Anies Baswedan: Sungguh Layak Gelar Empu Ageng Seni Edhi Soenarso

SENIN, 5 JANUARI 2016
Jurnalis: KokoTriarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Seniman besar yang pernah dimiliki republik ini, Edhi Soenarso, telah berpulang ke rahmatullah. Namun, karya-karyanya akan terus ada sampai akhir zaman dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini. Patung Selamat Datang di Ibukota Jakarta, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat akan senantiasa menemani perjalanan bangsa ini. Edhi Soenarso juga bukan hanya seniman patung. Namun juga seorang pejuang veteran yang pernah merasakan dinginnya penjara kolonial Belanda.

Anies Baswedan

Dalam prosesi persiapan pemakaman seniman patung Edhi Soenarso di rumah duka, desa Nganti, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/1/2016), siang, tampak hadir di rumah duka, Menteri pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Selain sebagai menteri, tampaknya Anies juga datang sebagai mantan tetangga dekat almarhum. Anies, sudah sejak usia sekolah dasar mengenal Edhi Soenarso, dan acapkali melihat almarhum itu ketika sedang beraktifitas di bengkel seni patungnya, Jalan Kaliurang KM, 5 Sleman, Yogyakarta.
Anies mengisahkan, waktu itu di tepi Jalan Kaliurang Km 5 yang masih lengang, ada sebuah rumah luas dengan berbagai bongkahan material komponen patung-patung. Di belakang rumah itu ada bengkel patungnya. Anies yang ketika itu masih duduk di bangku sekolah dasar bersama teman-teman sebaya sering main dan menyaksikan proses pembentukan patung-patung. Rumah dan bengkel patung itu, katanya, hanya berada beberapa ratus meter saja dari rumahnya dahulu, dan Anies bersama kawan sebayanya mengenal pemilik bengkel patung itu sebagai Edhi Soenarso.
Sekiranya, Edhi Soenarso dan Anies sama-sama tidak akan menyangka sebelumnya jika keduanya akan menjadi orang penting. Sementara itu, Anies menilai, almarhum Edhi Soenarso dan almarhumah istrinya, Kustiyah, adalah tokoh dengan pergaulan nasional, namun berinteraksi sangat dekat dengan lingkungan di kampungnya. Di rumahnya yang cukup besar untuk ukuran masa itu, kata Anies, berbagai kegiatan sering digelar di bawah nama Paguyuban Ukel Gotro, sebuah komunitas di kampung. “Saya juga sesekali datang sambil melihat-lihat mobil Mas Satya Soenarso, (salah satu putra alm –red) yang terkenal sebagai pembalap di masa itu”, kenang Anies.
Maestro sekelas Edhi Soenarso, sambung Anies, tidak muncul di Republik ini setiap saat. Ia muncul dari kombinasi limpahan bakat, tempaan pengalaman, dan aliran dedikasi berkarya yang tiada henti.  Dari alm. Edhi Soenarso, masyarakat bisa belajar bahwa gelaran ribuan karya seni rupa yang dihasilkannya tidak muncul begitu saja dengan mudah, melainkan melalui kerja keras yang dilakukan dengan cinta, kreativitas dan sepenuh jiwa. Kerja keras dan rasa cinta terhadap bidang yang digelutinya itu, lanjut Anies, mengukuhkannya sebagai peletak dasar-dasar seni patung modern Indonesia di awal masa perkembangannya. Almarhum Edhi, menurut Anies, juga menjadi seorang pelopor teknologi cor logam untuk monumen, yang menyambung tradisi logam yang lama terputus dalam kesenian Indonesia.
Dari almarhum Edhi Soenarso pula, katanya, masyarakat bisa mengetahui ada banyak media untuk menampakkan rasa cinta terhadap tanah air, ada banyak cara berkontribusi terhadap negara, dan gelaran puluhan monumen dan diorama nasionalis karya almarhum menjadi saksinya. Mulai dari Monumen Selamat Datang di pusat ibukota Jakarta, Monumen Tugu Muda di Semarang, sampai Monumen Yos Sudarso di Biak, Papua. Juga diorama sejarah di Monumen Nasional Jakarta, sampai diorama sejarah di Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. Melalui karya-karya monumentalnya itu, almarhum Edhi Soenarso tak hanya menunjukkan betapa besar rasa cintanya terhadap tanah airnya, namun juga mengajak setiap orang yang melihatnya untuk mendapatkan pengalaman rasa yang sama.
Tak hanya dari karya-karyanya saja, sambung Anies, namun juga dari perjalanan hidupnya, masyarakat bisa memperoleh teladan seorang anak bangsa yang menyerahkan hidupnya untuk negaranya. Edhi Soenarso, tegas Anies, juga tidak hanya mendidikasikan perjuangannya melalui seni. Namun juga melalui perjuangan fisik mengangkat senjata dan bertaruh nyawa. Kiprahnya sebagai pejuang diawali dengan menjadi pasukan Samber Nyawa Divisi I, Batalyon III dan Resimen V Siliwangi. Bahkan, pada usianya yang ke-14 tahun, Edhi Soenarso sudah mencicipi penjara tentara Kerajaan Belanda, KNIL, saat menjadi tawanan perang. Dan, Kemerdekaan Indonesia tak membuatnya berhenti berjuang.
“Dari seluruh rangkaian hidupnya dan dari karya-karyanya, kita bisa memaklumi, bahwa sungguh layak gelar Empu Ageng Seni yang disandangkan kepadanya, dan sungguh pantaslah kita menghargai dan meneladaninya sebagai salah satu maestro terhebat yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Juga melalui karya-karyanya yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini, lewat inspirasi yang tumbuh, insyaallah akan mengalirkan pahala tanpa henti bagi almarhum Edhi Soenarso. Amin”, tutup Anies. (koko)
Lihat juga...