Warga Kalirejo Manfaatkan Biogas untuk Memasak

CENDANANEWS – Keterbatasan akan energi di desa yang ditinggalinya  menggerakkan hati Kliwon (34) untuk memanfaatkan kotoran ternak sapi yang ada di desanya menjadi energi untuk kehidupan sehari hari. Awalnya Kliwon melihat kotoran sapi dari peternakan warga di Desa Watu Agung Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung hanya terbuang dan tak dimanfaatkan.
Berbekal keinginan dan niat untuk memperoleh energi alternatif, Kliwon akhirnya membuat instalasi sederhana untuk mimpinya tersebut. Kliwon yang memiliki sekitar 4 ekor sapi mengaku membuat penampungan kotoran sapi baik air seni maupun tinja ke dalam bak penampungan khusus di pekarangan miliknya.
Ia mengaku setelah membuat instalasi tersebut mulai membuat alat untuk menyalurkan biogas yang sudah jadi ke rumahnya. Biogas yang dibuat akhirnya disalurkan ke kompor gas yang ada di dapur dan untuk penerangan.
“Awalnya untuk skala rumahan pribadi dan beruntung pihak pemerintah melalui dinas pertambangan Lampung Tengah ikut mendukung sehingga awal tahun ini pada bulan Januari ada bantuan untuk menyempurnakan instalasi ini,” ujar Kliwon kepada Cendananews.com Selasa (10/3/2015).
Menurut Kliwon, manfaat kotoran sapi tersebut bisa dimanfaatkan untuk pupuk baik pupuk organik maupun cair dengan proses yang sudah dipelajarinya.
Ia juga mengaku perlu adanya sosialisasi untuk memperkenalkan sistem gas yang menafaatkan biogas dari kotoran sapi. Bahkan dukungan pemerintah terasa dengan diberikannya bantuan sekitar 10 kompor gas untuk warga yang berada di sekitarnya.
“Sementara masih tahap kebutuhan rumahan karena kotoran sapi yang dihasilkan masih terbat sehingga hanya bisa untuk masak dan untuk lampu penerangan,” ujar Kliwon.
Senada dengan Kliwon, salah seorang warga yang tertarik mengaplikasikan biogas tersebut, Teguh Singgih (31) mengatakan tertarik untuk mempelajarinya dan ingin ikut membuat instalasi biogas juga di Desa Kaliwungu tempatnya tinggal.
Kliwon juga Teguh Singgih berharap ke depan biogas yang dihasilkan bisa dikemas layaknya gas elpiji yang saat ini dipasarkan. Pengemasan tersebut diharapkan akan memberi nilai tambah bagi desa setempat serta bagi warga yang memanfaatkan limbah kotoran sapi.
Kliwon melihat potensi yang ada di desanya berupa ternak sapi yang rata rata dimiliki oleh tetangganya sehingga ke depan ia ingin membentuk kelompok untuk proses pembuatan biogas yang akan bermanfaat untuk kepentingan bersama.
Berdasarkan data yang diperoleh cendananews, pembuatan biogas merupakan proses pengolahan kotoran sapi yang banyak diternak oleh masyarakat pedesaan. Seperti halnya penjelasan Kliwon dan Teguh, berikut proses pembuatan biogas yang sudah dilakukan di desa mereka:
Cara Membuat Biogas Dari Kotoran Sapi. Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari dekomposisi anaerobik dengan bantuan mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dalam keadaan anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.
Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55 C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan bahan organik secara optimal. 
Tahapan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi.
Setelah peralatan digester selesai dipasang maka selanjutnya adalah tahapan pembuatan biogas dari kotoran sampi dengan cara sebagai berikut :
Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Pada saat pengadukan sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan dilakukan hingga terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di alirkan ke digester. Pada pengisian pertama digester harus di isi sampai  penuh.
Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 – 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10 sedangkan pada hari ke -1 sampai ke – 8 gas yang terbentuk adalah CO2. Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27% maka biogas akan menyala.
Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak penampungan kompos. Kompos cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika ingin di kemas dalam karung maka kompos harus di keringkan.

———————————————————-
Selasa, 10 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto     : Dokumen Teguh Singgih Widodo
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...