Mulyono, Petani Jeruk Keprok Organik Dari Kota Batu

CENDANANEWS – Selain terkenal akan buah apelnya, kota Batu, Jawa Timur ternyata juga memiliki komoditas buah unggulan yang lain yaitu buah Jeruk Keprok yang memiliki rasa manis dan sedikit masam. Terletak di Dusun Karangmloko Kelurahan Dadaprejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, Cendana News mendatangi rumah dan kebun Mulyono (61) Petani Jeruk Keprok Organik. 
Ketertarikan Mulyono akan pertanian organik berawal dari pemberian pupuk organik dari seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Malang. Dosen tersebut menganjurkan agar Mulyono memberikan pupuk organik kepada tanaman jeruknya, setelah di aplikasikan dan diamati ternyata hasilnya bagus dan buah jeruknya semakin subur. Dari situ awal ketertarikan untuk terus menanam jeruk keprok secara organik, Ujar Mulyono kepada Cendananews Jumat(6/3/2015).
Dengan lahan seluas ± 2000 m²,pada tahun 2007 Mulyono mulai menanam Jeruk Keprok Punten Batu 55 sebanyak 175 pohon, bantuan dari Dinas Pertanian Kota Batu. Untuk perawatan tanamannya dia sama sekali tidak menggunakan bahan kimia, dia hanya menggunakan bahan alami. Menurutnya, bertanam secara organik biaya operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia, ujarnya.
Mulyono yang juga menjabat sebagai ketua kelompok tani  Sri Sedono 3 menjelaskan, bahwa untuk pupuk, dia menggunakan kotoran kambing, kotoran sapi, kompos tanaman Azola yang kemudian semuanya dijadikan satu untuk di fermentasi selama kurang lebih 1 bulan. Setelah 1 bulan dan pupuk sudah tidak lagi berbau, maka pupuk sudah siap untuk di berikan pada tanaman. Pemupukan dilakukan 3 kali dalam setahun, dengan takaran 30 kg pupuk per pohon.
Sedangkan untuk pengendalian hama, dia menggunakan pestisida alami dari bahan alami seperti ubi-ubian, empon-empon dan daun-daunan seperti daun mimba, daun mindi, daun sirsak dan daun pepaya. Penyemprotan hama dilakukan 7 atau 10 hari sekali tergantung kondisi banyak sedikitnya hama. Menurutnya, dengan menggunakan pestisida alami maka musuh alami hama tidak akan ikut mati, sambung Mulyono.
Jeruk keprok organik milik Mulyono dapat menghasilkan 4-5 ton buah jeruk yang biasa di panen pada bulan Juni hingga Agustus. Untuk pemasaran, biasanya konsumen langsung datang dan memetik sendiri dari pohonnya dengan harga Rp. 20.000,-/kilo. Mulyono belum bisa memasarkan ke supermarket dan ketempat lain karena ketersediaan barang yang belum mencukupi.
Kelebihan dari buah Jeruk Keprok Organik yaitu lebih sehat, lebih segar, manis dan sedikit masam, serta buahnya lebih tahan lama dibandingkan dengan jeruk keprok yang menggunakan bahan kimia.
Buah jeruk keprok milik Mulyono, sudah mendapatkan sertifikat organik dari Lembaga Serifikat Organik Seloliman (LeSOS) pada tahun 2014.
Selain bibit, Mulyono juga mendapat bantuan dari pemerintah kota Batu berupa perangkap hama, mesin bajak tanah, mesin penggiling pupuk, mesin penyedot air.
Sudah ada 7 orang anggota kelompok taninya yang sekarang sudah mulai mengikuti jejak Mulyono yaitu menanam Jeruk Keprok secara organik walaupun belum sepenuhnya organik. Dia berharap agar semua anggotanya mau bertanam secara organik karena lebih sehat dan lebih murah biayanya, tutup Mulyono.

———————————————————–
Jumat, 6 Maret 2015
Jurnalis : Agus Nurchaliq
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...