Petani Labu Siam di Bawah Lereng Gunung Panderman

CENDANANEWS – Labu siam yang juga dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai manisa ini, memiliki bentuk seperti labu dan berkulit hijau. Oleh masayarakat, biasanya labu siam dimasak sebagai sayur. Selain bisa dimasak sebagai sayur, ternyata labu siam juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh misalnya menjaga kadar kolesterol, menurunkan darah tinggi dan anti kanker.
Labu siam yang memiliki nama latin Secchium edule rupanya menjadi primadona sebagian besar masyarakat Dusun Toyomerto yang letaknya di bawah lereng gunung Panderman untuk di tanam. Hal ini dapat dilihat dari banyak warga Dusun Toyomerto yang mebudidayakan tanaman ini di lahan-lahan milik mereka.
Ponisri (53) salah satu petani Labu Siam yang juga memiliki beberapa ekor sapi ini mengungkapkan, warga di dusunnya memang kebanyakaan berprofesi sebagai petani Labu siam tidak terkecuali dirinya. Selain mudah dibudidayakan, tanama ini juga mudah dalam perawatan, ujarnya.
Ketika di Kunjungi Cendana News di lahannya Jumat (13/3/2015), Ibu 2 anak ini sedang mengolah tanah dengan cangkulnya yang nantinya akan digunakan untuk menanam labu siam. Ponisri menjelaskan bahwa dirinya baru sekitar 1 tahun ini menanam labu siam diatas lahannya seluas 400 m².
Untuk menanam labu siam menurut Ponisri tidaklah terlalu sulit, bibit yang digunakan adalah bibit yang sudah cukup tua. Sebelum ditanam, tanah terlebih dahulu diolah atau di cangkul agar tanah menjadi gembur, setelah itu bibit baru bisa ditanam.
Untuk pemeliharaan tanaman  labu siam dia menjelaskan, setelah tanaman mulai tumbuh harus segera disiapkan penyangga dan para-para yang biasnya terbuat dari bambu. Penyangga dan para-para berfungsi sebagi tempat menjalarnya tanaman tersebut. Untuk pupuk, dia mengkombinasikan pupuk kandang dengan pupuk kimia. Untuk merangsang pertumbuhan tanaman, Ponisri biasanya juga menyemprotkan pupuk daun dan pupuk bunga, jelasnya.
Setelah tanaman berumur kurang lebih 4 bulan, tanaman labu siam sudah siap untuk di panen. Setelah panen pertama, untuk panen selanjutnya bisa dilakukan setiap 10 hari sekali. Untuk hasil panen biasanya dia langsung menjual ke tengkulak yang datang ke lahannya dengan harga yang tidak menentu. Dulu dia bisa menjual ke tengkulak hasil panennya seharga Rp. 6.000,- per kg , namun sekarang harga labu siam sedang turun. Labu siam hasil panennya sekarang hanya dihargai Rp. 1.500,-per kg.

Ponisri menjelaskan, bahwa saat ini dia belum bisa menjual sendiri hasil panennya langsung ke pasar atau ke konsumen karena dia tidak memiliki transportasi untuk mengangkut hasil panennya. Seandainya dia bisa menjual hasil panennya langsung ke konsumen, mungkin kebutuhan ekonomi keluarganya bisa tercukupi, tuturnya.

———————————————————-
Jumat, 13 Maret 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...