Atasi Hama Codot, Petani Klengkeng Manfaatkan Jaring Penghalau

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Tingginya minat masyarakat terhadap buah klengkeng sejak beberapa tahun terakhir diketahui telah mendorong sejumlah petani untuk mulai menanam dan membudidayakan pohon berbuah manis satu ini.

Salah seorang petani kelengkeng Ngadiono, asal dusun Rogoyudan Sinduadi Mlati Sleman, Senin (7/2/2022). Foto: Jatmika H Kusmargana

Meski tergolong sebagai tanaman mudah berbuah, namun membudidayakan pohon klengkeng ternyata membutuhkan perawatan cukup intensif. Baik itu sebelum masa berbunga, hingga saat pohon sudah memasuki siklus berbunga.

Menurut salah seorang petani kelengkeng Ngadiono, asal dusun Rogoyudan Sinduadi Mlati Sleman, hal yang harus diperhatikan saat awal masa penanaman adalah pemupukan secara rutin. Pemupukan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan pupuk kandang ataupun pupuk kimia dengan sistem semprot/kocor.

“Pemupukan harus dilakukan minimal setiap 3 bulan sekali. Saat sudah berusia sekitar 2,5 tahun bisa dilakukan pem-boster-an, untuk merangsang pohon melakukan pembuahan, sehingga bisa mulai berbunga. Khususnya untuk klengkeng jenis tertentu seperti Kristal atau New Kristal” katanya, belum lama ini.

Setelah pohon mulai berbunga, peratawan secara intensif harus terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan obat perangsang untuk mencegah bunga mengalami kerontokan.

“Selain itu, untuk meminimalisir serangan hama seperti serangga atau codot, calon buah harus dibrongsong. Jika perlu di sekeliling lahan juga ditaruh jaring untuk menghalau hama codot yang biasa memakan buah klengkeng,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman Ngadiono, pemanfaatan jaring yang dipasang di sekeliling lahan ini cukup efektif dalam meminimalisir serangan hama codot. Pasalnya codot yang hendak menyerang buah, akan terperangkap dan mati di sekitar jaring penghalau.

“Jaring ini dipasang di sekeliling lahan dengan ketinggian sekitar 3 meter. Jenis jaring bisa menggunakan ukuran sedang, yang penting hama codot tidak bisa masuk/tembus. Cara ini bisa mengurangi serangan hama codot hingga 80 persen lebih,” ungkapnya.

Ngadiono sendiri selama ini bertanggungjawab mengurus dan merawat sekitar 108 tanaman klengkeng yang ditanam di lahan seluas kurang lebih 3000 meter persegi. Menerapkan sistem bedeng dengan jarak tanam 5×5 meter, Ngadiono mengaku telah bisa memanen klengkeng jenis Kristal pada usia 2,5 tahun.

Satu buah pohon klengkeng setinggi sekitar 1,5 – 2 meter sendiri diketahui mampu menghasilkan hingga mencapai 20 kilogram klengkeng. Dari awal muncul bunga, buah klengkeng akan mulai matang pada usia 7 bulan. Yakni dengan harga jual sekitar Rp35ribu per kilo.

Lihat juga...