SENIN, 25 JANUARI 2016
Jurnalis: Fahrul / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Fahrul
SUMENEP—Momentum peringatan Hari Gizi Nasional masih menyisahkan potret buram, seperti yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Salah seorang anak penderita gizi buruk bernama Berna Rahmad (5) ditelantarkan oleh kedua orangtuanya. Sehingga anak tersebut diasuh oleh orang lain yang bukan keluarganya sendiri.
![]() |
| Berna Rahmad digendong ibu asuhnya (istri Niwa) |
Kondisi Rahmad sangat memprihatinkan, anak tersebut tidak seperti anak seusianya, tubuhnya kurus tidak bisa menggerakkan anggota badannya dan juga tidak bisa bicara. Namun akibat keterbatasan biaya, orang tua asuhnya baru mampu membawa ke Puskesmas setempat pada bulan lalu.
Menurut Niwa (50) orang tua asuh Rahmad mengaku, tiga tahun yang lalu dititipin anak melalui tetangganya oleh seorang ibu yang mengaku bernama Emy Rahmawati, sebagai ibu kandung anak penderita gizi buruk tersebut, dengan alasan ia akan bekerja ke luar negeri. Namun ia berjanji akan mengirimkan uang untuk biaya pengobatan dan setiap tahun akan mendatanginya, tetapi hingga kini ibu kandung rahmat tidak kunjung datang.

“Bahkan sekarang kami sudah kehilangan kontak dengan orang tua anak ini, tapi akan tetap kami rawat seperti anak sendiri,” kata lelaki asal Desa Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Senin (25/1/2016).
Meskipun ia sudah merawatnya selama tiga tahun dan sudah terjalin ikatan batin layaknya orang tua dan anak kandung, ia menyatakan tetap akan memberikan hak asuh kepada ibunya jika sewaktu-waktu ibunya datang. Ia murni hanya ingin membantu merawat Berna.
Niwa mengaku kondisi Berna semakin membaik setelah satu bulan lalu dibawa ke Puskesmas. Berat badannya mulai bertambah dan kemampuan motoriknya juga membaik.
Dokter Puskesmas Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Sulaiha Heriningsih yang menangani Berna mengatakan, anak penderita gizi buruk tersebut (Berna Rahmad) baru dibawa ke Puskesmas pada bulan Desember lalu, namun saat ini berat badannya berangsur membaik, dari semula 8 Kg kini menjadi 9,7 Kg. Sehingga untuk penyembuhan membutuhkan waktu cukup lama, sebab penderita juga mengalami penyakit penyerta lainnya.
![]() |
| dr. Sulaiha Heriningsih saat menangani Berna Rahmad |
“Perkembangan tubuhnya sudah cukup bagus, karena ini kan baru satu bulan, apalagi kami tambah konseling kepada yang merawatnya,” terangnya.
Sementara itu, Fatoni selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, menjelaskan, bahwa pihaknya baru menemukan data anak penderita gizi buruk yang telah ditelantarkan oleh orangtuanya, namun penanganan penyembuhan terhadap penyakit anak tersebut sudah ditangani sesuai ketentuan yang ada.
“Penanganannya juga lintas sektor, jadi semua dinas terkait seperti Dinas Sosial juga sudah ikut turun untuk menanganinya,” jelasnya, saat ditemui Cendana News di ruang kerjanya.
Berdasar data yang dihimpun, jumlah penderita gizi buruk pada tahun 2015 di Kabupaten Sumenep sebanyak 16 anak. Semua pihak berharap, tidak akan ada lagi anak penderita gizi buruk di Sumenep atau setidaknya bisa berkurang jumlahnya dari tahun lalu.
