SD Inpres Berbuah Hadiah Nobel

Oleh: Noor Johan Nuh

Noor Johan Nuh

Namanya Alfed Nobel, lahir 21 Oktober 1833 di Stockholm, Swedia.

Penemu “dinamit” ini galau karena temuannya dijadikan alat utama persenjataan perang saat itu.

Temuaannya dijadikan alat pembunuh massal.

Nobel mengkhawatirkan akan dikenang sebagai penemu “Alat Pembunuh Massal”, dan akan diingat sebagai “Bapak Pembunuh Massal.”

Tapi semua menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat.

Menjelang ajal menjemput, Nobel membuat wasiat yaitu mewariskan sebagian besar kekayaannya untuk diberikan kepada pemenang berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Penghargaan tertinggi tingkat dunia itu dikenal dengan nama; “Hadiah Nobel.”

Kekhawatirannya akan dikenang sebagai “Bapak Pembunuh Massal” tidak terjadi, malah sebaliknya, Hadiah Nobel menjadi idaman para cendikiawan berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia.

Awal tahun 2000, tiga ekonom Amerika yaitu Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer, melakukan penelitian tentang pembangunan Sekolah Dasar berdasarkan Instruksi Presiden atau SD Inpres.

SD Inpres adalah program pembangunan gedung Sekolah Dasar yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto dengan Inpres no 10 tahun 1973.

Sampai tahun 1978, tidak kurang dari 61 ribu SD Inpres berhasil dibangun.

Atas keberhasilan membangun SD Inpres yang bertujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa”—sesuai perintah mukadimah UUD 1945—tanggal 19 Juni 1993, Presiden Soeharto dianugerahi Avicenna Medals dari UNESCO.

Sedangkan tiga ekonom Amerika yang meneliti SD Inpres tersebut, mempublikasi hasil penelitiannya pada Agustus 2000, diberi judul; “Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia—Avidence From an Anusual Policy Experiment”.

(Konsekuensi Sekolah dan Pasar Tenaga Kerja Dari Pembangunan Sekolah di Indonesia—Bukti Dari Eksperimen Kebijakan Yang Luar Biasa).

Ketiganya meneliti realitas yang terjadi di Indonesia dalam bidang pendidikan sejak tahun 1973 sampai tahun 1978.

Hasilnya, ketiga ekonom Amerika ini menyimpulkan bahwa SD Inpres adalah Eksperimen Kebijakan Yang Luar Biasa. Satu pengakuaan sekaligus apresiasi dari akademisi Amerika yang tidak pernah terucap dari mulut para intelektual di Indonesia.

Dari penelitian itu, dipetakan bahwa SD Inpres dibangun untuk anak-anak dari masyarakat miskin yang berada di daerah terpencil, sementara untuk daerah perkotaan, SD Inpres dibangun di kawasan yang berpenghasilan rendah.

Penelitian yang mereka lakukan berbasis desain eksperimen secara komprehensif—disimpulkan bahwa SD Inpres berhasil mengurangi kemiskinan secara massif di Indonesia.

Berbeda dari kebanyakan peneliti yang melihat masalah kemiskinan secara luas, ketiga ekonom Amerika ini fokus pada isu yang lebih spesifik yaitu pendidikan pada masyarakat miskin, dan dampaknya dalam meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia.

Disimpulkan bahwa kebijakan SD Inpres berhasil meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, dan berpengaruh langsung dengan pertumbuhan ekonomi secara makro karena naiknya pendapatan perkapita.

Tidak banyak diberitakan di media-massa di Indonesia bahwa hasil penelitian ketiga ekonom Amerika tentang SD Inpres, berbuah hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019.

Sangat disayangkan, mengapa “eksperimen kebijakan yang luar biasa” tentang SD Inpres yang melakukan penelitian malah para ekonom asing!

Hadiah Nobel adalah penghargaan internasional tertinggi yang sampai saat ini—78 tahun merdeka— tidak satu pun orang Indonesia yang dapat meraihnya.

Sejatinya tidak saja mengenai SD Inpres yang mendapat penghargaan “Avicenna Medals” dari UNESCO, Presiden Soeharto juga menerima beberapa penghargaan internasioanal lainnya yaitu;

1. “United Nation Population Award” dari PBB atas keberhasilan mengendalikan pertumbuhan penduduk atau Keluarga Berencana.
2. “Health For All Golden Medal Award” dari WHO, atas keberhasilan melaksanakan program pembangunan kesehatan yaitu pembangunan Puskesmas dan Posyandu.
3. “Penghargaan Internasional” dari UNDP atas keberhasilan mengentaskan kemiskinan dalam program Inpres Desa Tertinggal.
4. “From Rice Importer to Self Sufficiency” dari FAO atas keberhasilan mencapai swasembada beras dari sebelumnya sebagai negara pengimpor beras terbesar di dunia.

Dari berbagai penghargaan kepada Presiden Soeharto tersebut, adakah ilmuan Indonesia yang berminat melakukan penelitian?

Atau kita tunggu kembali orang asing meneliti karya Pak Harto!

Lihat juga...