Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Bermula dari perangai nakal di waktu kecil, Aflaharani Uhacham (21), selepas dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) terjun ke bidang olahraga gulat. Ia ingin bisa berprestasi dan menjadi atlit gulat putri profesional. Kendati bidang olahraga itu penuh resiko, Afla, demikian sapaan akrabnya, tak cemas kehilangan feminisme dan kecantikannya.
Aflaharani Uhacham
Jangan salah sangka, kendati berparas cantik dengan tubuh tinggi semampai, Afla bisa menaklukkan pria dengan teknik gulatnya. Itu pernah dilakukannya ketika pada suatu ketika mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia ditabrak oleh seorang pria, dan secara spontan Afla menghajarnya.
“Itu terjadi reflek begitu saja karena saya merasa jengkel ditabrak”, ujarnya.
Afla ditemui di kediamannya, di Desa Sidokarto, Godean, Sleman, DI. Yogyakarta, Senin (18/1/2016), menuturkan, pilihan bidang olahraga gulat itu semula tidak pernah terpikirkan. Ketika itu, tahun 2011, ia ditawari mengikuti seleksi atlit gulat putri di Sleman oleh seorang kawannya. Dalam pikirnya gulat adalah seni bela diri yang menyenangkan, sehingga Afla menerima tawaran itu. Dari kecil, aku Afla, ia memang sudah tomboy, nakal dan bahkan sering berkelahi. Di saat masih di bangku SMP, ia bahkan dikenal sebagai jagoan genk. Berkelahi dengan sesama perempuan dan laki-laki sering dialami. Dan, hampir setiap semester ayahnya dipanggil ke sekolah karena kenakalannya itu.
Aksi Aflaharani Uhacham di arena
Afla mengatakan, seleksi sebagai atlit gulat putri yang ditawarkan oleh seoarang kawannya waktu itu diadakan untuk memenuhi kebutuhan atlit gulat putri di Sleman. Dalam seleksi pertama itu, Afla diuji ketahanan fisiknya. Caranya dengan disuruh rolling atau berguling di atas matras, dibanting dan dijatuhkan di matras. Waktu itu, kata Afla, sakitnya melebihi ketika berkelahi sungguhan. Tetapi, Afla tak bergeming. Ia justru merasa tertantang dan akhirnya lolos dalam seleksi tersebut.
Hanya berselang 4 bulan sesudahnya, secara tidak terduga Afla terpilih untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) 2011, yang sekarang menjadi Pekan Olahraga Daerah (PORDA). Untuk pertamakalinya, Afla mewakili Kabupaten Sleman untuk bertanding di Kelas 63 Kilogram Gulat Bebas Putri. Tidak dinyana lagi, baru berlatih 4 bulan itu Afla mampu menyabet medali perunggu alias juara tiga gulat putri se-DIY.
“Ini menjadi pengalaman luar biasa, karena sebelumnya tidak pernah ikut lomba. Sangat berbeda dengan berkelahi di luar yang tidak ada aturannya”, ucapnya.
Aflaharani Uhacham dengan medali kebanggaannya
Dari pengalaman itu pula, Afla semakin yakin dengan bakat gulatnya. Dan, prestasi demi prestasi pun diraihnya. Pada tahun 2013, ia menyabet juara satu dalam Pekan Olahraga Pelajar (POPDA) 2013 tingkat provinsi dan mendapat medali emas. Lalu, pada PORDA DIY 2013 meraih medali perak. Afla yang terus berlatih keras itu, pun pernah bertanding di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Gulat Senior 2014. Namun, sayang, ia mendapat lawan tangguh dari Papua sehingga harus menerima kekalahan. Tetapi, Afla mengaku mendapat pengalaman berharga dari kekalahannya itu. “Bahwa, melawan fisik kuat, harus lebih mengandalkan teknik dan pikiran”, cetusnya.
Gagal di sebuah ring pertandingan, bagi Afla bukan berarti harus menyerah selamanya. Ia bahkan terus berlatih meningkatkan kemampuan. Hasilnya, pada tahun 2015 ia mampu meraih peringkat lima besar dalam seleksi atlit gulat putri untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Artinya, Afla yang kini tercatat sebagai mahasiswi Semester IV Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dipastikan akan turut bertanding di Pekan Olahraga Nasional 2016 nanti.
“Cita-cita saya menjadi guru olahraga. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika nanti menjadi atlet profesional”, pungkasnya.