1.600 Warga Trirenggo Terima Manfaat Program Modal Kita
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA, Cendana News – Program pemberian pinjaman usaha “Modal Kita” yang dijalankan Yayasan Damandiri sejak 2017 lalu diakui mampu memberikan manfaat luar biasa bagi warga miskin/kurang mampu di desa Trirenggo Bantul.
Pasalnya selama lima tahun terakhir, tercatat ada lebih dari 1.600 warga miskin/kurang mampu di desa Trirenggo telah menerima manfaat program pinjaman tersebut.
Meski begitu, program yang hingga saat ini telah memiliki guliran dana mencapai Rp3,2 milyar ini dinilai akan lebih maksimal dalam menggerakkan perekonomian desa, jika setiap kelompok di sejumlah dusun diberikan kewenangan dalam mendampingi setiap anggota untuk memulai usaha.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang penggerak koperasi, serta tokoh masyarakat di wilayah Padukuhan Dowaluh, desa Trirenggo, yang juga merupakan ketua Kelompok Unit “Modal Kita” Maju Lancar, Saptono, kepada Cendananews belum lama ini.
Saptono menilai selama ini pinjaman modal usaha senilai kurang lebih Rp2-3juta per orang itu diberikan pada setiap anggota, tanpa disertai pendampingan secara masif oleh pihak Koperasi Gemah Ripah selalu pelaksana program di desa Trirenggo.
Hal ini mengakibatkan sejumlah anggota yang telah menerima manfaat, kurang bisa mengelola modal usaha tersebut. Yang pada akhirnya justru membuat mereka terjerumus menggunakan pinjaman modal itu untuk keperluan konsumtif.
“Mayoritas anggota penerima pinjaman ini kan warga miskin/kurang mampu. Sehingga kadang mereka kesulitan untuk memulai usaha jika tidak diberikan pendampingan. Akibatnya tak sedikit yang mengalami kredit macet. Apalagi dengan adanya pandemi 2 tahun terakhir ini,” bebernya.
Atas dasar itulah, Saptono, mendorong agar setiap kelompok di masing-masing padukuhan diberikan kewenangan dan keleluasaan dalam mendampingi serta mengarahkan pemanfaatan pinjaman modal usaha bagi setiap anggotanya masing-masing.
Misalnya dengan mendorong pendirian usaha bersama yang berisikan gabungan 5-10 orang anggota. Yakni dengan memanfaatkan akumulasi pinjaman modal usaha dari seluruh anggota sub kelompok tersebut.
“Dengan sistem ini, modal usaha yang terkumpul akan lebih besar. Jika setiap anggota diberikan plafon pinjaman masing-masing Rp2 juta saja. Maka gabungan modal dari 5 orang anggota sudah mencapai Rp10 juta. Sehingga cukup lah untuk memulai usaha yang potensial untuk bisa berkembang. Kalau modal awal hanya Rp2 juta tentu sulit,” katanya.
Selain setiap ketua kelompok diberikan kewenangan mendampingi/mengarahkan pemanfaatan modal usaha, Saptono, menilai, pihak Koperasi Gemah Ripah juga harus aktif mendukung kegiatan usaha setiap sub kelompok di masing-masing dusun. Sehingga terjadi kolaborasi antar semua pihak.
“Kalau kita sudah berhasil mendong anggota untuk mendirikan usaha, misalnya usaha pembuatan produk kerajinan. Maka pengurus koperasi mestinya juga aktif untuk ikut memasarkan produk kerajinan tersebut. Sehingga usaha anggota benar-benar bisa berkembang,” ungkapnya.