
Jika hendak menyalahkan pengunjung yang membuang sampah, khususnya sampah berupa kemasan makanan dan minuman, lalu bagaimana dengan sampah-sampah berupa batok kelapa muda yang banyak dijajakan pedagang di sekitar pantai? Keuntungan besar memang didapat ketika pembeli pun membludak. Tetapi jika tak disertai kesadaran pedagang membersihkan lokasi jualan dan kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya. Maka, tak ayal lagi, jadilah pantai beralih fungsi sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Ketika pengunjung ramai datang guna menikmati keindahan pantai. Kini, ketika pengunjung pergi, tinggallah warga sekitar harus menikmati “keindahan” tumpukan sampah yang semakin lama semakin menimbulkan bau tak sedap.
“Ini (tumpukan sampah) perilaku para pengunjung dan juga pedagang di sini. Seharusnya baik pengunjung atau pedagang tidak buang sampah sembarang gini, selain kotor sampah ini juga bisa bikin banjir,” ujar Fachreza, salah seorang warga Lhokseuamwe, yang ditemui Cendana News, Senin (4/1/2015).
Jika pengunjung tak sadar membuang sampah pada tempatnya, jika pedagang juga tak sadar mengumpulkan dan lalu membuang sampah pada tempatnya, pun demikian para petugas juga tidak segera sadar membersihkan sampah di Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, maka siapa yang bertanggung jawab agar Pantai Ujong Blong kembali cantik dan elok seperti sebelum libur panjang tiba?