Cerpen : Laknat

MINGGU, 17 JANUARI 2016
” Goblok. Dasar bodoh,” teriak seorang lelaki saat menyaksikan acara televisi yang sedang menanyangkan sebuah adegan tentang aksi bom bunuh diri di sebuah cafe di pusat Kota.
” Lelaki laknat. Bisanya cuma menghianati bangsa dan menyusahkan orang banyak,” sambungnya dengan narasi tinggi dan wajah garang.
” Sampai kapan kamu akan bertobat, wahai lelaki laknat,” tanyanya dalam hati. Sementara suara penyiar televisi terus menarasikan fakta peristiwa yang terjadi per detiknya. Di televisi adegan baku tembak masih terjadi hingga mayat-mayat bergelimpangan.
Malam mulai susuri bumi. Lelaki itu terus memacu kendaraan roda duanya hingga menembus kegelapan malam. Sebuah hutan kecil yang jauh dari pemukiman menjadi tujuannya. Dia ingin menemui seseorang. Dan saat baru memasuki hutan, beberapa lelaki muda bertubuh besar menyergapnya.
” Maaf. Tuan siapa dan apa tujuan memasuki daerah ini,” tanya seorang dari lelaki bertopeng itu.
” Saya Matgebuk. Saya ingin bertemu dengan pimpinanmu,” jawab lelaki itu dengan nada garang.
Mendengar nama Matgebuk, para penyergapnya langsung meminta maaf.
” Maaf Pak. Kami tidak tahu dengan Bapak. Silahkan lanjutkan perjalanan,” ujar seorang dari lelaki itu sambil membungkukkan badan.
Dengan diantar salah seorang dari para lelaki penyergapnya, Matgebuk tiba disebuah tempat yang sangat indah dan luas. Dikiri kanan tempat itu berdiri beberapa pohon-pohon yang rimbun dan tinggi. Panoramanya indah. Apalagi disebelah rumah yang hendak di tujunya terselip sebuah danau buatan yang sangat luas. 
” Selamat datang sahabat lama ku. Apa kabar kamu sekarang,” sambut seorang lelaki bertubuh gempal saat melihat kedatangan Matgebuk.
” Kita tidak perlu berbasa basi. Apa kamu belum bertobat,” tanya Matgebuk sambil menaiki tangga rumah.
” Saudara ku kan tahu, apa tujuan kita selama ini. Kami masih berjuang untuk tetap eksis dan hidup,” lanjut sang tuan rumah.
” Apa dengan cara membunuh? Apa dengan cara menghianati bangsamu? Apa dengan cara menyusahakan masyarakat? Apa itu dibenarkan? tanya Matgebuk dengan nada keras. Dan sebelum sang tuan rumah menjawab dengan cepat Matgebuk kembali bernarasi.
” Saya ingatkan kepadamu untuk menghentikan aksi purba ini. Sekali lagi saya katakan. kalau tidak kamu tahu resikonya,” sambung Matgebuk.
Lelaki sang pemilik rumah hanya terdiam. Hanya desis yang keluar dari mulutnya. Sebuah desahan yang amat dalam. Sebuah desahan yang menyiratkan perlawanan jiwa.
” Saya sahabatmu. Sahabat lamamu. Sama-sama berjuang untuk menegakkan kebenaran,” jawab sang tuan rumah.
” Benar. Tapi itu bukan cara yang tepat untuk memperjuangkan hak-hak kita. Negara ini punya aturan. Dan kita sebagai warganya wajib mematuhi aturan itu dengan cara-cara yang benar. Bukan dengan cara-cara purba dengan menyusahkan orang ramai,” jawabnya.
Matgebuk adalah seorang lelaki yang dikenal sebagai lelaki pemberani dan amat dicari aparat hukum karena aksinya yang selalu menantang aparat dan hukum. Dimata anakbuahnya lelaki lulusan sekolah tinggi ini adalah pemimpin yang bijaksana dan jarang menyusahkan anakbuah pergerakannya. Tak pernah berada dibelakang layar dalam sebuah aksi. Selalu didepan. Tak heran dia menjadi disegani kaum-kaum perlawanan lainnya. Dikalangan kaum-kaum perlawanan, dia menjadi tokoh penting dan amat sentral. Narasinya selalu jadi panutan.
Matgebuk masih ingat saat dalam sebuah aksi perlawanan di kawasan keramaian, lelaki itu mampu lolos dari penyergapan aparat hukum khusu yang telah mengincarnya. Dalam sebuah baku tembak yang hebat dan persis di film, dia diselamatkan seorang anak kecil. Dan semenjak dia tahu dari media bahwa anak kecil yang menyelamatkan jiwanya tak tertolong karena diterpa peluru yang harusnya menghantam dadanya, dia mulai meninggalkan kegiatan perlawanannya.
” Kalian bilang saya pengecut silahkan. saya bersumpah tak akan ikut dan memimpin perlawanan laknat ini. Saya tidak mau menyusahkan masyarakat. Saya sudah berdosa atas semua yang kita lakukan selama ini. Menyusahkan masyarakat. Tak ada manfaatnya,” narasinya kepada kawan-kawannya.
Kini dia menjalani hidup sebagai warga biasa. Tak ada istimewa yang terlihat dari seorang mantan pemimpin kaum perlawanan yang disegani. Hanya kearifan yang terlihat dari gaya bicaranya. Dia kini aktif sebagai petani. mengolah lahan bekas pertambangan yang dihibahkan seorang penguasaha untuk bekal masa depannya. Matgebuk aktif mengedukasi para petani. Sebagai petani dia merasa sangat bahagia dan tenang.
” Saya sangat bahagia saat ini. Sangat bahagia. Semua itu hidayah dari Allah yang Maha Penyayang yang menyadarkan saya untuk kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoinya,” ujarnya saat ditanya seorang wartawati dalam sebuah acara talkshow.
” Saya cuma menghimbau kepada semua kawan, sahabat dan rekan yang masih belum kembali ke jalan yang benar untuk segera hidup di negeri ini dengan benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Tak ada manfaatnya. Malah banyak mudharatnya,” himbaunya.
Malam makin merenta. Matgebuk pun melangkah pasti meninggalkan gedung televisi. Hatinya bahagia. Jiwanya bergelora. Tatapannya pasti menyongsong masa depan yang bahagia sebagai warga bangsa. Cahaya rembuan menghantarkannya hingga ke rumahnya. 
Toboali, Bangka Selatan
Rusmin
Lihat juga...