Bulan Puasa Tak Menyurutkan Semangat Para Pengolah Teri

Pengolah Teri
LAMPUNG – Bekerja di tepi pantai yang panas terik dengan menjemur teri teri milik sang bos dilakoni oleh Jujun(34) bersama kawan kawannya selama dua tahun ini. Pekerjaan ini dilakoninya setiap hari mulai dari membersihkan teri teri yang dibeli dari para nelayan di wilayah perairan pantai timur Sumatera.
Memasuki bulan Ramadhan ini aktifitas tersebut tetap dilakoninya dan meskipun dalam cuaca panas terik Jujun mengaku tetap berpuasa. Ia mengaku berusaha untuk berpuasa pada hari hari awal bulan Puasa yang menjadi bulan suci bagi umat Muslim tersebut.
“Saya tetap puasa dan akan terus mencoba berpuasa insyaalah sampai nanti bulan ramadhan berakhir. Cuacanya memang panas dan menjadi godaan untuk tak berpuasa,”ungkap Jujun sambil menjemur dan memilah milah teri yag sedang dijemurnya Kamis (18/6/2015).
Jujun dan beberapa rekannya bekerja di salah satu produsen pembuatan ikan asin dan ikan teri yang tergabung di Kelompok Pengolah dan Pemasar ikan (Poklahsar) Sejahtera di Desa Ketapang Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Provinsi Lampung. Selain pengrajin teri, ikan asin kelompok tersebut diantaranya melakukan budidaya rumput laut.
Cuaca panas saat berada di lokasi penjemuran bahkan saat di dalam ruangan pengolahan ikan teri tak menyurutkan semangat Jujun untuk tetap berpuasa. Ia mengaku meski tahun lalu banyak “bolong bolong” saat menjalankan ibadah puasa tapi tahun ini ia mengaku akan berusaha agar puasanya penuh.
“Saya bekerja di sini untuk mencari nafkah bagi keluarga dan semoga dengan bulan puasa ini semakin membawa berkah bagi saya dan keluarga,”ungkapnya.
Sementara pekerja lain, Somad (35) mengaku sudah setahun bekerja di tempat pengolahan ikan teri tersebut. Ia mengaku tetap berpuasa meskipun hawa udara di tempatnya bekerja terasa panas apalagi saat ia bertugas memasak dan merebus ikan ikan teri tersebut sebelum dijemur.
Somad menuturkan pengolahan ikan teri dari awal dikirim dari laut kemudian merebus dan mengolahnya menjadi teri yang akan dijemr hingga kering dilakoninya setiap ada pasokan ikan teri.
“Tidak setiap hari ada pasokan terutama teri jenis teri nasi lebih sulit, sementara yang kita olah hari ini jenis teri lilin,”ungkap Somad.
Ia yang bertugas menjadi perebus teri teri yang diletakkan dalam nampan nampan kecil tersebut selalu berada di dekat api dan hawa panas, namun ia mengaku tetap akan berpuasa selama bulan Ramadhan ini.
“Saya tetap akan berpuasa penuh dan saya usahakan tidak membatalkannya selama bulan Ramadhan ini karena saya memang pernah sekolah di pesantren,”ujar Somad.
Semangat dan kerja keras para pengolah teri di perkampungan nelayan tersebut memang terlihat lebih berat. Dari pantauan cendananews.com ratusan para para dari bambu yang diletakkan di atas tempat khusus digunakan untuk menjemur ikan teri, ikan asin.
Panas menyengat tak menyurutkan para pekerja untuk terus menyelesaikan pekerjaan yang ditekuni setiap hari dari salah satu bos pemilik bernama Yuliani. Produksi yang terus meningkat tersebut menurut Somad dilakukan sebab permintaan akan ikan teri semakin meningkat akhir akhir ini.
“Ikan ikan teri yang sudah kering kemudian dipacking dalam kardus ukuran tertentu lalu dikirim ke sejumlah pasar yang ada di Lampung hingga ke Jakarta setiap minggunya,”ungkap Somad yang mengaku sang bos sedang tak ada di tempat.
Teri teri kering tersebut saat ini mencapai kisaran harga Rp30.000,- hingga Rp40.000,- perkilogram tergantung kualitas dan jenis teri yang diolah.
Somad, Jujun dan beberapa pekerja lain berharap bulan puasa ini menjadi berkah bagi mereka. Berkah karena mendapatkan pekerjaan selama ada pasokan teri dari para nelayan serta berkah bisa menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam yang lima.

——————————————————-
KAMIS, 18 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...