Cerpen : Lelaki Bayaran

MINGGU, 17 JANUARI 2016
” Ini uangnya. Selesaikan hari ini. Dan saya tak mau ada jejak sedikitpun. Anda paham?,” instruksi seorang lelaki parlente kepada seseorang. Asap rokok dari cerutu yang dihisapnya memenuhi ruangan bergaya eropa itu. Mengkabutkan ruangan. Pekat dengan asap cerutu. Sebagimana berkabutnya pikiran dirinya yang sedang menyusun strategi untuk mendapatkan perempuan idamannya tanpa tedeng aling-aling.
” Siap,Pak,” jawab lelaki muda itu sambil mengambil bungkusan amplop coklat dan langsung meninggalkan lelaki parlente itu. 
Senyum kebahagian dari lelaki parlente itu mengiringi ngeloyornya lelaki muda  dari ruangan kerjanya yang super luas. Dengan senyum kemenangan, lelaki parlente itu memencet beberapa nomor pada handphone merk terkenal buatan terbaru. Tut…tut…tut…. Tersambung.
” Malam ini kita bisa bersama lagi wahai tuan putri. Tak ada lagi yang bisa menghalangi kita dalam menatap dunia yang indah ini. Ha ha ha,” ujar lelaki parlente itu sambil ngakak. Suaranya memecahkan keheningan ruangan kerjanya. Suara penyiar  televisi yang sedang menyiarkan berita banjir pun kalah kerasnya dengan tawa bahagianya.
” Ihh. Genit ah,” jawab suara seorang perempuan dari telpon.
Jawaban perempuan itu makin menambah tawa lelaki parlente itu. Gemanya menggelegar. Ada kebahagian yang menjalari sekujur tubuhnya. Dia membayangkan malam ini kembali akan memangsa indahnya tubuh perempuan itu hingga mareka terlelap dalam kesesatan jiwa. Tubuh yang sangat indah dan tak kalah klas dengan para selebritis yang sering dilihatnya di televisi. Dan untuk mendapatkan kemolekan tubuh wanita itu, dia siap dengan segala resikonya. Tak terkecuali menyingkir suami sang perempuan itu yang dianggapnya sebagai batu hadangan.
” Mulai malam ini dan seterusnya, kamu milik aku wahai putri yang jelita,” desis lelaki parlente itu dengan penuh kemenangan.
Lelaki muda itu memasuki rumah tipe sederhana itu dengan cara khasnya. Suasana sepi di komplek perumahan itu memudahkan dirinya untuk beraksi. Tanpa ada kesulitan secuilpun. Sebuah langkah yang mulus,’ desisnya dalam hati.
Dan hanya dalam hitungan menit,lelaki muda itu telah muncul dihadapan seorang lelaki muda seumuran dengan dirinya yang usai menunaikan sholat.
Kehadiran tiba-tiba lelaki muda tanpa diundang itu membuat sang penghuni rumah kaget. Sebuah hardikan berwibawa meluncur dari mulutnya.
” Siapa kamu? Tiba-tiba ada didalam rumah saya tanpa mengucapkan salam,” hardik sang penghuni rumah dengan nada keras.
lelaki muda itu tersenyum. Sudah terbiasa dirinya menerima hardikan semacam itu. Tak ada yang istimewa dengan hardikan sang tuan rumah.
” Saya diperintahkan seseorang untuk membunuhmu, wahai lelaki impoten,” jawab lelaki muda itu dengan narasi provokasi.
Sang tuan rumah terdiam. Tertegun mendengar narasi dari lelaki muda itu.
” Oh… Ternyata kamu suruhannya Tuan Timpas,” desis sang tuan rumah dengan nada ejekan.
” Kamu dibayar berapa? paling cuma 10 jutaaan. Ha ha ha. Murah amat nilaimu sebagai lelaki hebat,” sambung sang tuan rumah mengejek.
” Diam. Katakan saja, apa keinginanmu yang terakhir kali? Sampaikan pesanmu yang terakhir sebelum matamu melihat matahari yang terakhir kalinya,” ujar lelaki muda itu.
” Nikahi istri saya. Saya ikhlas menyerahkan istriku kepadamu daripada aku harus menyerahkan kepada lelaki tua bangka itu. lelaki koruptor dan penghianat bangsa itu,” jawab sang tuan rumah dengan nada keras.
Lelaki muda itu kaget. Sangat kaget dengan jawaban sang tuan rumah.
Malam mulai beranjak gelap. Arus lalulalang kendaraan terus mengular di jalanan utama Kota. Sebuah mobil mewah akhirnya berhasil melejit meninggalkan kemacetan yang amat mengular itu. Dan dengan kecepatan tinggi mobil mewah itu masuk ke dalam sebuah hotel mewah. Khusus kalangan tertentu dan berkasta tinggi. Dengan semangat 45,lelaki parlente itu langsung menuju lift. Beberapa lembarn diselipkannya. Aroma tubuh seseorang telah membuatnya tak tahan untuk bertemu. Otak besarnya telah membayangkan tubuh indah perempuan yang ditelponnya siang tadi. Dan dia akan menikmatinya hingga ajal menjemputnya.
Hanya dalam hitungan menit lelaki parlente itu telah tiba dalam kamar super mewah itu. tentu dengan harga yang super mahal pula. Begitu masuk kamar, lelaki itu mau copot jantungnya. lelaki muda yang menemuinya pagi tadi diruangan kerjanya telah ada dalam kamar.
” Kenapa kamu berada disini? Siapa yang mengutusmu,” hardik lelaki parlente itu.
” Rakyat. Rakyat miskin negeri ini yang telah mengirim aku untuk membunuhmu, wahai koruptor,” jawab lelaki muda itu dengan nada tegas.
” Mareka kaum miskin yang telah meminta jasa aku untuk mengantarkanmu ke naraka jahanam. Dan aku iklas menerima permintaan mareka tanpa bayaran. Malah aku yang membayar mareka dengan uang hasil korupsimu,” sambung lelaki muda itu.
” Apa kamu merasa bayaranmu kurang? Ini cek. Silahkan isi sendiri,” bujuk lelaki parlente itu.
Dan tanpa bantuan senjata, sebuah bogem mentah diayunkan lelaki muda berotot ke ulu hati lelaki tua itu. Dug. Hanya satu pukulan lelaki parlente itu langsung terjatuh. Kepalanya menghantam dinding kamar. Darah berceceran memenuhi dinding kamar. Lelakimuda itu puas. Wajahnya menampak sebuah kegembiraan. Ada kebahagian yang terpancar diwajahnya. Dan sebah ludahan kecil disemprotkannya kepada lelaki tua yang terkapar tanpa nyawa.
Lelaki muda itu sedang menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kopi dipinggir Kota. Matanya tertuju kepada sebuah acara televisi yang sedang menyiarkan matinya seseorang yang diduga sebagai koruptor.
” Buronan aparat hukum yang berinisial T ditemukan meninggal dalam sebuah kamar hotel klas super premium Kota . Disekitar tubuhnya polisi menemukan bercak-bercak darah yang berceceran. Ada dugaan Bapak T yang diduga telah menggelap dana masyarakat miskin milyaran itu bunuh diri,” narasi dari penyiar televisi itu.
” Akhirnya mati juga koruptor negeri ini,” umpat seorang pengunjung kedai kopi dengan nada berang.
” Iya. mareka telah membunuh kita secara pelan-pelan dengan aksi purbanya itu,” sambung temannya.
” Harusnya mareka itu langsung dibunuh saja. Tak usah diadili. langsung dihukum mati,” urai para penikmat kopi di kedai itu dengan nada sarat kebencian. Mendengar itu lelaki muda itu terdiam. Tertegun.
Lelaki muda itu pun langsung meninggalkan kedai kopi itu. Raungan suara motornya ramaikan malam yang semakin bising. lelaki itu terus membelah malam yang makin gelap mencari jatidiri yang hakiki sebagai manusia. 
Toboali, Bangka Selatan
Rusmin
Lihat juga...