan ikan sebelumnya.


Menurut Sihabudin Kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Way Muli Kecamatan Rajabasa pada musim angin barat seperti sekarang ini kondisi cuaca di laut cenderung tidak bersahabat. Ombak lebih sering pasang sehingga para nelayan merasa khawatir jika harus memaksakan pergi melaut. Ia mengungkapkan perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan di awal tahun berimbas pada cuaca perairan.
“Kondisi cuaca di perairan Lampung sangat tidak bersahabat dan bisa membahayakan keselamatan nelayan. Makanya saat ini para nelayan memilih untuk berhenti melaut sementara hingga kondisi cuaca kembali normal,” ujar Sihabudin saat ditemui media Cendananews.com di Tempat Pelelangan ikan Way Muli Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan,Selasa (26/1/2016).
Sihabudin mengungkapkan dengan berhentinya para nelayan untuk melaut, otomatis ikan pun saat ini sulit didapatkan termasuk di tempat penjualan ikan (TPI). Di sisi lain, para nelayan ada yang sengaja menimbun ikan untuk dijual nanti pada hari libur Imlek. Hal ini terpaksa dilakukan agar mereka tidak mengalami kerugian yang terlalu besar akibat tidak melaut.
“Ikan-ikan yang mereka timbun saat ini rencananya akan mereka jual pada musim libur Imlek demi mendapatkan harga yang lebih dari biasanya. Dengan demikian mereka tidak akan terlalu merasa rugi karena berhenti melaut selama musim angin barat,” kata Sihabudin.
Diterangkannya, selama ikan laut sulit diperoleh di perairan harga penjualan ikan bisa meningkat minimal hingga 2 kali lipat dibanding hari biasa. Kalau misalnya di hari biasa per kilonya dihargai Rp7 ribu, maka saat musim angin Barat harganya bisa mencapai Rp14 ribu. Paling tidak ini tentu akan cukup membantu para nelayan selama mereka tidak melaut.
Berdasarkan informasi yang didapatnya, lanjut Sihabudin, musim angin barat yang saat ini terjadi akan berlangsung hingga awal Februari ini. Sejumlah kapal nelayan pun pada akhirnya disandarkan di dermaga dan tidak nampak aktifitas melaut di dermaga.
Pantauan Cendana News, berkurangnya hasil tangkapan ikan laut di Perairan Kalianda Lampung Selatan tersebut mempengaruhi jumlah penjualan ikan di pasar ikan Kalianda Lampung Selatan. Salah satu pedagang ikan di Kalianda, Iwan, mengaku saat ini beberapa pedagang yang biasa berjualan sementara belum berjualan akibat kurang pasokan ikan.
“Kita menjual ikan hasil tangkapan nelayan meski barang ikan yang dijual jumlahnya lebih sedikit dibandingkan bulan sebelumnya”ungkap Iwan.
Sihabudin selaku kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Way Muli Kecamatan Rajabasa mengungkapkan Nelayan di Way Muli saat ini tercatat sekitar 573 nelayan  terdiri dari anggota nelayan pemilik kapal besar ukuran diatas 15 GT, nelayan ketinting, nelayan pemilik bagan di Perairan Pesisir Rajabasa.
Selain itu jumlah kapal besar sebanyak 30 unit perahu besar, 120 perahu ketinting, perahu tanpa mesin 190 unit yang ditempatkan di area pelabuhan pendaratan ikan Way Muli.
Berdasarkan catatan TPI Way Muli Kecamatan Rajabasa ungkap Sihabudin hasil tangkapan ikan di tahun 2002 hingga 2006 mengalami  peningkatan  sementara ditahun 2011 hingga tahun 2015 hasil tangkapan menurun akibat pengaruh musim.
“Catatan kita hasil tangkapan ikan selama beberapa tahun ini mengalami penurunan akibat pengaruh musim di perairan,” ujar Sihabudin.
Saat ini di TPI Way Muli berdasarkan catatan  hasil tangkapan nelayan mencapai 5-7 ton ikan berbagai jenis per bulan saat hasil tangkapan dalam keadaan meningkat dan kondisi cuaca baik  sementara untuk penurunan mencapai sekitar 5 ton perbulan terutama dalam kondisi cuaca buruk.
Sebagai nelayan Sihabudin mengungkapkan kondisi dermaga TPI Way Muli saat ini dirasa masih kurang bagus bagi para nelayan bahkan lokasi  sandar kapal malah mengganggu karena pintu dermaga tertutup pelabuhan yang dibuat oleh pemerintah.
“Spesifikasi bangunan dermaga yang dibuat oleh pemerintah tidak sesuai dengan kondisi kapal milik para nelayan di Rajabasa tapi bagaimanapun tetap kita gunakan”ujarnya.
Area dermaga pendaratan ikan Way Muli saat ini menurut Sihabudin  memiliki luas 190 meter persegi sementara tanggul penahan gelombang yang dibangun di area tersebut saat ini mencapai 5000 meter dari Kunjir hingga Way Muli setinggi 3 meter yang berguna untuk melindungi area dermaga dan perumahan penduduk Way Muli.
Lihat juga...