Hampir 71 Tahun Indonesia Merdeka, Kampung Pulonggida Kendari Belum Nikmati Listrik

SELASA, 12 JANUARI 2016
Penulis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Rustam

KENDARI—Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kampung Pulonggida yang berada di pinggiran Kota Kendari hingga sekarang belum menikmati listrik. Bertahun-tahun warga Kampung Pulonggida hidup menggunakan lampu minyak atau bahasa daerah Tolaki menyebutnya hulo bele-bele. Anak-anak belajar pada malam harihanya diterangi dengan lampu yang terbuat dari kaleng, lalu diberi sumbu dan minyak tanah.


“Sudah hampir 71 tahun lamanya Indonesia merdeka, masyarakat Pulonggida belum menikmati yang namanya penerangan listrik. Sudah sering diperjuangkan ke Pemerintah Kota Kendari, tapi ujung-ujungnya PLN yang punya kewenangan,” kata Sahruddin, Ketua RT 15 Kelurahan Watulondo, Kecamatan Powatu, Kota Kendari, Selasa (12/1/2015).
Kampung Pulonggida berada di Lorong Konggoasa. Jaraknya hanya sekitar 2 Km dari jalan poros yang menghubungkan Kota Kendari dengan Kabupaten Konawe. Atau sekitar 9 Km dari kantor walikota Kendari menuju arah barat. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi sudah 71 tahun Kampung Pulonggida belum merasakan namanya penerangan listrik yang bersumber dari pembangkit listrik PLN.

Posisi kampung tua ini berada di lembah, sehingga siynal komunikasi telepon seluler juga tidak ada. Mata pencarian masyarakatnya, kebanyakan bergerak di jasa pertukangan kayu dan bercocok tanam. Ny Sunubi (60) yang tinggal di Kampung Pulonggida lebih 30 tahun, belum pernah melihat yang namanya listrik PLN.

“La akuto moiya ikeni tolumbulo otau torea, mano oki kihori mondambeli listrik PLN. Laiki listrik mano ari negenset niolino ananggu. Mano hendeino mosaito,” jelas Ny Sunubi dalam bahasa daerah Tolaki yang artinya sudah lebih 30 tahun lamanya tinggal di Pulonggida, belum pernah melihat listrik PLN. Ada listrik tapi bersumber dari mesin genset yang dibeli anaknya dan sekarang sudah rusak.

Ny Sunubi terpaksa menggunakan bahasa daerah Tolaki saat berkomunikasi dengan Cendana News karena dia tidak fasih menggunakan bahasa Indonesia. Usianya sudah lebih 60 tahun. 
Informasi yang diperoleh dari Sahruddin, lelaki yang sudah menjabat 9 tahun sebagai Ketua RT 15 Kelurahan Watulondo,  pada tahun 2013, PLN sudah mendirikan dan memasang tiang listrikdan dilanjutkan pada tahun 2014, PLN memasang instalasi jaringan listrik.

Saat PLN memasang instalasi listrik, warga disampaikan agar segera mendaftar dengan membayar uang muka sebesar Rp 1,8 juta. Tapi ada juga warga yang baru membayar uang  Rp 1 juta.
Berdasarkan data yang dimiliki Sahruddin, ada 15 Kepala Keluarga (KK) yang sudah membayar uang muka ke rekening PLN. Sedangkan yang bermohon pemasangan listrik sebanyak 40 KK dari 60 KK yang tinggal di Kampung Pulonggida.
Meski sudah membayar uang muka pemasangan listrik, namun hingga sekarang PLN belum memberikan sambungan listrik. Warga Pulonggida masih harus menggunakan lampu minyak untuk penerangan malam hari.

Warga sudah bertanya penyebab keterlambatan penyambungan listrik, namun jawaban yang diperoleh dari PLN bahwa saat ini masih kekurangan daya, sehingga permohonan belum bisa dilayani.
Karena keterlambatan PLN menyambung listrik ke rumah warga Pulonggida, muncul isu yang beraroma pemerasan yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab. Sebab beberapa warga tidak mampu dari kelurahan lain mengaku, tidak ada pungutan pembayaran dari PLN.
“Kalau sampai tidak ada pemasangan, atau kalau ada pemasangan, saya diharuskan bayar lagi. Saya akan minta kembali uang pembayaran yang sudah distor. Saya sudah lama sabar menunggu, uang yang distor dikumpulkan dengan susah sampai tidak makan, tapi sampai sekarang listrik tidak menyala,” kata Ny Ati dengan nada kesal.


Kehidupan warga Kampung Pulonggida cukup memprihatinkan. Namun perhatian Pemerintah Kota untuk meningkatkan taraf hidup masih sangat terbatas. Ini dapat tergambar saat melintas di jalan Kampung Pulonggida. Saat masuk di Lorong Konggoasa, jalan penghubung menuju perkampungan ini terlihat masih beraspal.
Setelah berjalan sekitar 1 Km, tepatnya di simpang dua, jalan aspal putus. Untuk terus menuju Kampung Pulonggida, kondisi jalan yang ditemui berbatu. Hanya saja jaraknya tidak jauh, dijumpai lagi jalan aspal di area perbukitan. 
Jalan aspal diperbukitan belum lama diaspal oleh Pemerintah Kota Kendari. Hal ini bertujuan agar kendaraan yang masuk ke Kampung Pulonggida tidak tergelincir pada saat hujan turun. Panjang aspal di perbukitan hanya sekitar 500 meter. 
Setelah menurun, kondisi jalan berbatu dan berlubang ditemui lagi. Jalan tak beraspal ini panjangnya sekitar 3 Km, hingga tembus di Sungai Pohara, perbatasan Kabupaten Konawe. 
Lihat juga...