RABU, 27 JANUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA—Di tengah riuh kabar Gafatar, warga Yogyakarta dikejutkan oleh kabar adanya seorang warga Bantul yang disebutkan tewas di Suriyah setelah sejak dua tahun lalu bergabung dengan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Pihak keluarga yang dihubungi, membenarkan kabar tersebut.
![]() |
| Salim Rosidi setelah bergabung dengan ISIS |
Salim Rosidi, warga asal Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, dikabarkan tewas di Suriyah. Salim disebut-sebut bergabung dengan ISIS sejak tahun 2014 lalu. Meski meminta identitasnya disamarkan, namun Hf, demikian inisialnya, adik kandung dari Salim Rosidi bersedia memberikan keterangan.
Ditemui di kediamannya, Rabu (27/1/2016), HF membenarkan jika Salim Rosidi, kakak kandungnya, memang tewas di Suriyah. Kabar itu sebenarnya sudah diterima pihak keluarga sejak Mei 2015 lalu, namun baru diketahui publik beberapa hari ini. Hf menjelaskan, pihak keluarga sudah tahu jika Salim Rosid bergabung dengan ISIS, karena saat itu Rosidi memang pamit pergi ke Suriyah untuk bergabung dengan ISIS. Kendati pihak keluarga tak mengizinkan, namun Rosidi yang sejak kecil berkarakter keras kepala tetap nekat pergi.
![]() |
| Salim Rosidi sebelum gabung dengan ISIS |
Hf mengatakan, Salim Rosidi yang lahir pada 1988, sejak kecil dikenal berwatak keras. Di masa remajanya, ia juga nakal dan sering terlibat mabuk-mabukan dan balapan liar. Namun sejak lulus dari SMA tahun 2006, Salim berubah alim. Ia kemudian sering belajar agama di pondok pesantren. Sejauh pengetahuan keluarga, Salim pernah belajar agama di sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur selama setengah tahun, lalu pindah ke berbagai pondok pesantren lainnya di Yogyakarta.
Setelah itu, pada sekitar tahun 2011-2012, Salim melanjutkan sekolah di LIPIA Jakarta, yaitu sebuah lembaga pendidikan keagamaan asal Arab Saudi. Hf menduga, Salim mulai mendapat pengaruh garis keras dari pergaulannya di Jakarta dan dari internet. Sebab, belum sempat lulus dari LIPIA, pada tahun 2014 Salim kemudian pamit hendak pergi ke Suriyah untuk bergabung dengan ISIS.
“Waktu itu, Mas Salim pamitnya memang mau bergabung dengan ISIS karena ingin mati sahid”, ujar Hf.
Namun demikian, sebelum pamit pegi ke Suriyah itu, tahun 2010 Salim sempat menikah dengan seorang perempuan asal Solo, Jawa Tengah. Istrinya sempat tinggal beberapa lama di Bantul, namun kemudian pulang ke asalnya di Solo. Kabar meninggalnya Salim di Suriyah, kata Hf, pertama kali juga didapatkan dari istri Salim tersebut.
![]() |
| Kapolsek Bambanglipuro, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Yayan Dewayanto, SH., MH. |
Sementara itu, Hf mengaku kontak terakhir dengan Salim terjadi pada Oktober 2014. Waktu itu, Salim mengabarkan jika sudah berada di Suriyah. Tidak ada upaya pencarian yang dilakukan oleh pihak keluarga, karena menurut Hf, keluarga sudah iklas dengan pamitnya Salim yang ingin mati sahid.
Dan, selama berada di Suriyah, kata Hf, Salim banyak mengunggah foto-fotonya yang berpakaian khas ISIS sembari menyandang senapan laras panjang jenis AK 47 di akun facebooknya. Namun menjelang kabar kematiannya, foto-foto tersebut dihapus. “Lalu, Salim justru menulis status jika dirinya sudah berada di Yogyakarta”, ungkap Hf.
Sementara itu, Kapolsek Bambanglipuro, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Yayan Dewayanto, SH., MH., yang dikonfirmasi membenarkan adanya kabar tersebut. Pihaknya juga sudah berusaha melacak keberadaan Salim Rosidi ketika pertama kali dikabarkan bergabung dengan ISIS pada tahun 2014.
“Kami mendapat informasi kematian Salim dari pemerintah desa setempat sepekan lalu”, katanya.
Yayan mengatakan, sejauh ini pihaknya juga belum mendapatkan bukti keterlibatan Salim di dalam ISIS, meskipun pihak keluarga sudah mengakuinya. Karena itu, pihaknya mengimbau, agar masyarakat lebih waspada dengan pergaulan anak-anakanya. Juga meningkatkan keamanan lingkungan. “Kalau ada orang tidak dikenal dan tidak bersosiasilasi segera diinformasikan ke polisi terdekat agar bisa diantisipasi”, pungkasnya.

