Enam Belas Tahun Presiden Soeharto Wafat

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

Sayup-sayup terdengar suara TV bersahut-sahutan. Dari rumah-rumah di gang-gang sempit belakang Polsek Matraman Jakarta. TV disetel agak keras. Menyebut-nyebut nama Pak Harto. Terdengar pula suara anak-anak usia SD berlarian. Berteriak-teriak. ‘Pak Harto wafat…, Pak Harto wafat…, Pak Harto wafat…’. Tidak lama kemudian suasana menjadi hening”.

Begitu tulis buku “Presiden Soeharto dan Visi Kenusantaraan”. Menarasikan respon masyarakat mendengar Presiden Soeharto wafat.

Deru mobil di jalan sebelah Polsek Matraman Jakarta biasanya rame. Kini terdengar seperti berhenti bersuara. Celoteh orang dan suara hiruk pikuk di kawasan itu seakan ikut berhenti bicara. Beberapa saat suasananya sunyi senyap. Layaknya sidem kayon. Seperti pukul 3.00 WIB dini hari. Di dalam hutan. Penghuni alam seakan turut berduka.”

“Saya sempatkan keluar gang. Memandangi situasi sekitar. Terpantul wajah-wajah warga seperti sedang memperoleh kabar kematian saudara dekatnya. Berita TV menjadi kabar lelayu. Kabar duka. Sejenak kemudian suasana duka menyelimuti wajah-wajah mereka. Wajah-wajah menyiratkan suasana kehilangan kerabat dekat.”

Itulah rekaman buku itu. Mengisahkan suasana Persiden Soeharto wafat. Minggu 27 Januari 2008. Enam belas tahun lalu.

Era itu belum ada medsos. Era blog. Publik biasanya membuat komentar-komentar di kolom berita. Dodi KL misalnya. Menulis puisi di kompas.co.id. Selasa 29 Januari 2008.

Ini puisinya :

 

UNTUKMU PAK HARTO
Dody KL- Oebobo Kota Kupang – NTT

Aku mengagumimu bukan karena Kau berjaya
Aku mengagumimu bahkan ketika Kau hancur
Diamuk massa yang Kau besarkan
Digilas demokrasi yang Kau ciptakan

Aku mengagumimu di tengah cacian dan hujatan
Aku mengagumimu di tengah kecewa yang meledakkan amarah
Ketika orang-orang yang kau besarkan balik menyerangmu
Yang menuntut agar kau dipasung oleh aturan yang pernah kau buat
Yang menuntut agar kau dibui di penjara yang kau bangun

Dan ketika orang-orang ramai bicara tentang sisi kelammu
Aku tetap bertahan mengenang masa emasmu
Ketika aku tak perlu makan beras impor
Ketika aku tak perlu mengantri untuk seliter minyak tanah
Ketika aku tak perlu berpikir tentang mahalnya harga sembako
Ketika seribu rupiahku mampu membayar setahun uang sekolah.

Di saat ini,
Ternyata masih ada orang-orang yang belum bisa memaafkan engkau Tuan…
Entah sebab apa,
Mungkin karena dulu semeter tanahnya pernah kau rampas
Untuk membangun Cirata, Darma, Jatiluhur, Gajah Mungkur, Karangkates
Mungkin karena kau tak memberi mereka kursi empuk, dulu…
Entah sebab apa

Saat ini…
Hanya doa bisa aku beri
Agar kau diberi jalan terbaik
Satu hal yang pasti
Aku tetap mengagumimu.

 

Nana. Dalam blog yang sama. Mengungkapkan simpatinya :

 

DI UJUNG WAKTU
Nana, 27-Jan-2008

Sayup terdengar senandung lagu Gugur Bunga
Semerbak melati putih wangi menebar duka
Mendung menyelimuti langit temaran
Mengiringi sang putra terbaik
Tuk kembali ke pangkuan Ilahi

32 tahun perjalanan bangsa
Dari putra terbaik Indonesia
Banyak cerita mengalir sepanjang sejarah
Dari dinding-dinding istana
Hingga rakyat jelata

Ada tawa bahagia, ada air mata
Ada suka cita, ada duka cita
Ada keberhasilan, ada keterpurukan
Ada harapan, ada kebimbangan

Biarlah sejarah menjadi cerita
Tak ada gading yang tak retak
Kesempurnaan hanya milik Tuhan
Indonesia tetap melangkah
Selamat jalan Bapak Pembangunan

Senyumanmu kini tlah tiada
Teriring doa dari anak bangsa
Menuju haribaan Sang Pencipta

Komentar-komentar pendek sangat banyak. Diabadikan dalam buku “Presiden Soeharto dan Visi Kenusantaraan” itu. Termasuk ungkapan simpati Uskup Bello, Timor Timur.

Wafatnya Presiden Soeharto seakan membungkam stigma dan tudingan negatif terhadapnya. Otoriter, KKN dan beragam opini negatif lainnya. Tudingan itu digelontorkan melalui berbagai media. Selama satu dekade pasca berhenti sebagai Presiden. Tudingan itu tidak bisa menghalangi kecintaan publik kepada Presiden Soeharto. Ledakan komentar duka dan simati melalui blog itu sebagai bukti. Menggeser gelombang tudingan negatif.

Kini 16 tahun sudah berlalu dari wafatnya. Berbagai tudingan tidak terbukti. Tidak ada putus pengadilan menyatakan bersalah. Bangsa ini harus membersihkan namanya. Ia pejuang tiga generasi. Revolusi fisik, orde lama, orde baru.

Bangsa ini harus belajar menghargai perjuangan para pendahulunya. Jangan sampai terjerat tabiat kekurangajaran. Tabiat itu bisa menyandera bangsa ini dari bergerak untuk maju.

Status Pahlawan Nasional mungkin tidak cukup. Jasa Presiden Soeharto lebih kompleks dibanding para penerima gelar pahlawan.

Jika diberikan, seetidaknya gear itu bisa menjadi penebus dosa generasi bangsa ini. Atas kekurangajaran terhadapnya selama ini.

ARS (rohmanfth@gmail.com), Jakarta, 25-01-2025

Lihat juga...