Merindukan Penabat

Oleh: Rusmin (penulis buku Bangka Selatan, Sejahterakan Kami)
OPINI – Ketika Dicky Chandra mundur dari jabatannya sebagai Wakil Bupati Garut, banyak yang mengasumsi adanya ketidakcocokan dalam pembagian tugas dan fungsi antara Bupati dan Wakil bupati sebagaimana yang diatur dalam UU. Namun Dicky dalam pembicaraan dengan salah satu stasiun berita nasional menangkis asumsi itu. bahkan Dicky menyatakan tugas dan fungsi yang diberikan Bupati untuk dirinya terlalu banyak. Cuma dirinya merasa tidak mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat Garut dengan jabatan yang diembannya.
Kita juga mendengar Tere anggota DPR RI mundur dari gegap gempita seleberitas politik Senayan. Alasan politikus ini selain ingin berkonsentrasi terhadap penyelesaian studinya, Tere mengakui kurang optimalnya peran yang dimainkannya saat berlakon sebagai wakil rakyat di gelanggang senayan.
Sebelumnya kita tahu bahwa Bung Hatta mundur dari jabatan amat bergengsi Wakil Presiden karena merasa jabatan yang diamanatkan kepada dirinya tidak mampu memberi manfaat secara optimal kepada rakyat Indonesia. Bung Hatta yang ingin rakyat Indonesia bukan hanya cerdas otak tapi juga cerdas ekonominya merasa jabatan yang diembannya tidak mampu memberi asas kemanfaatan bagi bangsa ini.
Sebelumnya langkah keteladanan juga diperlihatkan Siti Hartati Murdaya yang dengan sukarela mundur dari keanggotaan Dewan Pembina Partai dan anggota Dewan Ekonomi Nasional.
Prolog diatas menggambarkan kepada kita bahwa mareka adalah bangsawan pikiran bangsa yang menganggap jabatan adalah intrumen untuk mengangkat dan mengeskalasi nasib rakyat dan bangsa ini. Bagi keempat bangsawan pikiran bangsa ini kepentingan orang banyak dan khalayak ramai adalah simbol keberhasilan mareka sebagai pengemban amanah dan harus jadi panglima. Mareka berasumsi jabatan adalah katalisator untuk mereparasi nilai-nilai kehidupan rakyat untuk sejahtera dan bermartabat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini. Dan bukan menjadikan jabatan sebagai katalisator untuk memartabatkan diri dan keluarganya. 
Dalam konteks kekinian mencari kelompok penabat (orang-orang yang tahu diri) yang lahir di negeri ini sebagaimana yang diaplikasikan ke empat bangsawan pikiran bangsa diatas tadi ibarat kita mencari jarum dalam jerami. Sangat sulit dan sangat susah.
Apalagi menurut Budayawan Koentjaraningrat bangsa Indonesia era kini mengidap penyakit budaya menerabas, budaya potong kompas, budaya miopis (rabun dekat), ingin cepat sukses dan berkuasa tapi dengan sedikit usaha dan minim prestasi. Budaya sehari untung beliung walaupun harus mengangkangi kepala orang bahkan menjadi penzolim seakan menjadi trend dalam kehidupan dan berkehidupan di negeri ini.
Budaya bangsa ini adalah tak mampu melihat masa depan yang jauh. Paling banter hanya lima tahunan. Pengadopsi budaya menanam jagung hanya hanya menunggu tiga (3) bulanan dan enggan untuk mengaplikasikan budaya tanam jati yang harus menunggu puluhan tahun. Pengidap budaya instan dan ingin cepat tanpa mengukur kemampuan dan prestasi diri. Yang kardinal adalah memegang jabatan yang merupakan simbol kemampanan dan kedigdayaan diri dalam upaya untuk mengangkat harkat  dan martabat diri. Soal mampu dan tidaknya memberi sejarah dan karya kreatif pada jabatan dan amanah yang diembannya untuk rakyat itu persoalan paling belakang. Dalam budaya pragmatis dan hedonis, idealisme hanya tersisa diruang-ruang sempit yang ada diruang kuliah dan di ruang diskusi publik serta di warung kopi.
Pada sisi lain tak adanya rasa malu yang kini menghinggapi para pengemban amanah adalah penyakit kronis yang kini dihadapi bangsa dan rakyat negeri ini dalam mengahapi masa depan. Kegagalan diri sebagai pengemban amanah yang jelas-jelas sudah terlihat dan dinikmati rakyat masih belum mampu membuat mareka malu dan nabat (tau diri). Mareka berasumsi bahwa kegagalan adalah hal yang biasa dan lumrah. Apalagi pimpinan tidak memberi teguran dan sanksi. 
Kelompok dak nabat (tidak tahu diri) ini selalu hidup dibawah ketiak pimpinan dan penguasa. Dan ketika pemimpin sudah terjatuh maka kelompok dak nabat ini mencari jati diri dengan pemimpin baru dengan prestasi lama dan aksi purba tanpa prestasi yakni kembali mencari muka. Memori kolektuif bangsa ini yang mudah lupa dan memaafkan membuat penyakit kronis ini makin menggurita dan mengakar dalam sendi kehidupan bangsa dan daerah ini.
Ketidakadanya iklim kompetisi yang sehat dalam upaya melahirkan produk yang  bermutu dengan kwalitas wahid yang beroerientasi kepada masa depan membuat negeri ini selalu mengidap penyakit kronis yang selalu menjadikan budaya instan dan ingin cepat jadi makin menggurita. 
Sementara itu kontrol sosial dari masyarakat tidak berjalan efektif dan dinamis. Sedangkan budaya mundur dari pejabat publik yang gagal tidak ditradisikan dan tertradisi dengan baik dan efektif. Pimpinan dan kekuasaan selalu menjadi handicap dan alasan bagi mareka untuk mundur ketika gagal.
Pimpinan bangsa dan daerah perlu menata kembali cara pandang, membiakkan mimpi, fokus pada masa depan, membangun gairah dan menancapkan cita-cita besar yang hidup dan terasakan dalam hati rakyat sehingga tercipta kolaborasi dan sinergisitas untuk kepentingan bersama. Untuk itu kita memang butuh kehangatan cita-cita dan ideologi serta cara pandang dalam melihat amanah dan jabatan. 
Tanpa cita-cita bersama manusia hanya mengejar peradaban materi dan jabatan sarat ambisi tanpa melihat kemampuan dan kwalitas diri, namun hampa dalam prestasi dan spirit membangun cita-cita besar untuk kepentingan rakyat secara komprehensif.
Kedepan kita berharap kepada pengemban amanh dan penerima anugerah jabatan untuk berani mundur dari jabatan ketika gagal mengaplikasikan jabatan dalam upaya untuk memberi manfaat bagi rakyat secara komprehensif. Dan inilah eranya kita untuk berani bersikap kesatria. Mundur kalau gagal. Jangan menjadi rakyat sebagai korban yang akan membalas pada TPS pada masanya. Jangan karena kegagalan kita sebagai pembantu dan pendukung pimpinan, ditumpahkan rakyat pada masa-masa Pilkada untuk menumbang Pimpinan.
Inilah momentum kita untuk mengaplikasikan diri sebagai penabat-penabat yang tidak menyusahakan rakyat. Saatnya kita merestorasi diri untuk kepentingan jangka panjang dan khalayak ramai. Bangsa, daerah dan rakyat negeri ini merindukan sosok penabat yang tahu akan kwalitas dan prestasi diri tanpa harus mengorbankan bangsa, daerah, pimpinan dan tentunya rakyat ramai hanya karena ambisi hanya hampa dan semu. Rakyat negeri ini merindukan penabat atau manusia Indoensia yang tahu diri. Salam….
Toboali, Bangka Selatan
——————————————————-
KAMIS, 18 Juni 2015
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...