
YOGYAKARTA Cendana News — Sejumlah mahasiswa asal sejumlah kabupaten di propinsi Papua menggelar acara silaturahim dan buka bersama bertempat di Baku Dapa Cafe, yang terletak di kawasan Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, belum lama ini.
Para mahasiswa yang selama ini kuliah dan tinggal di Yogyakarta ini antara lain berasal dari Kabupaten Fak Fak, kabupaten Serui, kabupaten Kaimana, Kabupaten Raja Ampat, dan kabupaten Yapen, Papua.
Meski tak semuanya beragama Muslim, mereka nampak akrab dan berbaur satu sama lain. Selain buka bersama, mereka juga menggelar sharing dan diskusi santai tentang pengalaman hidup mereka di kampung halaman.
Salah seorang mahasiswa asal Kabupaten Kaimana, Rahman Saleh Werpai, mengaku sangat gembira dan antusias mengikuti kegiatan ini. Menurutnya hal semacam ini dapat menjadi ajang untuk belajar banyak hal, termasuk diantaranya belajar berbaur dengan masyarakat lain yang terdiri dari berbagai macam suku ras agama.
“Lewat kegiatan ini pertama kita bisa saling mengenal satu sama lain. Selain itu kita juga bisa menunjukkan pada masyarakat di luar Papua, bahwa kita juga selalu menujung tinggi toleransi. Sehingga diharapkan mereka dapat menerima kami. Seperti halnya kami menerima masyarakat luar Papua untuk tinggal di Papua,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga berharap ke depan kegiatan semacam ini dapat kembali digelar. Yakni dengan melibatkan masyarakat umum di luar Papua, sehingga memberikan dampak yang lebih luas.
“Harapannya ke depan bisa melibatkan masyarakat umum. Agar masyarakat diluar juga tahu bahwa kita selama ini juga selalu menjunjung tinggi toleransi. Dengan begitu kita tidak gampang diadu domba,” ungkapnya.
Yang menarik dalam diskusi itu, sejumlah mahasiswa nampak menceritakan pengalaman hidup di kampung halaman mereka Papua. Dimana selama ini mereka sudah terbiasa dan akrab bergaul dengan masyarakat yang majemuk. Baik itu berbeda suku ras dan agama.
“Toleransi di kampung asal kami itu sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Disana kita umat Muslim biasa berbagi hasil kebun saat hari besar keagamaan umat Nasrani. Sebaliknya saat Ramadhan, umat Nasrani juga biasa ikut bantu bersihkan masjid atau bangunkan sahur bagi warga muslim. Tapi selama ini tidak banyak yang tahu,” ungkapnya.

Sebelum mengikuti acara buka bersama ini, sejumlah mahasiswa sendiri menyelenggarakan kegiatan pembagian takjil gratis di sejumlah titik keramaian pusat kota Yogyakarta.
Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka nampak kompak melakukan kegiatan pembagian takjil gratis bagi warga Yogyakarta yang beragama muslim.
Baik itu di kawasan Tugu Yogyakarta, simpang empat Gejayan, simpang tiga Janti, lampu merah UIN Sunan Kalijaga, kawasan APMD, XT Square hingga simpang empat UPN Condongcatur.
Salah seorang mahasiswa,
Demi Maniburi, yang merupakan ketua paguyuban/komunitas mahasiswa asal kabupaten Waropen Papua, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama. Khususnya antara mahasiswa Papua dan masyarakat lain yang ada di Yogyakarta.
“Kegiatan ini kita gelar dengan niat tulus kami untuk berbagi dengan teman-teman yang ada di Jogja. Agar toleransi beragama bisa terjalin dan terjaga dengan baik. Karena hal semacam ini yang semestinya harus kita jaga dan junjung bersama,” katanya.