CENDANANEWS– Provinsi Lampung berpeluang besar menjadi lumbung ternak nasional. Potensi sumber daya alam dan posisi strategis daerah ini, sangat mendukung bagi pengembangan subsektor peternakan.
“Subsektor peternakan juga dapat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di Provinsi Lampung,” ujar Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, diwakili Asisten Bidang Ekbang Pemerintah Propinsi Lampung Adeham, membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Peternakan (Musrenbangnak), Selasa (10/3/2015).
Musrenbangnak yang berlangsung di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan Lampung ini, dihadiri 100 peserta yang terdiri dari perwakilan satuan kerja perangkat daerah , dinas peternakan kab/kota se-Lampung, perguruan tinggi, Kontak Tani Nelayan Andalan dan kelompok wanita tani. Hadir juga, Dirjen Peternakan yang diwakili Kabag Perencanaan Budi Angkasa.
Menurut gubernur, peran strategis sebagai lumbung ternak nasional tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1990. Terutama untuk komoditas ternak ruminansia (sapi dan kambing) dan ternak unggas (ayam broiler dan petelur).
Peranan tersebut terlihat dari penyediaan kesempatan kerja dan berusaha, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan peternak, peningkatan populasi ternak, peningkatan PDRB, serta peningkatan konsumsi protein hewani (daging, susu, dan telur) dalam rangka peningkatan kecerdasan bangsa.
Seperti Cendananews.com lansir dari bagian Humas dan Protokol Provinsi Lampung, Gubernur Ridho menyebutkan konstribusi subsektor peternakan mulai dari hulu hingga hilir. Sebagai gambaran, pada tahun 2014 populasi sapi, kambing, dan ayam pedaging meningkat dari 700 ribu ekor, menjadi 1,3 juta ekor, dan 31 juta ekor.
Gubernur mengharapkan, forum ini menghasilkan kesepakatan untuk penajaman, penyelarasan, klarifikasi, dan penyempurnaan terhadap rancangan rencana program/kegiatan tahun 2016.
Sapi PO di Lampung Selatan
Sementara itu dari data yang dihimpun Cendananews.com, salah satu pusat pengembangan peternakan sapi wilayah Lampung berada di Kabupaten Lampung Selatan.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan terus berupaya dan bertekad untuk meningkatkan populasi ternak sapi jenis PO dalam rangka menjadikan daerah itu sebagai salah satu lumbung ternak sapi di Indonesia.
Lampung Selatan juga telah menjadi daerah percontohan pusat pembibitan sapi PO oleh Kementerian Pertanian. Bupati Lampung Selatan mengatakan sapi PO pada tahun 2011 menduduki urutan pertama sebanyak 77,70 persen, atau 84.398 ekor dari total populasi sapi di daerah itu sebanyak 108.615 ekor dan populasi tahun 2012 sebanyak 90.054 ekor. Lampung Selatan sangat mengidolakan sapi PO karena sebagian besar penduduk berasal dari Jawa. Disamping itu masyarakat juga lebih menyukai sapi yang di kawinkan dengan bangsa yang sejenis.
Keunggulan sapi PO yaitu : 1) memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan (pakan, iklim) yang kurang baik; 2) memiliki resistensi (daya tahan) yang baik terhadap penyakit; 3) memiliki daya reproduksi yang baik; 4) pertumbuhan relative cepat; 5) sapi tipe dwiguna (penghasil daging dan ternak pekerja); 5) sudah terbiasa dibudidayakan oleh para peternak pada umumnya; 6) presentase karkas (45,26 %) dan kualitas daging baik; dan 7) mudah perawatannya dan mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Dalam rangka pelestarian plasma nutfah sapi potong di Lampung Selatan membuat program aksi pelestarian dan pengembangan sapi PO yang nantinya harus mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para peternak dengan suatu misi industri biologis yakni (1) aspek ternak, ternak di tingkatkan populasi dan mutunya ; (2) aspek peternak, peternak dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya ; (3) aspek lahan, lahan dioptimalkan pemanfaatannya sebagai basis ekologi ternak dan sumber pakan ; dan (4) aspek teknologi, yang dapat diaplikasikan sebagai alat untuk meningkatkan produksi dan efisiensi usaha.
Upaya peningkatan efisiensi, biaya produksi usaha dan produktivitas ternak dalam rangka pelestarian sapi PO di Lampung Selatan melalui teknologi inseminasi buatan (IB) yang dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan keturunan yang lebih baik dengan penggunaan semen dari pejantan unggul, embrio transfer (ET) dan peningkatan kualitas pakan melalui pengolahan dan pemanfaatan limbah bahan pertanian dan perkebunan.