Hidroponik, Solusi Lahan Minim Sumber Air

SELASA, 12 JANUARI 2016
Penulis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

CATATAN JURNALIS—Di tengah sulitnya air akibat intensitas hujan yang rendah tahun ini, berkebun dengan sistem hidroponik bisa menjadi solusi. Namun, masih jarang masyarakat yang mau memanfaatkan sistem tersebut. Padahal, bercocok-tanam sistem hidroponik hasilnya memuaskan.


Selain bisa menjadi solusi kawasan minim sumber air, sistem hidroponik juga  memungkinkan petani bercocok-tanam di segala musim. Hasil panennya pun bisa melimpah. Petani hidroponik asal dusun Klurak Baru, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Setyo Budi, ditemui Selasa (11/1/2016), mengatakan, bertani sistem hidroponik merupakan cara bercocok tanam dengan media air sebagai pengganti tanah, dan hampir semua jenis sayuran bisa ditanam dengan cara tersebut.
Dengan memanfaatkan loteng bangunan rumahnya seluas 400 meterpersegi, Setyo menanami beberapa jenis sayuran dalam 6000 titik lubang. Jenis sayuran yang ditanamnya antara lain slada air hijau dan merah serta cabai rawit. Menurut Setyo, bercocok tanam dengan sistem hidroponik lebih menguntungkan. Tidak tergantung musim, baik musim kemarau maupun musim hujan.
Dengan sistem hidroponik itu, Setyo menggunakan pompa air rendam. Air ditempatkan dalam wadah kontainer disirkulasikan menggunakan pompa air rendam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Sementara itu, kebutuhan air untuk bercocok tanam dengan cara hidroponik, justru lebih sedikit dibandingkan dengan bercocok-tanam di lahan tanah. 
Karena itu, hidroponik bisa menjadi solusi bagi lahan pertanian yang minim sumber air, apalagi bagi lahan tadah hujan. Selain itu, sistem hidroponik juga membuat pertumbuhan tanaman lebih cepat 50 Persen. 
Sementara itu, dari lahan tanaman hidroponik seluas 400 meterpersegi, Setyo mampu memanen daun slada sebanyak 20 Kilogram sehari, dengan harga sekilonya Rp 75.000 untuk jenis slada hijau dan Rp 180.000 perkilo untuk slada merah.
Lihat juga...