NEGATIVE FRAMMING UNTUK PRABOWO, EFEKTIF?

Oleh: Abdul Rohman Sukardi

Seberapa efektifkah framming negatif, atau pembingkaian berita/ kisah negatif terkait paslon 02?. Jika menilik beragam survei, bingkai negatif itu tidak berpengaruh terhadap trend elektoralnya yang justru semakin melonjak.

Apa saja framming negatif terhadap Prabowo itu. Kita cari beberapa dari yang paling kuat saja.

Pertama, framming sebagai sosok ambisius. Sudah berkali-kali mencalonan, gagal. Kenapa masih mau mencalonkan. Kenapa ndak mundur saja. Begitu kata sejumlah hatter-nya.

Enteng saja Prabowo menjawab framming itu. Di sejumah podcast ia menekankan sudut pandangnya. Ia di didik sebagai Saptamargais. Termasuk di dalamnya harus setia dan membela Pancasila.

Maka ketika tersedia kesempatan berjuang untuk negara, itu maknanya panggilan perjuangan. Pantang bagi prajurit untuk lari dari medan perjuangan. Masuk akal juga kan argumentasinya?.

Faktanya ia bukan saja memimpin, akan tetapi juga memiliki partai. Karena partai itu ia bangun dari bawah. Tidak banyak orang yang dipercaya rakyat membuat dan memiliki partai dengan dukungan yang relatif besar.

Banyak orang membangun partai tapi gagal. Atau kecil saja jumlah dukungan rakyat yang di dapat.

Ujung perjuangan kepartaian adalah kontestasi kepemimpinan nasional. Untuk menyumbangkan sumberdaya yang dimilikinya bagi kepentingan bangsa.

Elektabilitas Prabowo juga tinggi. Termasuk tiga besar tertinggi pada awal-awal pencalonan. Bahkan terbukti kini terus menanjak.

Kepemilikan kendaraan politik dan tingginya elektoral merupakan tanda panggilan rakyat. Maka pantang untuk menghindar dari arena perjuangan politik. Walau harus kalah berkali-kali.

Sikap pantang menyerah memenuhi panggilan rakyat itu di framming oleh para hatters-nya sebagai ambisius.

Kedua, framming sebagai tua dan pesakitan. Prabowo sudah berusia di atas 70 tahun. Oleh hatters-nya di framing sebagai sudah tua dan kelelahan. Dikesankan tidak akan efektif lagi melakukan aktifitas berat.

Para hatters melupakan Presiden Joe Bidden, Donald Trump, juga usia tua ketika menjabat sebagai presiden. Setelah AS dipimpin presiden muda, Barack Obama.

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad menjabat lagi juga sudah usia lanjut. Bahkan sudah di atas 90 tahun.

Usia tidak menghalangi masa emas karir seseorang. Juga kontribusi cemerlang terhadap kehidupan sebuah bangsa. Atau kontribusinya pada kemanusiaan.

Para hatters juga lupa, Prabowo didikan militer. Olah tubuhnya relatif terjaga. Walau usia sudah tua. Kebugarannya terus diolah sepanjang waktu.

Ketiga, sebagai sakit-sakitan. Selain sudah tua, Prabowo digambarkan sakit-sakitan. Tidak akan optimal lagi melakukan tugasnya.

Para hatters-nya lupa, dua pemimpin penentu kemenangan Perang Dunia Kedua (PD II) bukan hanya sudah tua. Tapi juga sedang sakit.

Ialah Churcil Inggris yang mengidap penyakit jantung. Juga Dwight D. Eisenhower (AS) menderita polio. Tidak bisa bergerak kecuali dengan kursi roda.

Kepemimpinan adalah soal visi dan kemampuan menggerakkan seluruh potensi yang ada. Untuk sebesar-besarnya pencapaian tujuan. Jadi bukan aktivitas fisik semata.

Menjawab framing itu, Prabowo sering berjoged-joged. Sering berlari-lari kecil dalam sebuah acara.

Menunjukan bahwa ia bisa bekerja. Ia pernah sakit, tapi masih efektif bekerja.

Seperti Vladimir Putin ketika menunjukkan pada publik ia berolah raga memperkuat masa otot. Masih sehat. Begitulah pesannya.

Keempat, pemarah. Ia digambarkan sebagai pemarah. Emosional. Susah mengontrol diri.

Itulah kata hatter-nya. Prabowo memang suka berapi-api. Bersikap patriotik. Sebagai pantulan karakter sosok militernya.

Maka setiap momen Prabowo terlalu berapi-api, di framming sebagai tidak mampu mengontrol diri.

Tentu framing-framming lainnya masih banyak. Empat itu saja kita jadikan contoh. Semuanya dieksploitasi sebagai kelemahan Prabowo.

Tapi kenapa framming itu tidak bisa menahan laju elektabilitasnya? Kita tunggu saja pilpres dilaksanakan. Apakah Prabowo akan memenangkan kontestasi kali ini?.

Apa para pembuat framming itu akan berubah haluan sebagai pemuja Prabowo di kelak kemudian hari. Akan kita ketahui tidak lama lagi

ARS, (05-02-2024)

Lihat juga...