Perkembangan Kerajinan Tenun Ikat Bali Terkendala Regenerasi

Pengrajin sedang menenun

CENDANANEWS (Denpasar) – Salah satu kerajinan yang terkenal di Bali, Tenun Ikat saat ini tengah menghadapi kendala yang cukup berat, diantaranya lahan promosi yang minim hingga pengrajin yang sudah berkurang banyak.
Memasuki abad milenium, kendala Sumber Daya Manusia sangat dirasakan oleh perusahaan Tenun, sementara itu regenerasi juga tersendat oleh tuntutan zaman. Seperti diungkapkan pemilik usaha tenun PT.Setia Jaya, Kadek Wijaya kepada media ini di Denpasar, Rabu (29/4/2015).
“Penenun di Bali rata-rata sudah tua, dan tidak ada turunannya yang mau meneruskan profesi orangtuanya. Mereka lebih suka bekerja sebagai pramuniaga, pramusaji, atau staff hotel,”ungkapnya.
Setiap tahun jumlah penenun semakin menurun sampai akhirnya usaha miliknya kehilangan semua penenun andalannya dikarenakan sudah termakan usia. Usaha untuk meregenerasi juga telah dilakukan dengan mengambil penenun muda dari pulau jawa.
“Namun saat sudah menginjak bulan ketiga di pulau bali, merekapun akhirnya banting stir ke dunia pekerjaan lain yang dinilai lebih menjanjikan,”sebutnya.
Selain penerus, kendala lainnya adalah semakin minimnya tempat untuk tenun ikat bali mengadakan event atau pameran. Biasanya hotel-hotel berbintang sering menyediakan tempat di lobby hotel bekerjasama dengan dinas terkait atau bahkan dengan Pemprov Bali. Dan tempat-tempat tersebut akan diisi oleh para pengrajin terutama tenun ikat bali maupun Songket Bali.
“Namun, semua itu sudah tidak bisa dilakukan lagi sekarang ini, dan penyebabnya juga tidak diketahui. Selain itu untuk mengajukan event serupa juga sulit sekarang,”katanya.
Untuk menjaga tenun tersebut, pihaknya mengambil langkah berbeda, yakni dengan bermain di motif tenun saja. 
“Maksudnya, kami menjual motif, dan kemudian Art shop akan menggunakan motif tersebut untuk melakukan produksi tenun ikat secara massal sekaligus memamerkan nya di Galeri nya masing-masing,” jelas Kadek Wijaya kepada kami.
Biasanya Setia Jaya bekerjasama dengan Art Shop seperti Bidadari Batik maupun Yadi Batik dalam menjual motif-motif tenunnya. Dan hal itulah yang dapat dilakukan sekarang ini untuk menjaga eksistensi sambil menunggu waktu yang tepat untuk membuat sebuah gebrakan besar, namun itu semua memerlukan keteguhan hati dan biaya yang sangat besar.

Kadek Wijaya hanya berharap, kedepannya nasib tenun ikat bali tidak seperti ini. Kendala-kendala menyangkut SDM dan minimnya tempat eksebisi pameran hasil tenun bisa diadakan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan hal-hal ini harus segera diperbaiki, karena sekarang ini Bali sudah banyak diserbu oleh motif-motif tenun ikat dari luar Pulau, yang dikhawatirkan akan menutup pamor motif tenun ikat bali.
“tenun ikat bali motifnya mudah di tiru, jadi misalnya di buat di luar Bali lalu di bilang asli Bali itu sangat besar kemungkinannya,” pungkas Kadek Wijaya mengakhiri pembicaraan.
Dia berharap pengrajin tenun ikat asli Bali bisa diregenerasi dan  membangkitkan motif lokal asli bali agar kembali bisa berbicara di duni tenun ikat tanah air sampai ke mancanegara.

———————————————
Rabu, 29 April 2015
Penulis : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor : ME.Bijo Dirajo
———————————————

Lihat juga...