Abon Lele Produksi Poklahsar Lampung Selatan Siap Menembus Pasar Internasional

SENIN, 25 JANUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG–Produk olahan berbahan ikan lele sudah dikenal luas sebagai salah satu bahan makanan berbahan dari ikan air tawar. Potensi ikan air tawar jenis ikan lele di Desa Bumidaya Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan pun mulai dilirik oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) di wilayah desa di Kabupaten Lampung Selatan.

Toha Suparman, pemilik produk abon lele merk Pas Mantap

Selain digunakan sebagai bahan untuk kuliner pecel lele, potensi jenis ikan tawar lele dimanfaatkan oleh warga di Desa Bumidaya untuk produk olahan yang lebih awet dengan menjadikannya produk berbentuk abon. Produk olahan berupa abon merupakan salah satu cara meningkatkan nilai jual hasil ikan air tawar yang ada di wilayah Provinsi Lampung. 
Budidaya ikan lele dengan sistem kolam tanah dan kolam terpal dan kolam semen di Kecamatan Palas menurut Sutisna selaku Penyuluh Perikanan Kecamatan Palas mencapai 117 pokdakan tersebar di sekitar 21 desa dan Poklahsar sebanyak 6 kelompok.  mengungkapkan potensi ikan air tawar di Palas diantaranya ikan Gurame,Patin, Lele, Nila, Emas dan Bawal. Saat ini menurut Sutisna hasil produksi ikan air tawar mencapai 80 ton perbulan untuk kebutuhan lokal dan sebagian dijual ke luar daerah.
Lele yang besar besar selama ini sudah tidak laku karena kuliner pecel lele ukuran perkilogram 10-12 ekor, sementara ikan lele yang ukurannya besar justru sulit dipasarkan dan ditampung sehingga akhirnya dimanfaatkan oleh pengrajin abon lele.
Produk abon lele Pas Mantap dikelola dengan cara sehat
“Pemanfaatan ikan air tawar di Kecamatan Palas digunakan untuk ikan asin tape,nuget,otak otak,sosis,abon,keripik ikan serta produk olahan ikan untuk peningkatan nilai jual,”ungkapnya.
Salah satu kelompok yang memanfaatkan potensi ikan lele sebagai bahan pembuatan abon adalah Kelompok Pengolah dan Pemasaran (Poklahsar). Ketua Kelompok Poklahsar Pas Mantap Toha Suparman dan Enik yang mulai melakukan pengolahan ikan lele sejak 2006 dengan memanfaatkan banyaknya pembudidaya ikan lele di desa setempat.
Kelezatan abon lele produksi kelompok pengolah dan pemasaran Pas Mantap tidak perlu diragukan dengan rasa yang khas diantaranya abon lese berkarakter daging sapi rasa original (asli), rasa pedas manis, dan rasa bawang. Usaha abon yang terbuat dari ikan lele yang dirintis Toha Suparman kini mulai dikenal masyarakat.
Proses pengepakan abon lele
Sebagai usaha produksi pangan Toha mengaku kelompoknya memiliki sertifikasi produksi pangan industri rumah tangga yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Lampung Selatan.
Selain sudah dikenal luas usaha pengolahan ikan lele menjadi abon lele yang dirintis oleh kelompok Pas Mantap sejak 2006  ini berhasil meraih juara tingkat provinsi diantaranya, Juara I Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan Sub Kategori Pengolahan Pangan Lokal tingkat Kota Bandar Lampung dan Provinsi Lampung tahun 2015 serta memperoleh penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara tahun 2015 oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta pada 21 Desember 2015.
“Pengolahan dilakukan oleh anggota kelompok yang melibatkan kaum perempuan yang ada di desa ini khususnya kaum ibu yang tidak memiliki kesibukan lain sehingga pemberdayaan kaum perempuan tetap bisa kami lakukan,”ungkap Toha Suparman saat ditemui Cendana News, Senin (25/1/2016)
Suparman mengaku produksi abon ikan lele Pas Mantap saat ini mampu memproduksi  sebanyak 2 kuintal berupa abon lele dengan kemasan sebanyak 50 gram, 100 gram,450 gram serta ukuran sesuai permintaan. 
Abon Lele Mulai Dipasarkan Lewat Media Sosial
Proses pemasaran abon lele milik Toha Suparman saat ini masih menggunakan sistem penjualan titip ke warung dan beberapa sistem penjualan manual. Peluang semakin meningkatnya abon lele berkarakter daging sapi produksi Poklahsar Pas Mantap akhirnya mendapat dukungan dari sang keponakannya, Ricko Amrin, yang tinggal di Srengsem Panjang yang memiliki latar belakang wirausahawan.
Ricko Amrin, penjual abon lele dengan label Ribole
Ricko mengatakan, awalnya produk abon lele ini mengusung merk Pas Mantap dan diproduksi di Dusun Way Megat, Desa Bumidaya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan Lampung Selatan kemudian dilakukan pemasaran di wilayah Bandarlampung dengan menggunakan metode penjualan langsung. Selanjutnya untuk meningkatkan nilai penjualan abon lele diberi nama Ricko Abon Lele (Ribole) yang lebih mudah diingat.
“Untuk pemasaran, selain menawarkan langsung kepada konsumen, saya juga memanfaatkan teknologi khususnya media sosial dalam melakukan pemasaran produk. Kini, Ribole sudah dipasarkan sampai Aceh, dan pulau Jawa,” ujar lulusan Sarjana Akuntansi di salah satu perguruan tinggi swasta di Lampung  tahun 2010 ini.
Diungkapkannya, Ribole memiliki 2 varian rasa yakni original, dan pedas manis yang dijual seharga Rp 12 ribu/50 gram. Dalam seminggu bisa 200 bungkus laku terjual, dan tak heran Ricko mampu mendulang omset jutaan rupiah setiap bulannya.
“Abon lele memiliki potensi usaha yang besar. Selain memiliki cita rasa lezat sebagai lauk, dan cemilan yang sehat, abon juga memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan dan pertumbuhan anak,” terang suami dari Selvia Widianti ini.
Ricko menambahkan, jiwa berwirausaha yang ia miliki mulai tumbuh sejak masa kuliah. Menurutnya, perguruan tinggi tempatnya menuntut ilmu tersebut tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik saja, tetapi juga kemampuan membangun jiwa wiraswasta di kalangan mahasiswa.
Ke depan, abon tersebut akan dipasarkan ke sejumlah negara lain diantaranya Timur Tengah, Jepang dan negara lain. Selain itu ia mengaku menjadi perpanjangan tangan UKM yang dikelola oleh sang paman selaku produsen abon lele.
Lihat juga...