![]() |
| Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende |
Tren
- LPDP Prioritas Aktivis
- Ekonomi Pancasila dan Implementasinya
- “Diplomasi Proyek” Presiden Prabowo
- Koperasi Merah Putih: New KUD?
- Ramadhan: Ibadah Individual Energi Peradaban
- Imkanur Rukyat, Wujudul Hilal, Rukyatul Global: Makna Hukum Paling Dekat
- Rukyatul Global Itu Tidak Mungkin
- Awal Ramadan 2026: Antara Garis Ufuk dan Garis Otoritas
- Makna Tradisi Menjelang Ramadhan di Indonesia
- Ketika Produk Media Tidak Ada yang Membeli
CENDANNEWS (Jayapura) – Penembakan terhadap kelompok bersenjata dibawah pimpinan Leonard Magay Yogi yang menamakan dirinya sebagai Panglima TPN/OPM di Nabire dan Paniai. Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengklaim anggotanya telah lakukan sesuai prosedur tetap kepolisian.
“Saat dilakukan penangkapan, kami berusaha untuk berdamai agar menyerahkan diri dan serahkan senjata mereka tapi ternyata tanggal 30 April kemarin ada niat yang akan mereka lakukan di Nabire,” tegas Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende, Senin (04/05/2015).
Disebutkan, pihaknya tak ingin hal tersebut terjadi dan mereka-mereka yang ditangkap, merupakan Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Papua.
“Mereka merupakan target operasi mereka yang sedang kami cari. Saya sudah sampaikan, dan saya sudah tegaskan kepada anggota bahwa apabila mereka menyerahkan diri, terima dengan baik,” imbuhnya.
Menurut Kapolda, kelompok yang dipimpin Leonard Magay Yogi telah diketahui keberadaannya oleh anggotanya. Dan selanjutnya, lanjutnya, anggota melakukan pengejaran tuk menahan kelompok tersebut.
“Karena diduga ada pergerakan mereka untuk mengacaukan 1 Mei, maka kami alakukan pencegatan dan menangkap mereka,” ujarnya.
Saat dilakukan pengejaran itulah, menurut Kapolda, mereka lakukan perlawanan, turun dari mobil bukan menyerah mengangkat tangan, melainkan lakukan penembakan gunakan senjata api jenis FN 45.
“Ternyata yang ada disitu merupakan panglima, kami sudah berupaya menembak peringatan tapi mereka tidak mau menggubris bahkan mau melarikan diri lalu menembak dengan melakukan penembakan dan melumpuhkan karena ditakutkan mereka akan melakukan penembakan lagi kepada aparat,” tegas Kapolda.
Dikatakannya, saat dilakukan penembakan untuk melumpuhkan mereka. Beberapa dari mereka ada yang menunduk. Jadi, lanjutnya, ada yang kena tembakan di lengan bahu kanan, sementara Leo Yogi terkena tembakan pada bagian kaki.
“Karena Yogi memegang senjata dan berupaya melakukan penembakan ternyata kena pinggul tembus dan meninggal dunia setelah 4 jam dirawat,” kata Jenderal Bintang Dua itu.
Dua orang anggota dan ajudan dari Yogi, menurut Kapolda, kini sedang dirawat intensif di rumah sakit milik Polda Papua, RS Bhayangkara, Kotaraja, Kota Jayapura.
“Kami upaya untuk memberikan perawatan secara intensif. Kami berlakukan mereka sebagai masyarakat kita untuk dirawat,” ujarnya.
Pada kesempatan ini juga, Kapolda menyampaikan kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama berikan kesadaran kepada mereka, karena Polri yang didukung TNI dalam rangka operasi penegakkan hukum diwilayah RI di Papua akan melakukan penegakkan hukum secara tegas dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).
“Tidak semua kami menembak mati, tapi kalau menurut laporan yang saya terima dari anggota saya mereka memberikan tembakan peringatan walaupun Leo Yogi melakukan tembakan dan tembakan kedua itu masih ada didalam dan pelurunya masih ada 4 butir yang masih aktif,” tuturnya.
Masih kata Jenderal Bintang Dua ini, pihaknya sangat berharap kelompok bersenjata itu menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. Karena, lanjut Kapolda, mereka merupakan DPO Paniai yang selama ini melakukan kekerasan seperti kasus pembakaran eksavator milik PT. Modern.
“Mereka melakukan upaya pemerasan Kemudian mereka melakukan perampasan senjata terhadap kasat Intel bulan desember lalu, dan penyandaraan terhadap mobil yang ditebus Rp 50 juta. Kami tidak mentoleris bagi siapa-siapa yang melakukan kegiatan sadis dan beberapa kejadian terdahulu banyak anggota mati dan kini sedang kami invetarisir kejadian bulan terakhir sehingga kami tetap mengejar mereka dimana mereka berada,” katanya.
Sejauh mereka tidak menyerahkan diri, tambah Kapolda, pihaknya tetap lakukan tindak tegas, namun mengedepankan persuasif. “Marilah bersama-sama membangun Papua ini dan menyerahkan senjata-senjata yang sudah mereka rampas ini. Mereka mau bergabung lalu tidak mau menyerahkan senjata, itu juga akan kami pikirkan,” tutupnya.
————————————————-
Senin, 4 Mei 2015
Jurnalis : Indrayadi T Hatta
Fotografi : Indrayadi T Hatta
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...