Manjalang Mintuo, Buka Bersama Pertama Bagi Pengantin Baru

Rantang yang berisi masakan [ilustrasi]

PADANG – Syifa (27), seorang ibu muda tengah memasak di kediamannya. Ia yang baru saja menikah empat bulan yang lalu, masak dalam jumlah yang banyak dan beragam masakan. Padahal pasangan suami istri ini hanya tinggal berdua saja di rumah kontrakan mereka di Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang.
Syifa memasak bukan untuk dijual, apalagi bertugas menjadi tukang masak. Masakan yang banyak dan beragam ini, ditujukan untuk mertua. Sudah jadi tradisi di daerah ini, jika Ramadhan sudah datang, para pasangan suami istri akan melaksanakan tradisi “Manjalang Mintuo” (Mengunjungi mertua) untuk “Maanta pabukoan” (Menghantarkan berbagai makanan untuk berbuka).
Masakan yang telah dimasak oleh menantu perempuan ini, akan dimasukkan kedalam rantang-rantang yang besar. Lalu, kalau dalam tradisi tradisionalnya menantu perempuan akan menjinjing rantang-rantang tersebut ke rumah mertuanya.
“Kalau sekarang tidak harus di jinjing lagi, kakak saya malahan manjalang mintuonya ke Kota Solok, gak mungkin dong dijinjing. Kalau memakai rantangnya tetap,” ujar Syifa pada CND di kediamannya, Kamis (18/6/2015) pagi.
Tradisi ini memiliki berbagai nama di daerah-daerah di Sumatera Barat (Sumbar)mulai dari manjalang mintuo (mengunjungi mertua), batandang (bertandang), mahanta nasi (mengantarkan nasi), manyaok kandang atau mahanta nasi katunduakan, mahanta bubue (mengantarkan bubur), atau mahanta konji (mengantarkan koni –sejenis bubur), dll. Kegiatan dilakukan usai helat perkawinan, Idul Fitri, Idul Adha dan Ramadhan.
Selain mendekatkan antaramertua dengan menantu, ini juga menguji masakan para menantu. Tradisi ini biasanya dilakukan minggu-minggu pertama bulan Ramadhan. Beruntunglah bagi para mertua yang banyak memiliki menantu perempuan, mungkin ini motivasi orang minang untuk memiliki banyak anak.
“Kalau ibu dan tetua dulu bilang, sebaiknya dilakukan hari pertama Ramadhan, ini pertama kali saya lakukan, semoga mertua suka dengan masakan saya,” jelas Syifa.
Kebiasan masyarakat Minang ini, memiliki menu utama yang berbeda di setiap daerahnya, jika di Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota di kenal dengan nama maanta konji,  maka menu yang di haruskan, yaitu konji, takjil yang berbahan dasar dari ketela dan santan ini diolah sedemikan rupa menjadi panganan yang enak dan memiliki filosofi tersendiri.
Hampir sama dengan menu dari Payakumbuh, di daerah Agam ini pun tetap memakai menu dengan bahan dasar yang sama, yaitu ketela yang diolah menjadi bubua kacimuih, menu takjil ini memiliki makna untuk merekatkan kembali hubungan antara menantu dan mertua, begitulah filosofi kedua menu yang diwajibkan dalam tradisi Manjalang Mintuo ini.
Bahan dasar takjil ini rata-rata diolah dari tepung kanji, yang biasanya digunakan oleh masyarakat Minang sebagai lem perekat. tradisi yang sudah berlangsung lama ini masih di pelihara dan di lestarikan di beberapa daerah pedalam Minangkabau, sebagai penghubung tali silaturrahmi antara urang sumando dengan mamak rumah, antara mintuo dan minantu.
Tradisi ini dimulai dengan membuat takjil dan menu makanan berat untuk berbuka puasa dirumah menantu, lalu para menantu akan menjinjingnya dengan rantang selepas sholat Ashar menuju rumah mertua mereka, dan bersama keluarga di rumah mertua mereka akan menunggu waktu berbuka dengan obrolan-obrolan ringan.
Saat waktu berbuka makin dekat, para mertua akan menyalin semua buah tangan dari menantunya  dan menggantinya dengan beras, pisang, bahan mentah lainnya bahkan ayam mentah untuk dibawa pulang sebagai tanda kesukaan mereka kepada menantunya, namun jika rantang itu tidak kembali di isi oleh mertua, tanda mereka kurang suka dengan tabiat menantunya. Begitulah kearifan lokal ibu-ibu di Minangkabau dalam mendidik istri dari anaknya.
“Semoga mertua suka dengan tabiat dan perilaku saya. Karena bukan soal rasa masakannya, tapi soal perilaku dan akhlak saya sebagai menantu. Saya jadi deg-degan, kalau rantang yang saya bawa pulang kosong, itu tanda ada yang tidak beres,” pungkas Syifa.
——————————————————-
KAMIS, 18 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Istimewa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...