![]() |
| Pasir timbul dilihat dari ketinggian |
LAMPUNG — Akhir pekan merupakan saat untuk melepas kepenatan. Salah satu destinasi favorit pecinta wisata petualangan di ujung Selatan Pulau Sumatera yakni Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Tepatnya Pasir Timbul di Desa Batu Balak Kecamatan Rajabasa.
Dinamakan Pasir Timbul karena adanya tumpukan pasir, koral, yang terjadi akibat pertemuan dua arus dari arah perairan Kalianda dan perairan Bakauheni di Selat Sunda. Akibatnya gundukan pasir yang disebut pasir timbul bisa digunakan wisatawan atau pengunjung untuk berjalan kaki saat air laut sedang surut tanpa kuatir terkena hempasan ombak dari dua sisi.
Salah satu penjaga lokasi, Zamroni (30) menyebutkan, lokasi pasir Timbul menghubungkan antara Pulau Sumatera dan Pulau Mengkudu yang jika dilihat dari puncak bukit yang masih gugusan Gunung Rajabasa, Pulau Mengkudu terlihat terpisah dari Pulau Sumatera dengan adanya jembatan dari pasir yang memiliki view cukup menawan dari pouncak bukit.
Pengunjung akan merasakan sensasi berjalan di atas pasir dengan Pulau Mengkudu di sisi kanan dan Pulau Sumatera di sisi kiri dan demburan ombak dari dua sisi. Ombak akan menghantarkan pasir serta batuan apung serta sisa sisa kerang yang timbul ke permukaan. Namun menjelang sore hari saat air laut pasang, pasir timbul tersebut tidak akan terlihat sehingga Pulau Sumatera dan Pulau Mengkudu seolah terpisah dan tak ada jalan selain menggunakan perahu.
“Beberapa pecinta alam terkadang sengaja menginap di pulau Mengkudu yang tak berpenghuni dengan melakukan camping dan membuktikan bahwa kedua pulau bisa terpisah,”ungkap Zamroni.
Bahkan oleh masyarakat sekitar,Pulau Mengkudu yang tak berpenghuni ini memiliki keunikan tersendiri,lengkap dengan legenda di lokasi tak jauh dari sebelahnya yakni batu lapis. Konon batu lapis awalnya merupakan sebuah kapal yang menyerupai layar dan kelambu. Kutukan dan legenda Si Pahit Lidah masih menjadi dongeng terkait terjadinya batu lapis tersebut yang tak jauh lokasinya dari Pulau Mengkudu. Keberadaan Pulau Mengkudu pun masih tetap menjadi keindahan yang berbalut dengan legenda tersebut. Namun di luar itu, eksotisme pulau yang dari puncak bukit sangat indah tersebut menjadi magnet bagi pecinta wisata alam petualangan yang ingin menyelam, memancing atau sekedar menyalurkan hobi fotografi.
Namun untuk bisa ke lokasi ini membutuhkan sedikit kerja keras. Jalanan berbatu, berdebu saat panas, berlumpur saat hujan dengan melewati rintangan sungai kecil, perbukitan yang penuh dengan perkebunan pisang, kelapa, kakao, durian, cengkeh serta perkebunan lain menjadikan lokasi ini hanya dikunjungi oleh peminat wisata yang membutuhkan tantangan. Bahkan hanya segelintir orang yang berniat ke sini karena lokasinya yang tersembunyi.
Lokasi yang berada di ujung Pulau Sumatera ini bisa ditempuh dari Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan menggunakan kendaraan roda dua sekitar 45 menit atau sekitar 30 menit dari kota Kalianda yang berjarak sekitar 45 kilometer. Akses masuk dari jembatan Batu Balak yang berada diantara Desa Kerinjing dan Desa Batu Balak sudah menyajikan view menarik ke arah Selat Sunda lengkap dengan bebatuan khas pegunungan diantara sawah sawah menghijau. Cendananews bahkan harus bermandikan debu serta terhempas diantara bebatuan yang ada di sepanjang jalan yang masih berupa jalan tanah tersebut.
Jalan setapak mewarnai perjalanan hingga sampai ke lokasi. Namun semuanya terbayar setelah melihat di kejauhan lautan berwarna warni, ombak putih, pantai yang hijau, biru dan pasir timbul sekitar puluhan meter membentang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Mengkudu. Ini adalah view menarik serta sebuah keindahan alam yang diciptakan oleh pelukis alam sehingga mampu memisahkan sebuah pulau besar dengan pulau kecil yang masih bisa dinikmati oleh para pecinta keindahan.
Pantauan Cendana News, semakin banyaknya pengunjung baik wisatawan lokal maupun wisatan luar daerah membuat pemuda serta warga lokal bisa memperoleh pendapatan dari jasa serta menjual barang dagangan berupa minuman, makanan ringan. Beberapa warung sederhana merupakan sumber penghasilan warga di luar profesi mereka sebagai petani pekebun. Selain itu lokasi yang nyaman,aman dengan hanya membayar biaya parkir sebesar Rp5.000,- membuat pengunjung betah berlama lama di lokasi tersebut. Zamroni tetap berharap perhatian dari pemerintah daerah untuk penyediaan akses jalan wisata bisa menjadikan kawasan tersebut memberi nilai tambah bagi masyarakat daris ektor wisata.
Dari puncak bukit yang menjadi point view, wisatawan bisa memandang Pulau Sekepol, Pantai blebug dan sesekali saat cuaca cerah bisa melihat desa di pesisir Kecamatan Rajabasa diantaranya Desa Kunjir, serta melihat kapal kapal melintas yangs ebagian besar kapal tanker, kapal cargo dengan background gugusan Kepulauan Krakatau di Selat Sunda. Menurut pemahaman para pecinat wisata alam petualangan, Elny Budiana (28) Pulau Mengkudu dengan keistimewaan pasir timbulnya merupakan suatu keunikan.
“Mungkin ini bisa dibilang satu-satunya tumpukan pasir yang menghubungkan pulau dengan daratan satu-satunya di Lampung atau Sumatera, bahkan di Indonesia,”akunya yang pernah mengunjungi Pasir Timbul yang lain di Kabupaten Pesawaran Lampung.
Elny bahkan merekomendasikan kawan kawan sesama pecinta wisata alam bahari melalui sosial media atau mengundang kawan kawan lainnya saat liburan tiba. Beberapa bahkan menyiapkan tenda serta perbekalan banyak untuk menginap di sekitar pasir timbul itu. Spot Pasir Timbul-Pulau Mengkudu-Batu Lapis merupakan destinasi favorit untuk dikunjungi saat akhir pekan. Pecinta birrd watching (pengamat burung) pun jika beruntung bisa melihat beberapa spesies burung menarik di Pulau Mengkudu yang menjadi habitat jenis jenis burung laut.





SABTU, 03 Oktober 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo