“Budaya, Kehormatan dan Kebanggaan” Masyarakat Jambi Diwakili oleh Anjungan Jambi di TMII

RABU, 27 JANUARI 2016
Jurnalis: Miechell Kuagouw / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Miechell Kuagouw

LIPUTAN KHUSUS—Cikal bakal Provinsi Jambi dimulai pada tanggal 6 Januari 1948 yang diawali dengan terbentuknya pemerintahan Kota Jambi pada tanggal 17 Mei 1946. Dan Kota Jambi resmi menjadi Ibukota Provinsi Jambi pada tanggal 6 Januari 1957 sesuai dengan UU No.61 tahun 1958 di era pemerintahan Gubernur Djamin Datuk Bagindo ( 1957 ) berlanjut kepada Gubernur berikutnya Joesoef Singedekane (1957-1966). 

Pintu masuk halaman Anjungan Jambi

Jambi merupakan asal Bangsa Melayu yaitu dari Kerajaan Malayu di daerah Batanghari, Jambi. Hal ini menyebabkan mayoritas masyarakat Jambi adalah dari suku Melayu yang merupakan penduduk asli. Selain itu, ada suku Kerinci di daerah Kerinci dan sekitarnya yang ditilik secara sejarah dan budayanya merupakan bagian dari rumpun Minangkabau.
Namun ada juga suku asli pedalaman yang cukup primitif di Provinsi Jambi, yaitu Suku Kubu dan Suku Anak Dalam. Menariknya, adat dan kebudayaan mereka pun sangat berdekatan dengan Minangkabau. Masyarakat Jambi semakin heterogen dengan masuknya suku dan etnis pendatang ke daerah tersebut yang berasal dari Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda, Cina, dan India.
Masyarakat Jambi sangat relijius, ini terbukti dengan beragam agama yang ada disana hingga saat ini, yaitu pemeluk agama Islam sebagai mayorita, dan sisanya adalah Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghuchu. Letak Jambi yang strategis dalam segitiga ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura menjadikan Jambi merupakan salah satu daerah yang berkembang cukup pesat dalam perekonomian secara perkapita.
Replika Tari Sekapur Sirih
Penduduk Ibukota Jakarta bahkan Jabodetabek ( Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi ) tidak perlu khawatir berjalan jauh ke Pulau Sumatera untuk mengenal Provinsi Jambi, mereka bisa datang langsung mengunjungi Anjungan Jambi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di kawasan Jakarta Timur yang merupakan miniatur Bangsa dan Negara Republik Indonesia buah pemikiran Ibu Negara Siti Hartinah (Tien Soeharto).
Bangunan rumah adat Jambi dengan ukiran dan pahatan kayu khas budaya daerah Jambi sudah menebar aura Melayu yang sangat kental saat pengunjung secara perlahan meniti anak tangga menuju pintu masuk rumah adat Jambi. 
Di teras anjungan, pengunjung disuguhi dengan ketenangan yang dihiasi cermin dan lampu antik zaman lampau sesuai ciri khas adat daerah Jambi. Dan rasa ingin tahu pengunjung untuk semakin masuk kedalam anjungan semakin besar kala menjumpai replika Tarian Rangguk asal Kabupaten Kerinci, Jambi yang menggambarkan kegembiraan muda-mudi Jambi dalam menyambut tamu yang datang berkunjung. Adapun Tarian ini juga seringkali digunakan untuk menyambut panen raya.
Replika Pelaminan Putro Ratno
“Bagian dalam rumah adat Jambi terdiri dari beberapa bagian yang menarik, yaitu ruang tengah, ruang tidur utama, kamar anak gadis, dan ruang Laren. Dimana ruang tengah adalah sering digunakan sebagai ruang penyambutan tamu agung kerajaan atau diadakannya pesta pernikahan mulia, ruang tidur utama adalah tempat kepala keluarga atau Raja beristirahat bersama istri, kamar anak gadis merupakan tempat bercengkerama sesama anak gadis sekaligus ruang menenun dan membatik, terakhir ruang Laren adalah juga digunakan sebagai ruang tamu sekaligus ruangan belajar mengaji serta ruangan makan bersama sambil bercengkerama antar keluarga dan anak-anak gadis,” jelas Suwitnyo, penjaga sekaligus pemandu wisata anjungan Jambi TMII kepada Cendana News.
Di ruang utama juga dapat disaksikan replika Pelaminan Putro Ratno yang merupakan peninggalan Raja-Raja Jambi masa lampau untuk digunakan sebagai tempat untuk acara pernikahan dan penobatan Raja. 
Untuk acara pernikahan, maka Pelaminan Putro Ratno di masa lampau memiliki 7 (tujuh) anak tangga yang melambangkan mempelai pria berasal dari keturunan raja, 5 (lima) anak tangga melambangkan mempelai pria berasal dari golongan rakyat biasa, dan 3 (tiga) anak tangga jika mempelai berasal dari orang terkemuka. Namun sejak agama Islam masuk ke daerah Jambi, maka hal ini berubah sehingga yang digunakan hanya 3 (tiga) anak tangga saja dalam setiap upacara pernikahan.
“Replika penari didepan Pelaminan Putro Ratno adalah replika Tarian Sekapur Sirih, yang biasa digunakan oleh Raja Sepucuk Jambi Sembilan Lurah jaman dahulu untuk menyambut Tamu Agung. Tapi sampai sekarang tarian ini masih disuguhkan oleh Pemerintah Kota maupun Provinsi Jambi jika ada tamu-tamu penting yang berkunjung,” lanjut Suwitnyo lagi kepada Cendana News sambil menunjuk kearah replika para penari Tarian Sekapur Sirih yang sangat luar biasa tersebut.
Anjungan Jambi kian menarik hati tatkala mata tertumpu pada pakaian-pakaian adat masyarakat Jambi yang merupakan perpaduan budaya Melayu dan Minangkabau. dapat dilihat langsung busana adat dari Kabupaten Batanghari, Bungo Jambi, Kerinci, Sarolangun, Tebo Jambi, Merangin Jambi, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Kota Sungai Penuh, dan busana adat sehari-hari masyarakat Jambi.
Akhirnya, ukiran menarik di dinding rumah adat anjungan Jambi yang berbentuk dua ekor angsa mengapit sebilah keris menutup perjalanan luar biasa ke anjungan Provinsi Jambi yang sangat terkenal dengan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet tersebut. 
“Jangan sampai terlewat untuk menyaksikan senjata-senjata tradisional masyarakat Jambi ya mas,” pesan Suwitnyo kepada Cendana News sambil menunjukkan gugusan tombak, pedang, keris, dan kelewang di belakang replika penari Tarian Sekapur Sirih.
“Budaya, Kehormatan, dan Kebanggaan” seluruh masyarakat Jambi terasa sudah diwakili dengan berdiri kokohnya anjungan Jambi di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai sebuah Bangsa yang besar serta dikatakan majemuk karena memiliki keragaman budaya, suku, serta agama. Dan anjungan Jambi membuat munculnya rasa bangga sebagai Bangsa Indonesia.
Lihat juga...