JUMAT, 15 JANUARI 2016
Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Eko Sulestyono
NASIONAL—Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (15/01/2016) baru saja selesai menggelar konferensi pers dengan para awak media di Ruang Rapat Kantor Pusat BPS, Jalan dr. Soetomo, Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang dihadiri langsung oleh Kepala BPS Pusat, Dr. Suryamin, M.Sc.
![]() |
| Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Dr. Suryamin, M.Sc |
Selain memaparkan berbagai hal yang terkait dengan perkembangan statistik di Indonesia, BPS juga membagikan press release yang berkaitan dengan perkembangan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap beberapa mata uang negara lain hingga Desember 2015.
Selain itu BPS juga melaporkan perkembangan ekspor dan impor Indonesia hingga Desember 2015 dan perkembangan upah nominal para pekerja dan buruh di Indonesia hingga Desember 2015.
Mata uang Rupiah kembali terdepresiasi (melemah) sebesar 0,49 % terhadap Dolar Amerika (USD) pada bulan Desember 2015. Level terendah Rata-rata secara nasional kurs tengah eceran Rupiah terhadap USD terjadi pada minggu ketiga bulan Desember 2015, yaitu tercatat sebesar Rp. 14.013,90 per USD.
Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah eceran Rupiah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (Mataram) tercatat sebesar Rp. 14.080,00 per USD pada Minggu ketiga bulan Desember 2015.
Rupiah terdepresiasi (melemah) 0,85 % terhadap Dolar Australia (AUD) pada Desember 2015, dengan level terendah Rata-rata secara nasional kurs tengah eceran Rupiah terhadap AUD terjadi pada Minggu kedua bulan Desember 2015 yang mencapai Rp. 10.101,87 per dolar Australia.
Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah eceran Rupiah terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pangkal Pinang) yang mencapai Rp. 10.213,75 per AUD pada minggu kedua bulan Desember 2015.
Rupiah terdepresiasi (melemah) 2,16 % terhadap Yen Jepang (JPY) pada bulan Desember 2015. dengan Level terendah Rata-rata secara nasional kurs tengah eceran Rupiah terhadap JPY terjadi pada minggu ketiga bulan Desember 2015 yang mencapai Rp. 114, 85 per JPY.
Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah eceran Rupiah terjadi di Provinsi Maluku Utara (Ternate) yang mencapai Rp. 116,69 per JPY pada minggu ketiga bulan Desember 2015.
Rupiah terdepresiasi (melemah) 2,80 % terhadap mata uang Uni Eropa (Euro) pada bulan Desember 2015, dengan level terendah Rata-rata secara nasional kurs tengah eceran Rupiah terhadap Euro terjadi pada minggu ketiga bulan Desember 2015 yang mencapai Rp. 15.314,31 per Euro pada minggu ketiga bulan Desember 2015.
Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah eceran Rupiah terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Kendari) yang mencapai Rp. 15.436,76 per Euro pada minggu ketiga bulan Desember 2015.
Sementara itu, nilai tukar mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain bervariasi, nilai tukar mata uang untuk transaksi besar yang meliputi aktivitas ekspor, impor sawo, derivatve dan lain-lain. Data-data tersebut dipantau dan dilaporkan secara periodik oleh Bank Indonesia.
Di sisi lain transaksi eceran penukaran mata uang melalui tempat penukaran mata uang (Money Changer) yang tersebar di seluruh Indonesia yang menggambarkan tingkat retail spot rate suatu mata uang.
“BPS melaporkan informasi nilai tukar eceran Rupiah secara periodik, statistik yang dihasilkan dapat digunakan untuk melihat pengaruh nilai tukar transaksi besar terhadap nilai tukar transaksi eceran, perkembangan nilai tukar Rupiah transaksi eceran, melengkapi informasi “real time” yang beredar di Internet dan lain sebagainya” demikian kata Suryamin, Kepala BPS Pusat, saat konferensi pers dengan wartawan di Kantor BPS Pusat Jakarta.
Beberapa mata uang negera lain (asing) yang dimonitor dalam Berita Resmi Statistik (BRS) ini mencakup empat jenis mata uang negara lain, yaitu Dolar Amerika (USD), Dolar Australia (AUD), Yen Jepang (JPY) dan mata uang Uni Eropa (Euro).
Alasannya keempat jenis mata uang asing tersebut yang paling banyak diperdagangkan di 34 provinsi di seluruh Indonesia, sehingga BPS dengan mudah dapat memonitor perkembangan transaksinya.